Rabu, 24 Februari 2021

Target Juli Sekolah Tatap Muka

Hari ini saya mulai  masuk  Dinas, suasana agak sepi karena guru-guru  50% WFH. Dan anak anak BDR ( Belajar  Dari Rumah) dengan modal daring.

Suasana agak padang  karena banyak pemangkasan  batang pohon oleh PLN, yang tadinya  rimbun. Dengan tujuan semasa musim penghujan tidak ada pohon tumbang yabg mengenai  kabel  PLN.

Ada angin segar  tentang  KBM tatap muka, insyaallah  Juli  2021 merupakan  target kegiatan  tatap muka  dimulai. 

Saat  ini vaksinasi Covid-19  mulai menyasar guru dan tenaga pendidikan . Targetnya , 5 juta orang selesai di suntik vaksin  pada bulan Juni mendatang ( JP. 25 Februari  2021)

Pak Nadiem mengakui resiko PJJ yang terlalu lama sangat besar,  mulai  dari lost learning  hingga putus sekolah,  karena itu  vaksinasi menjadi angin segar  untuk  bisa  melaksanakan  KBM kembali di sekolah maupun di kampus.

Disamping  itu  menurut  bu Unifah Rosyidi, ketua PGRI,  guru  dan siswa sudah sangat  rindu untuk  melaksanakan pembelajaran  secara  langsung di sekolah. Sehingga  sepakat  dengan harapan mendikbud soal KBM tatap muka  setelah vaksinasi. 

Berkaitan  itu  masyarakat  tentu  menyambut  dengan gembira agar harapan  itu  bisa terwujud  dengan baik. 

Oleh karena  itu kita semua  harus mendukung  program  pemerintah,  terutama pemerintah daerah dalam upaya  penanggulangan  Covid-19.  

Kalau di Magetan  sejak tgl 21 Februari sd. Tanggal 7 Maret 2021 ada gerakan memakai  masker  24 jam. Masker  hanya dilepas saat mandi,  wudhu, dan makan.  Setelah itu  dipakai  lagi.  

Ini adalah  upaya  untuk  memutuskan mata rantai  penularan  Covid-19,  setelah  berbagai  upaya  sebelumnya ternyata  masih  juga menunjukkan  grafik  yang meningkat dari hari ke hari. 

Saya meraskan  sendiri  isolasi mandiri  karena  kena Covid-19,  rasanya  ribet sekali,  biayanya  mahal, belum  kalau  tidak lulus, belum  sangsi sosial  yang diberikan  warga. 

Mestinya  yang terakhir  ini tidak dilakukan,  justru  menyemangati  mereka yang sekarang  sedang terkena, atau sudah sembuh  Sehingga  beraktivitas  kembali  dengan semangat  untuk bekerja   mengisi pembangunan.

Karena virus ini seperti  misterius,  kurang  hati hati apa pak Gubernur  DKI, bu Gubernur  Jatim, dan para pejabat-pejabat  yang lain, pak Bupati Sidoarjo,  tapi juga masih kena. 

Yang penting  kita melaksanakan  protokoler  kesehatan  dengan ketat, kalau sakit  ya diobatai,  diperlakukan  secara manusiawi,  jangan dikecam. Jangan- jangan yang mengecam  suatu  saat juga kena  Covid-19.  Terus mau bilang  apa kalau itu terjadi?

Menurut  saya orang-orang  yang terkena gejala, kemudian  memeriksakan  ke dokter,  kemudian  melakukan swab, dan dengan jujur  mengatakan kepada  orang-orang  di sekelilingnya adalah etikat yang baik,  akhirnya  orang-orang  lain lebih hati-hati,  untuk memakai  masker, jaga jarak dsb.

Karena ada juga warga  masyarakat  yang memiliki  gejala , diobati sendiri, tidak bilang  siapa siapa,  karena takut  disangsi  sosial. 
Yang demikian  ini justru  membahayakan  orang lain.

Saya sejak dinyatakan  Covid-19,  lapor  ke puskesmas,  kemudian  isolasi  mandiri,  pagar  ditutup  rapat.  Bahkan  saya share  di blog mengenai  sakit  saya. 

Alhamdulillah  sudah lulus,  malah saya dapat  imun yang alami,  semoga  nanti nggak usah divaksin. Saya membaca berita seperti itu.  Semoga vaksin segera  terlaksana dan pandemi segera berakhir. 

Yah, kita berdoa  semoga pandemi  ini cepat berlalu , sehingga  kita  bisa beraktivitas  normal  seperti sebelum  pandemi  datang. 




Selasa, 23 Februari 2021

Membina hubungan baik dengan Allah

Sejak kecil hidupku  penuh ujian, kata orang ujian itu akan membuat  orang naik kelas, akan membuat  orang lebih bijaksana, akan membuat  orang memiliki level yang tinggi.

Yang namanya dirasani orang itu sudah biasa. Bukan karena ulahku yang nakal atau tidak beres. Tetapi lebih disebabkan rasa iri , dengki yang dimiliki. 

Kehidupan  masyarakat  saat itu jauh sekali dari agama, yang namanya  isu santet  itu sudah biasa. Yang berwibawa adalah orang yang sebenarnya  jahat , tapi dibalut oleh kelicikan akal bulusnya. 

Aku suka belajar  agama, karena dengan itu  menentramkan hatiku,  disitu  ada keadilan,  disitu  ada harapan. Disitu  akan ada balasan  orang yang berbuat  jahat, disitu ada pahala bagi yang melakukan  kebaikan.  Orang jahat  akan celaka  orang beriman  dan bertaqwa akan menjadi kaya dan berbahagaia  di alam akhirat  sana. 

Bahkan tidak saja di akherat,  mulai di dunia ini akan diberi rezeki yang tidak  disangka sangka  datangnya,  akan diberi jalan  keluar  permasalahan  hidupnya. Itulah yang dijanjikan  dalam agama. 

Tanggal 29 Februari  2021 saya dibawa ke rumah sakit,  karena badanku demam tinggi, berhari hari tidak reda. Sebenarnya demam itu dimulai  tanggal 25 Februarai,  diawali dari batuk  kecil kemudian  saya belikan  obat batuk flukadek. 

Batuknya reda tapi demamnya yang tetap tidak berubah. Kemudian aku minta di bawa ke dokter.
"Sakit apa pak?", tanya dokter sambil tergesa gesa memeriksa  tubuhku,  karena pasien yang antri banyak.

"Batuk pak dokter ", jawabku sambil menyibakkan  pantatku  karena mau di suntik. Dokter yang satu ini biasanya  kalau nyuntik  sakit, tapi habis itu  sembuh. 

Agamanya sangat  baik. Walaupun pasiennya  banyak kalau mendengar  suara adzan maka meninggalkan praktekkan  dan ikut  sholat  jamaah di masjid. 

Tarifnya  murah sekali  hanya 48.000. Padahal  kalau  saya pijat  ke dukun tarifnya  50.000. Dokter kuliahnya  sulit  biayanya  mahal. Hanya anak orang kaya yang berani kuliah di kedokteran.  

Sedang dukun pijat  tidak lulus SD tarifnya  50.000. Seperti dunia  terbalik saja. Pernah saya dipijat, nanti malamnya malah sakit  nyeri tak tertahankan  hingga  malam itu  juga saya dilarikan  ke rumah sakit  Griya Husada.  Untung tertolong  dan sembuh. Sejak itu  kapok aku.

Saat dibawa ke rumah sakit  itu kesadaranku antara  sadar dan tidak,  rasanya   seperti  ngantuk  berat. Saya diantarkan oleh Diar, anakku yabg pertama  dan istriku. Istriku  menangis saja dalam perjalanan  karena melihat  kondisiku  yabg seperti  itu.
"Bertahan ya bi, kita berobat  ya bi." Istriku  menghiburku. 

Aku hanya bisa menjawab singkat, "ya." Kemudian  tidur lagi. Tetapi  dalam tidur  itu saya sadar ini perjalanan  ke rumah sakit. 

Dalam hatiku hanya membaca istighfar,  mohon  ampunan  Allah,  sampai capek  sampai  tidur. Berharap  Allah memberikan  jalan keluar  atas permasalahan  kesehatanku. 

"Kita sudah samapai rumah sakut griya  husada Bi, persiapan ya,"  istriku memberitahu seraya membangunkan keasadaranku.  Lagi- lagi aku hanya menjawab,"ya."

Diar menghampiri  petugas  dan minta  tolong  untuk  proses  pengobatan,  tapi jawabannya  petugas, "maaf pak di rumah sakit  ini tidak ada ruang observasi."  Kami tidak paham,  masa iyya  rumah sakit  kok tidak punya  ruang observasi. Singkat  cerita  kami di tolak.

Kemudian ke RSI , sebuah rumah  sakit besar  swasta yang ada di Madiun,  kami berharap  bisa di tolong di sini.  Ternyata  di sini ruangnya  sudah penuh. 
"Itu pak ada pasien yang antri  untuk  mendapatkan  kamar." Petugas itu jari telunjuknya  menunjuk seorang  paruh baya yang tampak sakit sedang duduk  di kursi.

Akhirnya  istriku  menghubungi  pak Hermanto,  tetanggaku  yang bekerja  di rumah sakit umum  Madiun  agar aku bisa ditolong  mendapatkan  kamar. 

Yang ada dihati  kami adalah aku harus ngamar di rumah sakit  agar mendapatkan  perawatan  yang  intensif. 

"Pak Her,  Bapaknya sakit,  kami minta  tolong  bagaimana  agar bapaknya  bisa opname  di Merpati,  bisa mendapatkan  kamar. " Istriku menelepon  pak Hermanto. 

"Oo iyya mbak, di bawa saja ke UGD, biar  ditangani awal di sana."

"Oo iyya pak Her,  terima kasih."
Kemudian aku di bawa ke UGD, dan dibawa ke ruang observasi. Aku diambil  sampel  darahnya  untuk  di cek imun antibodi. Tidak itu  saja aku juga difoto  ronxen. Kami manut  saja tindakan  yang diberikan  padaku. Lama sekali aku berada  di ruang ini,  istriku selalu  mendampingiku. 

"Bi bangun, membaca istighfar."
"Iya," aku berusaha membuka mataku  dan membaca istighfar, aku serasa  berada di tempat  yang  tenang lama-lama  tertidur,  tapi aku mendengar  percakapan  orang-orang  di sekelilingku. 

Terdengar  suara adzan, oo sudah waktunya  magrib, istriku  memberitahukanku untuk  sholat  magrib. Kemudian  aku sholat  magrib semampuku  hanya  gerakan-gerakan  sederhana yang bisa ku lakukan.

Setelah  selesai sholat magrib  datanglah  seorang  petugas  menjelaskan  mengenai sakitku.

