Sabtu, 12 September 2020

Sama-sama kehabisan ide

Gara gara tulisan saya dibaca istri, akhirnya  kami makan di luar. Saya menuliskan untuk  penulis yang kehabisan ide, salah  satunya adalah pergi ke luar kota bersama orang orang yang disayangi dan dicintai.
"Mas ayo kita makan di luar", sapa istri saya menghampiri  ketika saya  sedang asyik menulis.
"Lha kenapa?" Tanyaku kepo. 
"Saya benar-benar  kehabisan ide  untuk  memasak". Argumentasinya  sambil membenarkan posisi  jilbabnya  yang sebenarny sudah rapi. 

"Saya tadi membaca  artikelmu,  katanya kalau kehabisan ide  suruh pergi ke luar kota bersama  orang-orang  yang disayangi dan yang dicintai." Lanjut  dia. 

"Iya deh, " wah ini senjata makan tuan, gumamku dalam hati  sambil  senyum  senyum. Sebenarnya  apa yang saya tuliskan itu  untuk  seorang penulis, bukan seorang ibu yang kehabisan ide memasak. 

Tidak lama kemudian kami  sudah siap  bertiga di mobil  Phanter  lawas  keluaran pabrik tahun 2002 itu. Biarlah lawas, yang penting tidak macet, setia mengantarkan kami  kemanapun  kami pergi dengan selamat. 

Hari ini hanya bertiga, saya, nyonya dan si kecil, Hindun mamanya. Karena anak  saya yang pertama  pergi  ke Trenggalek  untuk  menyiapkan  pernikahannya. Rencananya nanti tepat  bersamaan  dengan   hari jadi Kabupaten Magetan yang ke 345, yaitu taggal 12 Oktober 2020, akan dilangsungkan pernikahan dengan gadis pilihannya, Intan namanya. 

"Jlalah kersaning Ngalah" , juga bersamaan dengan HUT  sekolahku  dimana aku bertugas,  SMP N 1 Takeran. Ya Allah punya gawe  kok ya bersamaan. Ya,  tidak apa-apa  malah  bisa jadi  "pengeling eling"(pengingat) bahwa pernikahanya  bersamaan  dengan HUT  Kabupaten  Magetan  yang ke 345. "Jlalah" lagi  angkanya  kok ya runtut  345. Semoga  pernikahnya  "tansah atut  runtut  reruntungan wiwit alam donya nganti tekan delahan".(selalu  hidup rukun,  bersatu padu, mulai dunia hingga akherat ).

"Sudah, silahkan  kamu pingin makan apa", sapaku pada si kecil. 
"Gurami bi, sama cha kangkung,  sama urapan", jawabnya sambil  memegang pulpen dan daftar pesanan.
" Iya, tulis saja , dan serahkan pada mbak e itu", Telunjuk  saya menuding  pada wanita muda  yang berdiri disebelah  sana.
"Minumnya apa bi?
"Aq suka jus alpokat,  tapi gak pake es."   
"Aku suka jeruk hangat  saja, kamu suka apa?" Sambung Ibunya, sambil jemari tanganya utak utik  di telfon genggamnya. 
"Aku juga jeruk hangat  saja." Jawab sikecil sambil menuliskan daftar pesanan.

Tak lama kemudian  pesanan  minumanya  sudah diantar, bersamaan dengan para seniman muda menghibur kami dengan lagu  yang  aq tak tahu judulnya.
Biasanya  yang seperti  ini tidak ada,  tapi  karena covid-19 , akhirnya  para seniman tidak bisa manggung  ditempat  hajatan, lantas ngamen dimana saja yang bisa dilakukan. 

Satu lagu berakhir,  pesanan  makanan lengkap sudah dihidangkan  dimeja, kami menikmati sajian ini sebagai variasi di akhir  pekan kami.
Sambil makan aku berpesan pada si kecil, "besuk kamu kalau kuliah di mana saja, kamu harus bisa hidup mandiri, jadilah pribadi yang mandiri, disiplin, jujur dan  bertanggung jawab. Abi hanya bisa memantau kamu dari jauh", terang saya sambil menerawang jauh, seoalah olah ditinggal merantau di negeri jauh oleh anak gadis yang saya sayangi,  untuk menimba ilmu.

"Bunda  Titik,  bu Bupati itu berharap pada anak muda Magetan  bisa menjadi "citizen of the World". Jadi warga dunia. Tidak  hanya menjadi warga negara Indonesia, tetapi warga dunia yang baik. Artinya dimana saja kamu  berada,  kamu bisa hidup bersama. Di mana bumi dipijak, di situ langit  dijunjung", lanjut  saya.
"Iya bi, insyaAllah ", jawab dia singkat.
Tak terasa apa yang di depan kami sudah tinggal tulang belulang, pertanda kami sudah kenyang, saatnya harus pulang.