"Bu.., suami ibu dari hasil  pemeriksaan  bagus,  swab  antibodi  hasilnya  bagus, paru parunya juga bagus. Suami ibu bisa di bawa pulang,  nanti dikasih  obat dari sini. Jadi cukup  rawat  jalan saja." Ternyata petugas ini adalah dokter.  Masih muda,  cantik  dan ramah.  Istriku setengah tidak percaya.

"Kami ingin  opname  saja bu dokter  agar  suami  saya mendapatkan  perawatan  yang baik di sini." Istriku  tetap  berkeinginan  aku di rawat  di rumah sakit.  

"Iya tapi  tidak ada alasan suami  ibu untuk  opname," terjadi perdebatan  antara istriku  dengan dokter  muda itu. 

"Bapak, coba genggam dua jari saya ini." Aku menggenggam jari bu dokter muda itu dengan sepenuh  kekuatanku.

"Ini lho bu genggaman  tangan Bapak ini masih kuat" jelas bu dokter.

Istruku  baru percaya  dan akhirnya  ikut  arahan bu dokter,  aku dibawa pulang.  Aku dikasih obat  dan diberi  tahu nanti  tanggal 1 kontrol  lagi. 

Kemudian kami pulang, obatnya diminum,  makan juga  masih bisa aku lakukan. Kalau siang hari  badanku  sudah tidak panas,  tapi kalau  malam hari sekitar  jam 3 pagi, badanku  panas  kemudian keluar  keringat,  setelah itu  panasnya  reda. 
Seperti  itu kondisiku  setiap  hari. 

Tanggal  1 kami kontrol di RS Merpati,  aku diperiksa  dokter,  tapi periksanya  hanya interview  saja. Dalam kondisi  pandemi  seperti  ini jarang sekali  dokter menyentuh  pasiennya,  barang kali  beliau juga takut,  kalau  pasiennya  terinveksi  virus corona. Kemudian  tertulari.

Setelah interview mengenai apa yang aku rasakan, Aku disuruh  swab antigen di lab Persada. Jaraknya 100 m dari RS Merpati, dengan badan serasa ringan melayang  aku diantar Diar ke Lab Persada. 

Diar adalah anakku  yang pertama,  dulu  pernah  daftar Polisi  tahun 2013, tapi tidak lolos. Aku suruh mengulangi  lagi tidak mau. Akhirnya  sekarang  menekuni  profesinya  sebagai penata  sound  system.  Dia sudah punya  2 set sound  system sekarang.

Barangkali  hikmahnya  di sini,  tampaknya Dia yang akan dekat  denganku  sampai  hari tuaku. Dialah  yang mengantarkan  aku ke dokter  kalau sakit.  Kalau jadi Polisi  tugasnya  jauh,  barangkali  hanya  bisa bertemu  setahun sekali.  Tidak bisa  mengantarkan  ke dokter  kalau  Bapak Ibunya sakit.  

Dari hasil  swab antigen  hasilnya  positif,  "ya Allah."  Aku diam  membisu  banyak diskusi  dihatiku. Sampai  kemungkinan  terburuk  bila terjadi  apa-apa  pada diruku.  Aku kembali pada dokter  tadi.

"Op name ya Pak". 
"Iya bu Dokter  siap." Saya pasrah apa yang akan terjadi  dengan diriku  yang sebenarnya  agak takut. Takut  berpisah dengan istriku,  takut  kalau-kalau  ini adalah  hari hari terakhirku. 

Aku diarahkan  ke ruang  UGD lagi, diofservasi  lagi,  dan hasilnya  ada dua pilihan. Opname atau isolasi  mandiri  di rumah. Aku ingin opname  tapi tidak ada ruang  tersedia. Ruangnya  penuh semua. "Ya Allah." Sejak  itu  aku dinyatakan  Covid-19.  Sebuah penyakit  yang ditakuti  oleh orang seluruh  dunia. Antara hidup dan mati dipertaruhkan.  Tetapi semua  itu harus tunduk  pada takdir Allah.  Kalau ajalku  belum tiba, pasti  aku sembuh.  

Aku pasrah,  pasrah pada dzat yang maha Rohman  dan Rohiim. Mulutku hanya berkomat- kamit membaca istighfar,  hatiku  hanya mengingat  sang Kholiq. Pikiranku  tidak boleh kosong. Pikiranku  harus terarah seperti  ajaran agama yang diajarkan guru spiritualku. 

Sebelas bulan lalu  aku berguru  ilmu torikoh pada Bu Nyai Nuning Siti Sunarni, sebagai pewaris  ilmu torikoh  dari eyang  KH Abdurohman yang tinggal di Pesantren Tegalrejo,  yang dikenal  sebagai waliyulloh pada jaman Belanda, tahun 1835. Beliau  adalah salah satu pengikut  Pangeran  Diponegoro. 

Kembali pada  keputusan  istriku,  akhirnya  aku dibawa  pulang  isolasi  mandiri,  dengan  dipantau  oleh rumah  sakit.  Mulai tgl 1 Februari  2021 aku isolasi  mandiri.  Istriku  menerapkan  protokoler  kesehatan  secara  ketat. 

Tanggal 1,2,3,4 adalah  masa masa krisisku,  kalau  malam badan panas, keluar  keringat.  Tidak merasakan lezatnya makanan, tidur  tidak nyenyak,  mimpiku selalu  buruk.  Sampai nengigau,  tak ada yang membangunkan  karena  istriku  tidur  ditempat  yang agak jauh.

Walaupun tidak merasakan lezatnya makanan tapi  aku harus memaksa makan yang banyak agar aku bertahan dan segera sembuh. 

Setelah hari ke 4 panasku reda, aku mulai  menikmati  lezatnya makanan,  tapi tidurku tidak pulas. Aku merasa  tidak ngantuk   , setiap  malam  pukul  01.00 aku bangun  untuk  sholat  malam,  setelah itu membaca  Al Qur'an.  Pelan-pelan  tilawahku,  alhamdulillah  kadang-kadang  bisa dapat  12 halaman.  

Di saat  sehat  ya sering  bangun malam,  tetapi  tidak  membaca  Al Qur'an.  Itulah hikmahnya  orang  sakit  itu dekat dengan Allah.  Kalau  tidak pernah diberi  sakit sering kali sombong,  kadang malah  lupa  pada  Allah.  Lebih dari itu  malah mengaku  sebagai Tuhan , seperti  Fir'aun.

Firaun  itu  flu saja tidak pernah,  akhirnya  sombong,  mengaku  sebagai  Tuhan. 

Hari ke 5 isolasi  mandiriku bertambah  sehatnya,  aku mulai  bisa menulis,  mengisi  blogku. Aku sebenarnya  berkomitmen  setiap  hari  menulis  di blog.  
"Mbok ya jangan  setiap hari  menulis terus to pah,  biar agak santai,  mbok nyanyi -nyanyi gitu." Ungkap istriku. Istriku  mungkin tidak tahu  bahwa menulis  itu  juga hiburan yang  menyenangkan. 

Aku tidak  mau berdebat  dengan istriku  yang telah merawatku  setiap  hari. Aku hanya mengatakan  , "iyya."
Semua tulisanku bisa dilihat  di suparnomuhammad.blogspot.com.  

Dari tulisan ku itu  orang  tahu kalau aku sakit,  apa yang aku lakukan, obat apa yang aku minum  dan sebagainya.

Selama  aku sakit  aku mendapatkan  kiriman  macam-macam  dari teman-teman ku , aku jadi terharu  atas ketulusan  hati mulia  mereka, seperti  mas Doktor  Sugeng  Harianto  yang tinggal  di Malang,  beliau  mengirimkan  banyak  obat-obatan  untuk  menyembuhkan sakitku.  Obat  ini telah  terbukti  menyembuhkan  istrinya  yang juga pernah  terinveksi  Covid-19. 

Alina Nirmala sahabatku  guru BK SMP 2 Ngariboyo,  juga mengirimkan  obat-obatan  untuk  kesembuhan ku.  

Adalagi  muridku Septeria, mengirimkan  madu bawang lanang.  Septeria adalah muridku ketika di SMP 2 Kaweadanan  yang sekarang  telah sukses berwiraswasta memiliki toko madu di 2 tempat. Yang lain masih banyak  juga sahabatku yang memberikan  kebaikan  apa saja. 

Ya Allah mereka baik  sekali  padaku, semuanya  ku serahkan padaMu  untuk  memberikan  balasan  yabg lebih baik,  dan lebih banyak  dan barokah tentunya.  

Setiap hari aku menulis,  di hari yang ke 24 aku menuliskan aku sudah lulus,  lulus dari ujian terbesarku dalam hidupku. Covid-19, penyakit  yang ku takutkan sejak 16 Maret  2020 ini  akhirnya  sampai juga  ditubuhku  tanggal  29 Januari  2021. 

Virus  yang induk semangnya dari Wuhan, China  inilah yang memporakporandakan  tatanan  kehidupan  bangsa-bangsa di seluruh  dunia. Tapi semuanya  itu ada yang menggerakkan,  Allah  SWT. Untuk  memberikan  peringatan  kepada manusia agar hidupnya lebih baik, agar Ibadahnya  lebih tekun,  agar kepasrahannya  lebih  totalitas. Agar imannya menubgjat. Agar lebih dekat  dengan Tuhannya.

Aku selalu berdoa semoga  pandemi  ini segera berlalu,  agar rakyat bisa bekerja, agar  anak anak bisa sekolah,  bisa ngaji di Mesjid, agar jamaah haji di seluruh  dunia  bisa berangkat tahun ini,  untuk  bersama menangis dalam  sujudnya,  mengadukan permasalahan  pada Robnya. 

Mereka  semua sudah rindu  melihat  makam nabinya,  yang menuntunnya  kepada hidayah,  yang memberikan  syafaat  kelak  di hari qiamat. 

Mereka semua sudah rindu tersungkur  sujud mensyukuri  atas penciptaanny  di dunia, atas rezeki yang diterimanya,  dan tentang apa saja yang diberikan  padanya. 

Mulai  kemarin aku bilang  pada istriku,  aku ingin  ke Masjid.
"Nanti kalau oleh orang-orang  tidak boleh bagaimana Pah?" Tanya istriku  meyakinkan keinginanku.
"Kalau nggak boleh ya pulang mi," jawabku.

Memang aku tahu tidak semua  orang  senang denganku.  Aku pikir  ini juga berlaku  bagi semua orang. Tidak semua  orang menyenangi  kita, sebaik apapun  kita. 

Tapi bagiku  tidak masalah  yang penting  Allah  senang  pada kita. Kalau Allah  senabg dengan kita  semua masalah  akan selesai  dengan cantiknya.  Akan ada jalan keluar  dengan  indahnya.

Oleh karena itu  aku berpikir,  sebenarnya  yang paling penting  adalah bagaimana  kita membangun hubungan baik  dengan Allah. Itu  saja. 



Magetan,  24 Februari  2021
















Senin, 22 Februari 2021

Alhamdulillah aku lulus

Alhamdulillah,  saya sudah dinyatakan lulus  dari covid 19 oleh Dokter  Puskesmas Sukomoro. dr.Siswiyantining Wikanti, Kepala UPTD Puskesmas Sukomoro. 

Suratnya  tadi siang pukul 10.00 diantarkan mbak Indy petugas Kesehatan  yang membawahi  desa Pojoksari.  

Kemudian saya dan istri sujud  syukur  atas rahmat  yang diberikan  oleh Allah kepada  kami.  

Kami isolasi  mandiri  10 hari, ditambah 13 hari jadi semuanya  23 hari. Sejak tanggal 1 Februari 2021. Rasanya  tidak enak berdiam  diri di rumah  seperti  orang yang terisolir. Aslinya isolasi mandiri  memang seperti itu. 

Yang saya  rasakan  sudah tidak ada keluhan,  badanku  sehat, malah berat badanku  menjadi  70 kg dari sebelumnya  65 kg. Jadi bertambah 5 kg.

Nanti sore saya sudah ikut  sholat berjamaah di Masjid, yang sudah hampir  1 bulan saya tidak ke Masjid.  Setiap suara adzan  berkumandang  hatiku selalu bertanya, "kapan bisa  sholat  di Masjid?"

Ternyata  Allah masih mememperkenankan  mulai hari ini Selasa,  23 Februari  2021. Saya dinyatakan  sehat.  Sebenarnya  kesehatan  sudah membaik  sejak tanggal 5 Februari  2021. Tapi karena  mengikuti  birokrasi ya tidak apa-apa  baru bisa ke Masjid nanti sore.

Alhamdulillah  semua anggota  keluargaku sehat. Semuanya ikut "menderita"  karena ayahnya  di isolasi mandiri. Istriku  tidak diijinkan masuk  kantor  sebelum  saya dinyatakan  sembuh.

Istriku  perjuangannya  luar biasa, dia perawat terbaikku yang selama  ini mencukupi  kebutuhanku. Menyediakan  makanan  setiap hari, menyiapkan air  hangat untuk mandi, dan lain-lain.  Semuanya  dilakukan  dengan ikhlas. 

Kalau  malam membangunku untuk  sholat Tahajud,  kemudian membaca Al Qur'an. Rasanya damai, tentram. Disaat banyak orang tidur  kami bangun. Kami tidak merasa ngantuk. Alhamdulillah .

Ini semua  tak lain adalah berkat  doa  keluargaku, saudaraku,  teman-temanku , sahabatku, tetanggaku semuanya,  tanpa kecuali  juga Ibu dan Bapak mertuaku  yang selalu  cemas  atas keadaanku ketika sakit. 

Kami mengucapkan terima kasih atas itu semua, juga atas bantuannya  berupa moril,  materiil  dan spirituil. Semua saya pasrahkan  kepada Allah untuk  dibalas dengan balasan  yang lebih banyak dan lebih baik.

Semoga mereka semua terhindar  dari pandemi  Covid-19.  Mereka sehat  semuanya beserta  keluarga. Biarlah  saya saja yang merasakan dan cukup  sekali  ini saja saya mengalami,  karena untuk  sampai  lulus  harus mengerjakan soal ujian yang tidak ringan ini. Aamiin ya Robbal alamiin. 

Oleh  karena itu jika anda hari ini sehat,  manfaatkan  kesehatan  anda untuk  banyak beribadah, Membaca Al Qur'an, beramal sholih, sholat  di Masjid, banyak membaca istighfar dan berdzikir, juga berlaku baik pada sesama. Tidak sombong,  menang sendiri, egois, iri dengki dan sifat-sifat buruk lainya. Sebab seperti  itulah cara mensyukuri atas apa yang diberikan  oleh Allah  SWT. 

Sekali lagi semoga kita semua  dijadikan hamba yang baik, diberikan sehat, panjang umur yang barokah,  bisa memanfaatkan  waktu  dengan aktivitas yang barokah.


Magetan,  23 Februari  2021








Abah Dede Suryana, Guru honorer yang prestasinya menasional

Malam ini kita akan belajar  dengan Nara Sumber seorang  guru berprestasi  tingkat nasional yang luar biasa. 

Abah Dede Suryana, S.Pd.,MM.
Dari Desa Turangga kec. Lengkong , Bandung Jawa Barat. Beliau adalah guru dengan dedikasi tinggi  yang sangat  mencintai  profesinya. Walaupun statusnya yang masih guru honorer  selama 34 tahun tapi tak menghalangi semangat pengabdianya. 

Beliau  begitu dekat dengan siswa siswanya. Apabila  ada siswa  yang digendong  itu sudah biasa. 

Mungkin juga ada pertanyaan kok bisa bertahan selama kurang lebih 34 tahun, menjadi honorer...? Jawabannya sederhana, "karena Abah mencintai profesi ini sepenuh hati terlepas plus dan minus menjadi seorang guru honorer..."

Abah mengatakan, Banyak profesi diluar sana,semua profesi adalah baik, akan tetapi profesi seorang guru adalah *MULIA* Knapa begitu...? Karena apapun profesi yg sekarang tanpa kehadiran seorang guru *tidak akan terjadi* jadi bapak dan ibu guru hebat harus bangga dengan profesi saat ini, bersyukur sudah menjadi guru, baik yg Honorer ataupun yg sudah ASN, syukuri, nikmati dan jadilah *guru sebagai pelayan buat peserta didik kita* karena guru adalah fasilitator bagi mereka apalagi dimasa Pandemi sekarang ini...

Saudara guru hebat,  Abah tidak bermaksud menggurui atau pun Abah pamer dengan prestasi, akan tetapi apa yg diraih oleh Abah selama ini adalah bonus, selama Abah berkiprah di dunia pendidikan tidak terpikirkan ke arah sana, tapi ada suatu ungkapan yg sering disampaikan sbb:
*Dalam hidup akan dipertemukan dengan pertemuan yg misterius, setelah orang lain mengakui kemampuan dan keunggulan diri kita maka akan memicu sikuit yang luar biasa* nah mungkin setelah sekian lama Abah bergelut di dunia pendidikan beberapa tahun Abah dipertemukan dengan pertemuan misterius ini.

Bapak dan ibu guru hebat, satu hal dalam hidup Abah, Abah selalu *mencatat apa yang harus dikerjakan dan kerjakan yang sudah dicatat* artinya kalau ada tugas kerjakan, kalau ada ide tuliskan, nah nanti pasti akan timbul permasalah dan kesulitan, nah untuk mencari solusi yang pertama Abah lakukan adalah *bertanya,* karena ada istilah, *ciri orang yang berfikir adalah bertanya*...๐Ÿ˜๐Ÿ™

Tetap semangat semoga di tahun ini dipertemukan. Dengan pertemuan yg misterius... Yg menjadi cita" guru hebat.

Pengalaman Abah mengajar, mengajar di SMP, di SD, dan sekarang Alhamdulillah dipertemukan dengan seorang guru hebat Abah diberi amanah juga mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung... Dan Abah juga Alhamdulillah diberi kesempatan untuk berbagi dengan guru hebat tahun kemarin menjadi NS untuk Bimtek guru pembimbing khusus bagi guru yang mengajar di sekolah inklusif di Indonesia, suatu kebanggan tersendiri bisa berbagi dengan mereka, dan malam ini suatu kehormatan om Jay memberi kesempatan Abah untuk sedikit barbagi dengan guru hebat disini, semoga sedikitnya menambah motivasi untuk berkarya dan mengupgrade pengetahuan untuk lebih baik lagi, karena *guru zaman NOW, adalah guru yg harus nyaman didalam zona ketidak nyamanan dan guru pembelajar yg tidak berkesudahan* semoga saudara guru hebat menjadi bagian dari guru zaman Now ini. 

Inilah hadiah bagi seorang  guru yang berproses  iklas menekuni profesinya, akhirnya  mendapatkan  hadiah dari sang Kholik  berupa  prestasi prestasi yang tertata.

Abah bukan bangga yang telah dicapai tapi Abah bangga bisa melakukan proses, ke arah itu...

Abah tampak.menikmati proses  yang ada dengan iklas, tidak mengeluh,  tidak merasa berat.  Itulah awal  keunggulan abah dibandingkan dengan yang lain.

Abah Siap... Berbagai komunitas guru nasional Alhamdulillah Abah diajak untuk berbagi, dan kemarin Abah diberi kesempatan untuk berbagi dengan sahabat luar biasa P4TK TK dan PLB Kemdikbud, itulah pertemuan misterius, tapi semua itu bukan Abah hebat, dan bukan pula hasil kerja keras Abah, itu semua Allah SWT, lah yg memudahkan dan melancarkan aktivitas Abah...
Insya allah.

Yang mengagumkan dari abah adalah, begitu  beliau merendahkan diri alias tawaduk,  mengakui  dengan segenap kesadaranya bahwa apa yang dicapai  adalah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa  seperti kemerdekaan bangsa  Indonesia. 

Abah berharap Insya Allah, tidak ada yg tidak mungkin, Abah yakin disini banyak yang akan menggantikan Abah dikemudian hari, kalau saja Allah memberikan  umur panjang kepada Abah, ingin sekali suatu saat ada guru yang menyapa, *Bah benar apa yang disampaikan Abah, sekarang saya menjadi narasumber dan mendapat apresiasi* Abah tentu akan sangat bangga sekali.

Basik S.1 Abah adalah jurusan Pendidikan khusus, atau PEndidikan Luar Biasa(PLB) Abah mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK)

PDBK adalah guru abah, Abah ada diposisi ini karena Abah belajar dari mereka... Mereka nanti yg akan menuntun kita ke syurga ya Allah SWT.

Saudara Abah yg Abah cintai dan banggakan, malam ini mudah mudahan momentum yg baik untuk mengasah kemampuan, dengan kolaborasi seperti ini, akan menambah amunisi untuk terus bergerak dan menggerakkan guru yg lain, tidak sedikit di luaran sana teman" kita asik di zona nyamannya... Nah sekarang bapak dan ibu menjadi duta untuk menggerakkan mereka.

Informasi ini jarang, jadi cocok sahabat guru hebat gabung disini.

Tanya jawab

Assalamualaikum
Dari Mas Miftah, Demak
Speechless membaca CV abah. Menjadi honorer kurang lebih selama 34 tahun.๐Ÿ˜ข
Apakah tidak terbersit keinginan abah untuk menjadi PNS??
Apakah tidak jenuh menjadi honorer,  melihat keberhasilan rekan yang sudah menjadi PNS?
Bekerja kan tidak semata-semata untuk akhirat, karena manusia normal juga memiliki kebutuhan dan keinginan. Bagaimana ya bah meyakinkan hati kita?