Demikian,  cerita diatas  adalah contoh nyata  apa yang bisa dilakukan penulis saat kehabisan  ide. Untuk  seorang  penulis tak akan kehabisan ide,  ide seorang penulis hebat,  seperti air sumur zam- zam yang tak akann pernah kehabisan sumber airnya. Walaupun orang seluruh penjuru  dunia datang mengambil dan meminumnya.

Magetan,  12 September  2020.






11 komentar:

  1. Kehabisan Ide dalam Menulis.

    Kehabisan ide seringkali menurunkan semangat untuk menulis. Begitulah seorang sahabat guru menuliskan.

    Bagi saya apa yang dirasakannya benar sekali. Sebab saya juga merasakannya ketika saya mulai kehabisan ide dalam menulis.

    Rasanya malas banget untuk menulis. Apalagi seabrek kegiatan ada di depan mata. Belum lagi ditambah dengan masalah anak yang sakit.

    Seperti malam ini. Harus antar anak bungsu ke Dokter umum. Sebagai ayah siaga, saya harus siap antar jaga.

    Mata Berlian sakit katanya. Jadi kami bawalah ke klinik 24 jam. Alhamdulillah dokternya ada dan dikasih obat mata.

    Pulang dari dokter klinik 24 jam, istri minta langsung ke GS supermarket untuk belanja persediaan menghadapi PSBB. Jadilah saya ternak teri hari ini. Anter anak, antar istri, hihihi.

    Ide menulis sudah habis. Tapi masih juga bisa menulis. Tak tega melihat anak menangis. Dari hidungnya yang kembang kempis.

    Di dalam mobil saya menulis. Tidak ikut masuk ke Supermarket yang parkirnya gratis. Biarlah anak istri saja yang belanja makanan higenis.

    Setiap kehabisan ide dalam menulis. Jalan jalan adalah obatnya. Setiap kegiatan bisa dituliskan tanpa beban. Sebab menulis sudah menjadi sebuah kebutuhan.

    Blog walking adalah salah satu cara saya lainnya agar tak kehabisan ide dalam menulis. Banyak blog saya kunjungi hari ini. Mulai dari blog siswa sampai guru. Banyak kisah bisa diceritakan.

    Seperti blog pak Suparno yang menulis cerita kehilangan ide dalam menulis. Beliau akhirnya banyak membaca buku. Dari situlah akhirnya ide menulis muncul.

    Begitu juga membaca blog siswa. Mereka menulis tentang algoritma dan videonya. Sangat menarik untuk dibaca. Buat mereka yang mau belajar program tingkat dasar.

    Dimana saja kita bisa menulis. Ide banyak datang di depan mata. Ini hanya masalah kebiasaan saja. Sebab tidak dibutuhkan otak untuk bisa menulis. Anda hanya perlu duduk sebentar dan memainkan jari jemari atau kedua jempol anda untuk menulis di ponsel pintar anda.

    Salam blogger persahabatan

    Omjay
    Guru Blogger Indonesia
    Blog http://wijayalabs.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih Omjay, gara gara menulis kehabisan ide malah bisa menylis tiga judul sekaligus

      Hapus
  2. Wah....senjata makan Tuan deh...tapi baguslah...istri yg cerdik itu memanfaatka situasi dlm kehabisan ide ternyata ide beda tp sama-2 HABIS yg 1. Habis ide utk menulus sesuatu obyek
    2. Habis ide utk membuat menu makanan. Ok sahabat senang sekali sy mendengar cerita keluarga ini...
    Tetap rukun sehat dan dlm RahmatNya. Alah senantiasa memuliakan HambaNya...good luck.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak niken, gara gara kehabisan ide malah bisa menylis 3 judul sekaligus, hehehe

      Hapus
  3. Suatu saat aku jalan jalan pagi sampai di pasar penampungan Magetan. Di situ hiruk pikuk suara para pedangang,jual beli sayur mayur. Pasar itu memang khusus dagangan sayur mayur hasil bumi pertiwi Magetan.

    Dengan di gendongannya yang sangat berat, seorang kuli gendong terlpeleset dan jatuh dengan posisi terbungkuk, seisi sayur dalam karung menimpanya
    "Ee hallah mbok... " Ku hampiri secepatnya, simbok kuli gendong itu, karena tepat selangkah dari aku berada



    Sekilas menulis ikutan klo kehabisan ide. Pak No, benar apa yg kita lihat pasti menjadi ide, seorang penulis,
    Salam kreatif dari Pak De Nata..

    BalasHapus
  4. iya pak De, tingkatkan menuis, itu menulis apa yang dilihat terus menulis apa yang dialami, apa yang dirasakan, apa yang diimpikan, terus menukia fiksi

    BalasHapus
  5. Wahhh kehabisan ide malah memunculkan ide ya Pal

    BalasHapus
  6. iyya bu Is, kalau kehabisan ide senjatanya seperti itu.

    BalasHapus
  7. Kehabisan ide menjadi sumber inspirasi....mantul bapakku iki....

    BalasHapus
  8. nang ndi wae to nduk kok ranate muncul

    BalasHapus