Mohon penjelasan abah๐Ÿ™

Terimakasih pertanyaan yg luar biasa dari pak Miftah Demak, salam hormat dari Abah, sebagaimana yg bapak sampaikan terimakasih atas apresiasinya.
Kalau kemauan ada manusiawi, tapi bukan tujuan utama Abah, knapa karena hidup dan kehidupan bukan dari status PNS atau Honorer, menurut Abah semua sudah ada suratan tangan, dulu Abah berfikir dengan usia yg sudah tidak muda lagi tidak ada kesempatan untuk menjadi PNS atau sejenisnya, tapi.... Aturan Allah lain, dengan menggerakkan Rahman dan rahimnya, Allah mengutus dan mengetuk para pembuat kebijakan untuk mengadakan seleksi PPPK ini mungkin jawaban yg selama ini yg tidak pernah Abah atau teman" fikirkan. Jadi intinya Abah menikmati proses dan menjalankan tugas sebaik mungkin.  
Kalau menjadi honorer Abah tidak jenuh dan Abah mencintai profesi sebagai *Guru* nya terlepas apa itu PNS atau Honorer... Itu sedikit jawaban yg dapat Abah sampaikan untuk yth. bapak Miftah...


Assalamualaikum bu Aam dan abah
saya Maifil Andrean dari Jambi
Sebelumnya saya sngat salut dengan loyalitas abah sebagai seorang guru dan berprestasi.
Yang ingin saya tanyakan dari prestasi yg abah miliki saat ini, apa prestasi yg paling membanggakan bagi abah...boleh cerita sedikit perjalanan meraihnya.

Terima kasih
Waalaikumsalam  bapak Andrean dari Jambi, salam sehat dan tetap semangat...
Prestasi yg Abah sangat banggakan *tat kala bertemu alumni yg sudah berhasil dan mengatakan benar apa yg bapak katakan dulu bapak mengatakan begitu dan saya kadang mengacuhkannya, tetapi setelah saya dewasa benar apa yg bapak katakan dan saya melakukannya Alhamdulillah saya seperti ini* nah itu kejadian yg pernah Abah alami....

Untuk prestasi yg Abah raih Abah syukuri karena itu semua adalah kemudahan dan bonus dari yg Khaliq... 
Perjalan Abah panjang banyak liku liku hidup dalam bekerja di dunia pendidikan, tapi Abah selalu menco untuk tetap fokus pada pekerjaan intinya bagiamana bisa mengakoomodir kebutuhan pendidikan para peserta didik, disamping kegiatan yg laiinya, intinya harus bisa membagi waktu, ada istilah *fardhu tersambung sunat terbawa* itu barangkali sedikit jawaban untuk bapak Adrian dalam buat guru" hebat disana.

Assalamualaikum Abah Dede dan Teh Aam geulis.
Masya Allah Abah Dede, terharu sekaligus malu saya kpd Abah. 
Seorang guru honorer mampu berkarya dan berprestasi luar biasa. 

Sementara saya, Ibu Mujiatun dari Lampung. Seorang guru ASN
sudah 25 th masih sangat miskin akan karya.

Oleh sebab itu, saya mohon pencerahannya. Bagaimana cara menuju puncak tangga GURU BERPRESTASI itu Abah? 

Waalaikumsalam, ibu Mujiatun yg Abah hormati dan Abah banggakan, tidak Bu, mungkin tahun ini kesempatan Abah, dan tahun berikutnya adalah giliran ibu untuk berkarya, tidak ada kata terlambat, Abah yakin ibu akan lebih baik dari Abah, dengan segala keterbatasan Alhamdulillah Abah bisa menyelesaikan pendidika meski berdarah" knapa Abah tempuh, untuk membanggakan diri tapi itu semua Abah merasa kurang dan masih banyak kekurangan, salah satu yg memotivator Abah untuk berkarya dan melanjutkan pendidikan tak lain dan tak bukan  adalah Om Jay, Abah sempat beberapa kali berkesempatan duduk bareng dalam suatu kegiatan dari Kemdikbud, dari sana Abah termotivasi Alhamdulillah selesai atas ijin Allah... 
Ibu hebat masih banyak kesempatan dan ibu bersyukur telah masuk di grup ini, yg selalu membagi ilmunya, banyak narasumber hebat yg didatangkan oleh Om Jay...
Tetap semangat ya Bu.

Kharir dari Kendal mohon izin bertnya. Apa yang membuat Abah semangat mengajar meskipun posisinya hanya sebagai guru honorer. Apa yang membuat Abah akhirnya tergerak hati untuk berprestasi. Kadang lelah juga ya Abah ... menunggu yang misterius itu. heh...he...Mantap. Semangatnya patut diacungi jempol. Terima kasih

Selamat malam bapak kharir, yang membuat Abah bisa bertahan untuk terus mengajar, mungkin karena *tuntutan hati* dan dulu Abah bercita" ingin menjadi guru, tapi ga kesampaian pada tahun 1981 Abah sudah ditinggal ayah, maka pada waktu itu Abah pendidikan hanya sampai SMA, tapi pada tahun 1987 Abah ditawari untuk mengajar di SMP oleh guru Abah, karena mungkin pada saat SMP beliau mengetahui kompetensi Abah, 20 tahun ngajar di SMP dgn pendidikan SMA, 2006 hijrah ke Bandung dengan pendidikan SMA mengajar di SD, 2010 ikut seleksi beasiswa S.1, atas doa dari keluarga dan anak" hebat Abah lolos kuliah S.1 di UPI Bandung jalur Beasiswa, 2014 lulus ini perjalanan cukup berat, di usia 40 tahun kuliah S.1 sudah berkeluarga lumayan berat memang biasa kuliah dibiayai oleh pemerintah, untuk operasional berbgai dengan dapur,... Tahun 2016 masuk S.2 lulus tahun 2018 di usia 50 tahun..

Menunggu misterius cukup lumayan semoga saja Abah dan teman guru hebat dipertemukan dengan takdir yg misterius yang lebih baik lagi baik untuk sahabat guru honorer ataupun PNS, pada prinsipnya sama mengabdi kepada murid... 


P5. Assalamualikum Abah,
Saya Dadang Huzazi dari Lebak Banten. 
Mohon pencerahan. Saya mengajar di Sekolah terpencil, ketika dulu baru ditemptkan, akses jalan sulit, tanpa listrik dan sinyal. 
Sekarang sinyal dan listrik sudah ada. Tetapi sekarang tantangan lain yang jauh lebih berat. Anak terbiasa menonton tv dan main game, hingga anak sulit konsentrasi dalam belajar. 
Mohon saran dan dorongan agar ttap semangat dalam berbagi ilmu dengan para peserta didik.

Waalaikumsalam, pak Dadang...
Luar biasa dulu bapak ditempatkan ditempat yg terpenci dengan kondisi yang mungkin bisa mengancam jiwa bapak pada saat berangkat menjalankan tugas, listrik belum ada, tapi Alhamdulillah anak" bisa tertangani dengan baik karena konsen dan fakus,...
Tantangan sekarang seiring dengan kamjuan teknologi anak" menjadi sebaliknya anak jadi fokus ke game tidak fakus pada pelajaran... Bagaimana untuk mengatasi hal tersebut...
1. Bapak menjalin kolaborasi dengan orangtua libatkan orangtua untuk mengawasi putra putrinya terkait pengguna hp.dan teknologi
2. Minimal 1x dalan satu Minggu ada refleksi untuk mengetahui progres setelah bapak memberikan PR buat ortunya
3. Jalin hubungan emosional baik dengan orangtua atau pun siswa sehingga nantinya  orangtua dan siswa bisa saling mengerti dan akan bijak untuk menggunakan sarana teknologi ini.
4. Jangan pernah menghentikan/ melarang anak untuk mengekplor kemampuan dalam teknologi tapi batasi dan berikan tanggungjawab, sekarang ada istilah PPK (Profil Pelajar Pancasila) yg menitik beratkan kepada karakter *CERDAS BERKARAKTER*

itu barangkali jawaban Abah...
Tetap semangat, banyak jalan menuju Roma...
Banyak jalan untuk mempengaruhi anak (itulah seni mengajar seorang guru)...

Begitulah  pengabdian  Abah Dede, yang tak lekang karena panas dan tak rapuh karena hujan, iklas lillahi  ta'ala,  siapa  menolong hamba Allah,  maka Allah pasti  akan menolongnya. 

Semoga Abah selalu ditolong  oleh Allah  dimana  dan kapanpun beliau  berada. Aamiin 

Magetan,  23 Februari  2021

Minggu, 21 Februari 2021

Silaturahmi dengan blog walking

Dalam setahun ini saya serasa punya saudara baru yang memiliki  passion menulis. Kami saling silaturahmi. Walaupun  kami belum pernah bertemu  serasa hubungan kami  dekat. 

Mereka adalah para penulis,  kami bergabung dalam group menulis. Mereka orang-orang  hebat  yang di tengah kesibukannya masih bisa menulis. Tidak ada orang yang tidak sibuk  tapi mereka masih bisa membuat  artikel dan dikirim di blognya. 

Kami saling mengunjungi  dan membaca  tulisan  mereka , kemudian meninggalkan jejak  memberikan  komentar.  Dengan memberikan  komentar  berarti  memberikan apresiasi  atas karya  mereka.  

Yang berkunjung  ke blog saya  yang paling banyak  adalah  teman teman yang tergabung dalam group  menulis.  Dan mereka memberikan  komentar.  Tapi  juga ada  teman-teman saya yang memiliki  hobby  membaca  sehingga  juga senang  membaca tulisan  saya dan memberikan  komentarnya. 

Aktivitas  saling mengunjungi  blog teman itu  namanya blog walking.

Sekarang  ini memang  jarang orang yang  suka membaca  tulisan  yang panjang.  Tapi untuk  para penulis  mereka suka saja membaca  tulisan  yang panjang. 

Memang  penulis  itu  biasaya  terdepan dalam membaca. Mereka  bukan  orang-orang biasa,  tetapi  manusia  unggul  yang diberi  kelebihan,  salah  satu diantaranya  adalah  kegemaran membaca  dan menulis.

Menurut  Dr. Ngainun Naim ( 2021;52) blog itu  berfungsi sebagai tempat  menyimpan  dan mengunggah  tulisan,  blog adalah sunber ide menulis.  Karena itu  penting  menyisihkan  waktu untuk  berselancar dan mengunjungi  blog  demi blog. ( blog walking)
Disamping itu  masih menurut  Dr Naim, mengunjungi  blog  juga membahagiakan  orang, semua orang akan bahagia  bila diapresiasi, begitu juga  dengan penulis. Komentar  adalah jejak sedekah yang penting untuk dilakukan. Yang ketiga  menambah saudara. 

Dr. Naim  juga sering  berkunjung  ke blog  saya dan memberikan  komentarnya. Saya merasa  tersanjung  bila beliau memberikan  komentar.  Komentarnya  selalu positif,  tidak ada yang menyinggung  perasaan,  tidak ada yang  nerendahkan  orang,  lebih-lebih  menghina. 

Barang kali  seperti  itu adab memberikan  komentar  kepada sesama penulis, saling memotivasi dan mengapresiasi dengan memberikan jejak komentar, agar penulis  lebih semangat  untuk  menghasilkan karya tulis lagi.

Saya mengetahui  istilah  blog  walking  pertama kali  adalah  dari Wijaya  Kusumah yang akrab  dipanggil  Omjay,  menurut  beliau  bloger  yang kurang gaul biasanya akan kurang dikenal. Untuk  memperkenalkan  diri kita perlu yang namanya komunitas  Blogger atau melakukan  blog walking  saling memberikan  tanggapan terhadap tulisan masing-masing.  Jika kamu ingin  sukses menjadi Blogger  , maka gaul  itu penting.  ( Wijaya Kusumah,  2018, 32 )

Memang blog  walking  menjadi  sumber inspirasi  dan ide untuk  menulis. Menjadikan kita dikenal sesama penulis,  akhirnya  saling memotivasi  dan mengapresiasi.

Omjay  hampir  selalu  hadir  di setiap  blog saya,  pada  hal  guru SMP Labschool  kandidat  Doktor  dari UNJ ini manusia  supersibuk dengan segudang  agenda  kegiatan  disetiap  harinya. 

Ternyata  Beliau  tidak hanya  hadir  di blog  saya saja, tapi  juga hadir  di blognya  teman-teman penulis lainnya.  Semuanya  itu  pantas  dicontoh  oleh penulis  lainya  untuk  saling silaturahmi.

Semoga  kita semua  termasuk orang yang suka  membaca dan menulis,  agar bisa mengikuti  kemajuan dunia yang harus kita  ketahui dari jendela kita, yaitu membaca.


Magetan,  22 Februari  2021
Sumber bacaan :

Ngainum  Naim, Menulis itu mudah, Lamongan , Kamila Press,  2021

Wijaya Kusumah, Blogger  ternama, Jakarta: CV. Campustaka, 2018

Menulis itu Klangenan

Membaca  tulisan  Dr. Ngainun Naim itu enak, serasa  mendengarkan  beliau bercerita.  Bercerita tentang dunia Literasi. Beliau kalau bercerita tentang dunia tulis menulis tak ada habisnya. Idenya selalu saja ada.

Tulisan-tulisan di blognya  selalu saya baca, kadang sampai dua kali. Bahasanya  selalu mengalir sesuai  dengan logika. Kadang saya merasa seperti  sama antara  logika beliau  dengan logika  saya kemudian bertemu  dihati. 

Buku  beliau  yang saya baca ini adalah bukunya  yang ke 8 atau ke 9. Kalau saya lihat  di daftar  buku hasil  karyanya di lembar  terakhir  buku  ini. Tapi ada juga hasil  karya beliau  yang tidak  dituliskan di sini seperti  buku Spirit Literasi.  

Judulnya menulis itu  mudah, 40 jurus jitu  mewujudkan karya. Dibuku  ini isinya  jurus  jurus  jitu, mulai  jurus  1 hingga jurus 40.

Seperti   SH Terate  untuk  menjadi  pendekar  harus menguasai  jurus 1 sd. Jurus  36. Dalam buku ini  juga begitu  untuk  menjadi  penulis yang hebat , bisa mewujudkan karya,  harus menguasai  jurus 1 sd  jurus 40. Jurus  jurus ini menginspirasi  banyak  hal tentang dunia  menulis. Jadi  buku  ini cocok  sekali  dibaca oleh  seorang penulis,  terutama  penulis pemula.

Saya beruntung  mendapatkan  hadiah buku ini,  saya baca mulai jurus 1 hingga  saat  ini jurus 10. Saya baca pelan pelan  saya ambil isinya saya serap  maknanya.  Seperti  teknik  beliau  membaca dan menulis,  yaitu  "ngemil."  Menulis dari tempat  satu ke tempat  berikutnya.  

Beliau  termasuk  penulis yang produktif  dan tulisanya  berbobot,  penuh dengan gizi dan fitamin. Dari satu buku beliau  biasanya  menginspirasi  saya untuk  menulis  menjadi beberapa  judul.  

Menurut  beliau  menulis itu  adalah klangenan. Klangenan  ini yang bisa membuat  seseorang  sukses menjadi  penulis. ( Ngainun, 2021,28)

Klangenan itu sesuatu yang menyenangkan,  seperti  seorang  Bapak yang memelihara  perkutut, burung ocehan, dan lain lain. Seorang  ibu memelihara  bunga anggrek,  bunga janda bolong, dan macam-macam bunga lainnya. Itu adalah klangenan. 

Jadi klangenan  itu "diulik"saja karena saking  senangnya. Demikian  juga menulis,  seperti  Mas Doktor  Naim ini ( sapaan akrab  saya) saya melihat  menulis  itu  menjadi klangenannya sejak beliau  masih muda.  Alhamdulillah  Beliau bertemu  dengan gurunya  MTs yang seorang  penulis,  beliau  mengaguminya  dan sangat  berkeinginan  untuk  menjadi  penulis.  

Hebatnya beliau diberbagai  kesempatan  selalu berdakwah  menulis,  mengajak membudayakan menulis,  mari terus menulis, sesederhana apapun tulisan  kita. Tidak perlu malu. Justru  kita malu  kalau tidak menulis.  Kalau hari  ini kita tidak menulis,  kecil  kemungkinannya suatu  saat kita akan menulis (Naim, 2021, 31)

Jadi saya berpikir  kadang murid hebat itu karena telah bertemu dengan guru hebat. Karena  guru hebat itu menginspirasi,  bersemangat, tulus ikhlas  dalam mencerdaskan  murid-muridnya. 

Maka kalau sekolah  pilihlah yang disitu  ada guru hebatnya,  maka saya yakin  anda akan menjadi  hebat di kelak  kemudian hari.  Karena pada hakekatnya  tidak ada murid yang bodoh,  yang ada adalah murid  yang belum beruntung  bertemu  dengan guru  hebat. 

Semoga  pembaca  semuanya  bertemu dengan guru-guru hebat, yang menginspirasi, bersemangat,  tulus ikhlas  dalam mencerdaskan anak bangsanya.


Magetan,  21 Februari  2021

Sumber  bacaan;
Ngainun Naim, Menulis itu mudah,Lamongan: Kamila Press, 2021


Jumat, 19 Februari 2021

Ketika ajal menjemput, semuanya ditinggalkan

Alhamdulillah  hari ini tgl 20 Februari  2021 merupakan hari isolasi mandiriku  yang ke 20. Berbagai peristiwa ku jalani dengan sabar dan iklas. Pasrah diri pada sang Kholik. Berharap  Allah  akan memberikan  jalan keluar  terbaik. 

Hasil Swabku belum keluar, menurut mbak Indi, pegawai Puskesmas Sukomoro.
"Assalamualaikum pak, hari ini sampel an njenengan harus diulang lagi, masih inklonklusif ๐Ÿ˜ข. Katanya sudah 4 kali running, tapi harus diulang lagi. Jadi belum bisa keluar hasil  ๐Ÿ™." Kata mbak Indi di WA.

Tidak  apa apa  saya harus menunggu  lagi, yang  penting  kondisiku  sudah sehat. Saya masih  beruntung  karena lulus  dari sakit  ini.
Ada seorang miliarder Antonio Vieira Minteiro Presdir  Santander Bank Portugal yang meninggal karena Covid-19 sepulang dari Italia. 

Putrinya  menulis,  "Kami keluarga kaya raya, tapi ayahku meninggal  seorang diri, sulit bernafas seperti tercekik karena mencari  sesuatu  yang gratis tanpa biaya,  yaitu udara segar, sedangkan harta  yang dikumpulkan,  ternyata tidak bisa membantunya, bahkan ditinggalkan  selamanya di rumah."
Tulisan  Putri Antonio sang Presdir  ini menjadi pelajaran  bagi  kita semua, betapa  lemahnya kekuatan  manusia. Apabila  ajal menjemput  tak ada yang bisa menolongnya.
Semua yang kita  kumpulkan sedikit demi sedikit tak bisa membantunya. 

Jika hari ini anda dalam keadaan  sehat  wal afiat  itu satu  keadaan  yang  luar biasa, tapi  perlu  diingat  juga  sewaktu waktu  virus  corona bisa mengintai anda. 

Tidak menakut nakuti,  memang itulah  fakta,  kalau  terlalu  takut  malah bisa membuat  anda sakit.  

Tapi  juga tidak  boleh sombong  bahwa anda tidak bisa  sakit,  karena anda kuat,  sehat, berharta. Ingat kekuatan  manusia itu  rapuh dan  lemah.

Untuk  itu sabar dan syukur  barangkali senjata  yang paling  sakti  bagi pegangan kita.  Kalau sakit  diuji  kita bersabar  kalau  diberi  sehat  kita bersyukur.

Semoga  kita semuanya  pandai bersyukur,  tidak sombong,  punya  welas asih  pada yang sakit , pada yang lemah, pada yang miskin, pada  yang di bawah.  Karena seperti Antonio  ketika ajal menjemput,  harta  kekayaanya  semuanya  ditinggalkan  di rumah  selamanya.

Semoga  pembaca  semuanya  diberi  sehat beserta  keluarga, rezeki  yang banyak,  sehingga  bisa berbagi  dengan  sesama.  Aamiin 


Magetan,  20 Februari  2021



Berdoa ketika kita naik kendaraan

Kita setiap hari hampir  naik kendaraan  entah itu berangkat  ke kantor  atau urusan bisnis yang lain. Tapi kebanyakan  kita belum berdoa sesuai  yang diajarkan Islam. Oleh karena  itu agar kita selamat  dalam perjalanan tidak ada salahnya kita hafalkan doa ini setelah itu kita amalkan. Artinya kita praktekkan dalam setiap perjalanan kita.

Begitulah caranya  biar kita tidak lupa selamanya. Seperti  halnya surat  alfatihah, karena  kita setiap  hari selalu membacanya  dalam sholat  maka insyaallah  selamanya  tidak akan lupa.

Doanya Seperti  ini;

Bismillahirrohmaanirrohiim

Bismillahi majreha wamursaha inna robbi laghofurrurrohim.

Subhanalladzi sakhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin wainna ila robbina lamunqalibun,

Artinya, 

Maha Suci Tuhan yang telah memudahkan kenderaan ini untuk kami, sedang kami sebelum itu tidak terdaya menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kamilah, kami akan kembali'.

Doanya  tidak panjang namun  kalau kita tidak  sungguh-sungguh  maka kita tidak  hafal. Akhir akhir  ini banyak kecelakaan berkendaraan baik itu pesawat  terbang  maupun  kendaraan  darat. 

Kalau kita sudah berdoa,  setidaknya  kita telah  memenuhi adap. Semoga Allร h memberikan keselamatan dalam perjalanan  kita. 

Keluarga  kita menunggu  di rumah.  Jangan sampai  ketika dipagi hari kita masih makan pagi bersama tapi di sore hari kita sudah di alam yang berbeda. Sungguh  menyedihkan. 

Tapi semuanya  itu ada takdir  Allah  yang sangat  menentukan. Kita harus percaya itu. Karena kita ini hakikatnya  hanya menapaki garis yang telah  ditakdirkan  oleh Allah.

Semoga kita semua  ditakdirkan  yang baik. Aamiin ya Robbal alamiin. 

Tulisan ini menandai isolasi  mandiriku  yang ke 20, saya dalam keadaan sehat  wal afiat,  tidak ada keluhan  apa-apa. Semoga pembaca semuanya  dalam keadaan sehat  beserta keluarga, dijauhkan dari Covid-19,  dan segala macam musibah juga penyakit. 



Magetan  20 Februari  2021





Kamis, 18 Februari 2021

Bersyukur atas nikmat Allah


Alhamdulillah,  saya bisa meliwati  masa masa krisis atas kehendak Allah SWT. Saya bersyukur  masih diberi  umur panjang, sehingga bisa menambah rasa syukur.

Hari ini saya menjalani isolasi  mandiri hari ke 19. Badan saya terasa sehat, makan banyak terasa nikmat. InsyaAllah  tinggal satu hari lagi isolasi  mandiri  sudah selesai. Akan terasa merdeka lagi. 

Ternyata kesehatan itu harganya mahal. Karena disaat sakit, semuanya  itu tidak penting.  Yang penting  adalah kesehatan.

Jika anda saat ini diberi  kesehatan,  berarti telah diberikan  nikmat  yang banyak, lebih-lebih  ditambah  iman, ilmu, harta benda, anak sholih,  istri sholihah.  Dan lain-lain. 

Maka kita harus banyak bersyukur 

Allah ta'ala memerintahkan agar kita senantiasa mensyukuri nikmat yang didapatkan dan tidak kufur kepadaNya..

Allah ta'ala berfirman:

 ูˆَุงุดْูƒُุฑُูˆุง ู„ِูŠ ูˆَู„َุง ุชَูƒْูُุฑُูˆู†ِ (152)

"Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur (ingkar) kepada-Ku". (QS. Al-Baqarah: 152)

Sekumpulan para ulama berkata: "Syukur adalah meninggalkan maksiat".

Sebagian dari mereka ketika ditanya apa syukur itu...?

Maka mereka menjawab: "Syukur adalah tidak menggunakan sedikitpun dari nikmat yang Allah ta'ala berikan untuk kemaksiatan".

Syukur juga berarti menampakkan sesuatu kepermukaan. Dalam hal ini menampakkan nikmat Allah. Sedangkan menurut istilah syara', syukur adalah pengakuan terhadap nikmat yang dikaruniakan Allah yang disertai dengan kedudukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan tuntunan dan kehendak Allah.

Dalam ayat lain , Allah Ta’ala berfirman,

ูˆَู„َู‚َุฏْ ุขَุชَูŠْู†َุง ู„ُู‚ْู…َุงู†َ ุงู„ْุญِูƒْู…َุฉَ ุฃَู†ِ ุงุดْูƒُุฑْ ู„ِู„َّู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ูŠَุดْูƒُุฑْ ูَุฅِู†َّู…َุง ูŠَุดْูƒُุฑُ ู„ِู†َูْุณِู‡ِ ูˆَู…َู†ْ ูƒَูَุฑَ ูَุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุบَู†ِูŠٌّ ุญَู…ِูŠุฏٌ

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

Lukman adalah hamba Allah yang terpilih diberikan hikmah  atau ilmu  sehingga  termasuk  keluarga  yang beruntung.  Antara lain Lukman diberikan  hikmah untuk  bersyukur.  Apabila  kita bisa bersyukur  maka yang beruntung  adakah diri kita sendiri. Allah akan menambah nikmat  yang diberikan. Oleh karena  itu bijaksana  sekali  apabila  kita memiliki  sikap syukur  itu. 

Apabila tidak , maka kita termasuk  kufur,  dan akhirnya  akan celaka, akan kena adzab. 

Oleh karena itu hebat sekali bila kita bisa meniru sikap Lukman hamba Allah yang sholih ini, yang namanya  diabadikan di dalam Al Qur'an menjadi nama surat, yaitu surat Lukman. 

Kesimpulannya, syukur kepada Allah adalah memuji Allah atas nikmat yang diberikan dengan mengakui dalam hati, memuji dengan lisan, serta memanfaatkan nikmat untuk beribadah dan bukan untuk jalan kemaksiatan. 

Kebahagiaan tidak menghampiri mereka yang memiliki segalanya. Namun, kebahagiaan akan menghampiri mereka yang terus bersyukur atas nikmat-Nya.

Semoga Allah  memasukkan kita ke dalam golongan  hambanya  yang bersyukur  yang memanfaatkan  nikmat  untuk  banyak ibadah bukan golongan hambanya  yang kufur. 


Magetan,  19 Februari  2021


Sumber bacaan


Rabu, 17 Februari 2021

Danang Suparmanto, sahabatku Sugihrejo yang terpilih

Assalamualaikum wr wb sedulur aku akan sampai kan cerita sekelumit tentang diriku secara bersambung 

Apalah arti sebuah nama ( William Shakespeare )

Nama ku Dhanang Suparmanto dengan sapaan akrab Dhanang .Itu di sekolah. jika cari alamat ku orang tidak tahu karena aku gak pernah disapa Dhanang di dusun kelahiran ku. 

Aku terlahir di desa Sugih Rejo kecamatan Kawedanan Kabupaten Magetan . Tentu saja mas Prof Sugeng tahu aku yang sebenarnya karena beliu 3 serangkai dari Sugih Rejo yaitu Sugeng Harianto Dhanang Suparmanto dan Mas Bini. Mereka adalah teman sekolah, teman belajar, teman bermain. Tiga nama ini sering menjadi figur publik di ruang kelas ku.

Aku sering cerita pada anak anak  tentang kesuksesan dalam meraih cita-cita  berkat Kerja sama dalam belajar bersama atau berkelompok. Dua orang Itu hebat Sugeng Harianto menjadi dosen di perguruan tinggi di Malang, Bini mengajar di SMP  di Jakarta dan aku orang yang terbodoh diantara mereka  ditugaskan menjadi guru di sini di daerah yang jauh dari keramaian kota. "Tapi aku masih bersyukur  masih di angkat sebagai guru  bisa ketemu kalian dan aku berharap kalian nanti menjadi orang orang yang sukses ," kata ku pada anak anak. 

Orang tua ku tidak pernah menyapa ku Dhanang . Ibuku menyapa akrab namaku man. Konco ngarit menyapa aku mantuk ,ada yang bilang kethil. Itu semua sekedar nama panggilan . 

Aku nggak rese dengan nama itu kayaknya sudah melekat di jiwa ku. Orang yang biasa menghormati ku menyapa  "ru..." Madsutnya guru, itu semenjak aku diterima di SPG. Aku terlahir dari keluarga petani nama bapak ku Wiratmo wakiran ibuku Saelah dan lima anaknya adalah 1. Sugito 2. Suroso 3. Suparman 4. Sumarti 5. Suwarni . 

Sepertinya nama ku nggak ada disana yang ada  Suparman . Ya.... Itulah namaku sebenarnya. Aku nggak tahu artinya . Kata orang "su" itu lebih  Parman itu pintar  jadi  Suparman artinya lebih pintar. Sejak kapan aku di namakan Dhanang Suparmanto?

Sejak lulus SD nama ku tertulis Dhanang Suparmanto di ijazah dan sebelum itu masku telah mengusulkan pergantian namaku. Aku adik kesayangan masku Sugito prestasiku di anggap lebih, nggak jauh dari namaku.

Dan betul saat kelas 4 SD aku rinking 1 rinking 2 Sumarno rinking 3 Sugeng Harianto .
Dan selanjutnya mas prof Sugeng Harianto unggul , di SD SMP SPG bahkan mas prof Sugeng menduduki juara umum sedang aku jauh di urutan belakang ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

Aku punya cita cita guru . Dan cita cita selanjutnya telah ku letakkan di pundak anak anak ku sesuai dengan nama anakku karena nama itu sebuah do'a, harapan atau cita cita. Anakku tiga 1. Muhammad Ridho Ali Akbar. 2. Suci Rahmawati Romadhon. 3. Muhammad Chafidz Furqon . Mereka bertiga terlahir dari seorang ibu Ani Sahana istriku. Itu saja dulu nanti disambung lagi

                              ***2***

Salam sehat mas Parno, sedulur semua semoga Allah selalu memberkahi dan menyayangi kita semua.

 Sedulur  aku cerita kemarin kisah nyata ojo di guyu Yo.....

Masa Remaja
Masa remaja identik dengan usia anak SlTA  ya lebih kurang 17-20 th. Sudahkah aku remaja dan dari mana aku menilai diri ku sendiri. Aku tidak mengerti apa Baro meternya . Badan besar ,kecil atau Akil balik. Secara fisik aku masih kecil . Orang bilang ah  SLTA kok kaya anak anak. Aku jujur ketika masuk SPG tinggi ku 136 cm dan beratku 36 kg. Disekelilingku ada yang terlihat kecil seperti Jamal sabar Heri subingar  dan juga aku sendiri ,itulah yang aku ingat . 

Akil baliq sejak SMP kelas 3 . Aku merasa dewasa ketika orang menyapa ku ru...atau guru....  Ya.. itu sejak aku  di terima di SPG . Tapi aku merasa malu ketika orang bilang guru kok Belum sunat. 
Jujur saat itu memang belum sunat  badan ku masih kecil . Orang bilang kecentet. Karena masih kecil mangkanya orang tua tidak banyakan berani belum sunat atau mungkin tidak ada biaya nyunatkan aku. 

Karena keci duduk dikelas selalu di depan , pernah di belakang tapi suruh kedepan atau mungkin nggak kelihatan dari depan. Kata orang sunat itu sakit luar biasa . Dan aku pernah melihat orang sunat pingsan. Jaman itu memang belum ada sunat dokter tahunya ke calak atau tukang sunat keliling . 

Melihat alatnya saja memang ngeri  penjepit dan arit gede ukuran kecil . Wah ngeri sekali
Aku pun tersenyum bayang betapa sakitnya . Ada yang nakut nakut kalau sunat dah tua nanti ngasap Lo....katanya sambil nyengir he...he...he.

Kata orang ada tiga kebahagiaan dalam hidup ini 1 sunat 2 nikah 3 naik haji . Tentu bahagia sekali aku mau disunat . Pasti banyak rezeki biasa teman teman arisan  sehingga aku akan banyak duit belum lagi Dar pak de bude Bulik pak lek dan sedulur yang lain. 

Walaupun sakit gak papa jalani saja toh memang kewajiban . Toh setelah  di sunat biasa biasa aja  dak juga sakit...dasar memang aku sudah tua ,  dah Akil baliq  17 tahun dan pernah mimpi basah๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜...  

Yang sakit sakit kalau ada bayangan melintas di depanku dan pikiran kemana mana ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚......  e...bengjak...e... Berdarah....., E .itu hanya masa lalu biarlah berlalu.

Aku jadi teringat  sama teman ku orang Jawa Sutiono namanya dia guru agama saat kenalan cerita panjang lebar  singkat cerita sampai pada cita cita. " Apa cita-cita mu kataku," kataku. 

Dia bilang , " cita-cita ku punya istri dua." Mengpa begitu kataku kaget, kataku. Ya... Karena aku sunat  dulu sakit luar biasa , dan untuk mengembalikan sakitku dan itu dah kukatakan sama istriku sebelum menikah dan dia setuju.....  Itu cerita pak Sutiono bukan aku . 

Aku tidak pernah punya cita cita seperti itu , tapi jika Tuhan menghendaki itu lain cerita 

Wasalam dariku Dhanang Suparmanto


Keshalihan Bu Parno

Istriku tahu kalau keuanganku menipis, lebih lebih menjelang  sakit ini,  pengeluarannya bnyak sekali. Untuk  berobat dan pemenuhan gizi setiap  harinya.  Karena orang  yang sakit  corona  harus makan banyak dan bergizi.

Pada saat sakit  ATM ku saya serahkan padanya,  saat itu ada isinya  9 juta. Pada saat sakit  itu istriku berpikir bahwa harta, jabatan, dan lain-lain  itu tidak penting,  yang paling penting adalah kesembuhan dan kesehatan suaminya. 

Pada saat keuangan menipis,  istriku  minta ijin untuk  menjual  perhiasan  gelangnya  yang dulu   saya belikan.  Dia tidak ingin berhutang  pada Ibunya, saudaranya,  lebih-lebih  temanya.  Dia tidak ingin merepotkan  orang lain.  Apa yang ada saja dimanfaatkan.

Saya dengan berat  hati mengijinkan. "Iya nanti kalau punya rezeki akan saya belikan lagi ya," saya merasa  kasihan pada  perempuan itu, setiap  kali  punya perhiasan  larut terjual.  

Dulu ketika  rumah baru berdiri sementara  belum  diplaster temboknya,  dia minta ijin juga  gelangnya  dijual untuk  biaya  memlaster  tembok biar  rumahnya  bersih.

Walaupun  dia punya perhiasan  karena dia berhijab,  maka juga tidak tampak di mata orang lain.  Jadi perhiasan itu hanya  ditunjukkan pada  saya agar kelihatan  cantik. Karena wanita  itu kalau memakai perhiasan  akan bertambah kecantikannya. 

Semua wanita itu  pasti suka perhiasan. Karena wanita  itu sendiri adalah perhiasan.  Dan sebaik baik  perhiasan adalah wanita yang sholihah. 

Saya pernah membaca kisah perjuangan Pak Dirman. Saya teringat  istrinya pak Jenderal  Sudirman, ketika  mau berangkat  perang gerilnya di Nganjuk,  istrinya  menjual  seluruh  perhiasanya , gelang  dan kalungnya untuk  bekal pak Dirman. Ketika gerilya pak Dirman tidak  pernah tertangkap  musuh,  karena pak Dirman punya amalan gantung  wudhu. Artinya  Beliau selalu berwudhu lagi kalau batal wudunya.  Istri Pak Dirman adalah memiliki  pribadi istri sholihah.

Kembali pada istriku. Tadi malam Dia menemaniku dalam tidurnya,  Dia berfikir  jangan-jangan suaminya   berpikir bahwa ketika sakit  tak ada seorang pun  yang mau dekat  dengannya. Sehingga  Dia curhat  pada  Hindun,  anakku  yang kecil.   Bahwa Dia ingin menemaniku  tidur.

Sebenarnya  saya tidak punya pikiran seperti  itu. Saya iklas tidur seorang diri.  Toh besuk  kalau saya meninggal juga akan seorang diri, tidak ada yang menemani. Sesholih apapun istri kita  tidak akan menemani  ketika kita pergi ke alam kubur. Hanya istri yang sholihah  pasti mendoakan  suaminya ketika suaminya  sudah meninggal dunia.

Saya tidak menolaknya,  karena  sudah 17 hari tidur seorang  diri, hanya tidur disampingku hatiku menjadi tentram. Sudah barang  tentu Dia melaksanakan  protokoler  kesehatan  secara  ketat. Dia pakai masker  rangkap dua. 

Ketika  kondisi  sakit  saya memuncak, dalam tahajutnya dia membaca alfatihah  41 kali membaca ayat kursi 41 kali. Dia memohon  pada Allah untuk kesembuhan suaminya.  
Apa yang dilakukan  itu  baru diceritakan  pagi tadi sambil  meneteskan  air mata.  Dia banyak bersyukur  karena suaminya  sekarang telah sembuh  dan sehat. 

Dia ingat  istrinya  mas Anang yang penyanyi  itu  namanya Ahshanti  sekarang  juga sakit  corona,  dihidungnya dipakaikan  oksigin  untuk  membantu  pernapasannya. Kalau Ahshanti  mungkin  harta dan uangnya melimpah. Tapi  ketika  sakit seperti  itu  harta seolah tak berarti  apa-apa.  Yang paling  penting adalah  kesembuhannya.

Seperti  itulah kawan pentingnya  istri sholihah bagi seorang  suami,  akan mempercepat  kesembuhan suaminya  disaat sakit , akan menentramkan dam membahagiakan suaminya  saat bersedih. Maka beruntunglah suami- suami yang istrinya  sholihah.

Tulisan  ini sebagai penanda saya sudah sehat, dan isolasi mandiri  hari ke 18. Tinggal  2 hari lagi  isolasi  saya selesai, saya akan ke mesjid  ikut sholat  jamaah bersama orang-orang  baik.

Demikian  kawan, semoga  istri kalian sholihah,  kalian sehat beserta  keluarga,  terhindar  dari segala macam musibah bahaya selamat  dunia akherat. 

Magetan,  18 Februari  2021







Selasa, 16 Februari 2021

Bersegera kepada Ampunan Allah

Ketika saya sakit parah yang paling penting bagi saya adalah , bagaimana saya bisa mendapatkan  ampunan  dari Allah, sehingga  kalau saya diambil  sewaktu waktu  saya bisa sowan keharibaan Allah dalam kondisi sudah diampuni.  
Untuk  itu saya banyak  membaca istighfar, sampai  pernah tidak sadarkan diri. 

Yang kedua sambil mengingat-ingat hutang saya pada siapa  yang belum  saya bayar. Karena takut  kalau-kalau besuk di akherat  harus mengembalikan. Padahal di saat itu tidak ada rupiah,  dinar dan dirham. Yang ada adalah tabungan amal sholih dan dosa yang dilakukan.

Masalah  pekerjaan, jabatan, tidak saya pikirkan  karena pasti  digantikan  orang lain.  Masalah istri saya, bisa jadi kalau saya sudah meninggal  akan ada penggantinya. Tapi yang terakhir  ini saya yakin tidak akan  terjadi  karena cintanya istri saya melebihi dalamnya samudra dan melebihi luasnya jagad raya.

Berikutnya  saya berharap akan dimasukkan  ke surga, yang luasnya seluas langit dan bumi. 

Tadi pagi saya buka-buka  Al Qur'an,  bertemu  ayat ini, 
Quran Surat Ali ‘Imran Ayat 133 

Wa sฤri'ลซ ilฤ magfiratim mir rabbikum wa jannatin 'arแธuhas-samฤwฤtu wal-arแธu u'iddat lil-muttaqฤซn 

Terjemah Arti: Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa

Tafsir Quran Surat Ali ‘Imran Ayat 133 Dan bersegeralah dengan ketaatan kalian kepada Allah dan rosulNya supaya kalian bisa meraih ampunan yang agung dari tuhan kalian dan surga yang luas, luasnya seluas langit dan bumi, Allah menyiapkannya untuk orang-orang yang bertaqwa.

Siapakah orang yang  bertakwa itu? Dijelaskan pada ayat berikutnya  134, 

Alladzina yunfiquna fis sarro-i wadhdhorro-i wal kadhiminal ghoidho wal 'afina 'anin nas.

Wallahu yuhibbul muhsinin.

Artinya:

Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang
maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan
(kesalahan) orang lain.

Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

(QS 3 Ali 'Imron ayat 134)

Jadi surga seluas langit dan bumi itu disediakan bagai orang yang bertagwa, yaitu orang yang;
1. Menafkahkan hartanya,  baik diwaktu lapang maupun  sempit. 
2. menahan amarah,  artinya harus sabar.
3. memaafkan kesalahan orang lain. 
4. Apabila berbuat dosa segera mengingat Allah, lalu memohon   ampun dan tidak meneruskan perbuatan dosa itu.  (Qs. Ali Imron 135).

Jadi saya pikir  4 hal ini yang sebenarnya  penting,  tidak saja bagi orang yang sakit  parah tapi juga ketika kita dalam keadaan sehat.  

Kalau  kita ingin surga yang luasnya seluas  langit dan bumi maka kita harus berupaya memenuhi  ke 4 karakter  diatas, disiapkan meluai  sekarang.  

Karena syaratnya  mati tidak harus sakit, tidak harus tua. Seperti diceritakan  oleh sahabat  saya mbak Niken di Nganjuk,  ada keluarga   berjumlah  12 orang, yang 11 orang meninggal  seketita  , karena bencana alam tanah longsor. 

 Mereka semua sebelumnya  sehat wal afiat, tapi  semuanya  meninggal  dengan mendadak  karena bencana  alam tersebut.

Semoga semua  kurban bencana  alam banjir  dan tanah longsor  di nganjuk diampuni  dosanya,  diterima  amalnya, ditempatkan  di surga-Nya.  Keluarga  yang masih hidup  diberi  kekuatan  untuk  bisa memikul   beban hidupnya dan segera  ada jalan keluar  dari permasalahannya. Aamiin.

Tulisan  saya ini penanda saya masih diberikan  kesehatan  yang saat  ini isolasi  mandiri  hari ke 17. Kesehatanku  baik,  tidak ada keluhan, tinggal  menunggu  hasil SWAB dari Puskesmas  Sukomoro.  

Demikian  semoga pembaca  diberikan  sehat  semua  beserta  keluarga.  Aamiin.

Magetan,  17 Februari  2021.




Sumber bacaan:
Referensi: https://tafsirweb.com/1265-quran-surat-ali-imran-ayat-133.html

Senin, 15 Februari 2021

Dia ingin aku bernyanyi

Istriku ingin aku bernyanyi, memang aku jarang bernyanyi, kalau pada acara hajatan di rumah temanku atau acara khusus, misalnya  perpisahan,  atau apa biasanya  aku menyanyi. 

Suaraku kata orang bagus, enak didengarkan.  Hal ini tidak terlalu salah mungkin, karena dulu  saya pernah jadi MC antara tahun 1996 s.d 2013. 

Setidaknya  sering bernyanyi  di depan orang banyak. Menyanyi itu bisa menyenangkan, bisa menentramkan, bisa membahagiakan. Inilah alasan  kenapa istriku  ingin aku bernyanyi.  Dia tidak ingin aku serius. Dia ingin aku bahagia,  ceria,  tidak usah kerja berat-berat.

Memang  1 tahun terakhir  ini saya banyak menulis,  setiap hari menulis,  istriku  tidak tahu bahwa menulis  itu juga hiburan, menyenengakan, membahagiakan. Disamping itu menulis  juga mencerdaskan otak , mencegah kepikunan, mencegah alzheimer ( lupa ingatan), memperbaiki suasana hati., meningkatkan daya ingat. Dan lain-lain masih banyak  lagi.

Tapi karena  saya posisi  sakit, ya tidak banyak menjawab,  argumen saya biar dalam  tulisan ini saja. 

Banyak orang-orang  hebat yang namanya  abadi dalam sejarah  umat  manusia , seperti  Imam Bukhori,  Imam Muslim,  beliau  orang cerdas  yang hafalanya melebihi  kemampuan manusia  pada  umumnya.  Tapi beliau  menyadari  kalau  ilmunya hanya  dihafalkan saja, maka usia ilmunya hanya  sebatas usia  dalam hidupnya. Beliau  tidak  seperti  itu, maka ilmunya  ditulis  sehingga  menjadi media  dakwahnya,  yang dipelajari  manusia  hingga sekarang.  

Imam Bukhori hidup  tahun 810M s.d 870 M, kalau sekarang  tahun 2021 maka berarti  beliau  hidup 1.151 tahun yang lalu.  Kalau beliau  tidak menulis maka mustahil  namanya  masih diingat  hingga sekarang,  kakek canggah saya saja saya tidak tahu namanya siapa, dikuburkan dimana,  apa lagi pernah  memiliki  hasil karya  apa. Tidak tahu, karena beliau  tidak menulis.  

Kalau  kakek buyut saya tahu, namanya Kerto Taruno, yang pernah  menjabat  Lurah  desa Pojoksari  ditahun itu. 

Jadi rata rata ingatan manusia  hanya  sampai kakek buyutnya. Karena hanya sebatas diingat-ingat saja, tidak dituliskan.

Untuk  itulah saya menulis,  saya menulis silsilah keluarga  saya dalam buku Perjuangan Hidupku,  sebuah autobiografi,  saya juga menulis  sejarah desa Pojoksari,  yang bukunya didistribusikan  di perpustakaan  desa pojoksari  dan sekolah  yang ada di Pojoksari,  minimal ada  3 SD yang ada di sana. Nama saya ada dalam buku  itu. 

Jadi menulis itu  adalah pekerjaan keabadian.  Orang boleh pandai setinggi langit akan tetapi kalau  tidak menulis  maka namanya akan lenyap ditelan jaman. Begitu menurut  Pramudya Anata Tour, seorang penulis  terkenal.

Oleh karena itu tidak bisa saya disuruh berhenti  menulis. Saya akan tetap menulis hingga  saya tidak bisa menulis lagi.

Menulis bagi saya sudah menjadi darah daging saya, semangat menulis saya menggebu-gebu. hingga  dalam suasana  sakit pun saya tetap menulis.  

Saya sakit mulai  tanggal 29 Januari 2021 hingga  sekarang (16 Februari 2021). Tanggal 30 Januari  saya masih bisa menulis, kemudiaan  berhenti, hingga  tanggal 5 saya baru bisa  menulis lagi,  setiap  hari.

Penulis itu  memang manusia langka, jarang orang yang mau dan mampu  melakukannya.  Saya ingin  kuliah S3 tidak  memiliki  biaya, akhirnya  untuk  meningkatkan  pengetahuan  saya dengan menulis  saja. Karena menulis itu juga proses belajar yang tak pernah selesai. 

Jadi seorang penulis  akan  belajar terus,  dan menuliskan  apa yang dipelajari  dan dipahami  dan dibagikan  kepada pembacanya. 

Orientasinya  tidak materi, atau uang semata,  tapi  penulis  sejati  berorientasi  pada berbagi  ilmu pengetahuan  yang dimilikinya. 

Hingga  ada penulis  yang membagikan karya  tulisnya  diseluruh  perpustakaan  besar  di Indonesia  secara cuma-cuma. (Bapak Dr.H. Suprawoto,  SH, M.Sc. Bupati Magetan)

Beliau berpikir  ini sebagai ladang amalnya. Tidak beramal  dengan harta atau uang, tapi beramal  ilmu pengetahuan  melalui buku hasil karyanya.

Demikian  tulisan  saya hari ini untuk  penanda isolasi mandiriku hari ke 16. Saya sudah sehat, hanya menunggu  hasil SWAB PCR dari Puskesmas  Sukomoro.  

Semoga  saudaraku  semuanya diberikan  sehat,  sehingga  bisa melakukan  aktivitas  produktif yang bermanfaat  bagi kehidupan. 


Magetan,  16 Februari  2021















Minggu, 14 Februari 2021

Menulis setiap hari perubahan pasti terjadi

Senin, 15 Februari  2021 adalah hari ke 15 saya isolasi mandiri,  harusnya  sampai  haribke 10 saja. Apalagi kesehatanku  juga sudah baik. Tapi karena mengikuti  prosedur  birokrasi  ya ikut  saja. 

Saya masih menunggu  hasil Swab PCR. Kalau  hasil swab negatif, saya sudah bebas dari isolasi  mandiri. 

Kalau hasil swab positif saya harus menambah  isolasi  mandiri  10 hari lagi  terhitung  tanggal 10 Februarai  2021.

Kegiatan  selama  isolasi mandiri  saya gunakan  untuk  menulis dan mengkoordinasi kantor  lewat Grub Wa. Sudah barang tentu  program kesehatan  tetap jalan terus. 


Minum obat herbal,  yang dari Mas Doktor Sugeng Hariyanto; Cambio8,  Madu Murni,  qusthul Hindi, habatus sauda, cuka apel batu, minum vitamin BECOM-C,  Madu bawang lanang, Susu Bear Brand, telur kampung setengah matang, olahraga  ringan,  membaca Alqur'an  dan lain-lain.  Semuanya  itu  adalah untuk  meningkatkan  imun tubuh.


Di rumah isolasi mandiri  sebenarnya  sudah bosan, ingin kembali  ke aktivitas  normal  lagi. Tapi apa daya kondisi yang mengharuskan  seperti  ini.

Alhamdulillah  di dunia menulis   ada kegiatan  sebagai  kurator  menulis kroyokan
Menulis  antologi hijrah titik  balik. 

Sampai  saat ini baru ada  8 peserta  yang sudah mengirimkan  naskahnya, untuk  dijadikan buku. Yang lain masih ditunggu  lho.

Ya kegiatan  ini anggap saja kita latihan mempertajam kemampuan kita menulis, menghaluskan bahasa dan diksi kata yang dipilih sehingga  suatu  saat akan menjadi penulis  handal. 

Saya mempunyai  karya terkini dibidang menulis  yaitu Langkah  Jitu Menjadi Penulis Hebat  bersama  para Pakar  setebal 203 halaman.  Buku ini cocok dibaca dan dimiliki  penulis pemula  untuk  nemperkaya wawasannya di bidang menulis. Sehingga  kelak akan menjadi  penulis handal. 
Pesanan di layanan melalui 08125212122 dengan pengganti biaya  cetak  70.000 ditambah ongkir. Kalau tidak pesan ya tidak apa apa. Yang penting kita semua bahagia. Menulis setiap hari perubahan  pasti terjadi.


Magetan,  15 Februari  2021








 

Sabtu, 13 Februari 2021

Perjuangan meraih mimpi

Selepas SPG saya melanjutkan kuliah  di IKIP SURABAYA jurusan Psikologi Pendidikan  dan Bimbingan. 

Sebelumnya saya tidak pernah menginjakkan kaki ke Surabaya. Maklum bapak-ibuku orang desa yang tidak pernah kemana-mana. Jadi akhirnya  saya tidak ada pengalaman  sama sekali hidup di kota besar.

Ke Surabaya  saya bersama seorang kenalan yang belum akrab,  namanya Kasianto seorang pemuda yang beralamat di desa Jetak, saya menumpang  di rumah kakaknya bersama Kasianto yang juga ikut tes Sipenmaru. 

Pada saat berangkat  tes, perutku mules luar biasa,  sudah tidak ada kepikiran  nanti bisa mengerjakan  tes atau tidak, yang penting  saya bisa segera  dapat wc dan mengeluarkan  hajat  yang saya tahan di bus kota jurusan Kutisari Demak itu. 

Sesampai  di kampus tempat tes, saat itu tempat  tesnya  di  ITS.  Saya langsung  cari WC dan brrrrottt . Alhamdulillah  selamat  plong lega rasanaya. 

Kemudian  saya baru bisa berpikir  menghadapi  tes. 

Singkat cerita saya diterima. Kemudian cari tempat kost di jalan Semut Baru gang II, nomornya lupa.  Saya sudah lega dapat tempat kost  yang dekat  dengan kampus.  Kampusnya berada  di Jl. Pecindilan. 

Satu tahun di situ suka-duka ku alami,  kemudian pindah di pondok  pesantren  yang berada di sekitar  dekat  masjid Ngampel. Pondok Al Ulumus Salafiyah. 

Di pondok  ini saya bertemu  orang-orang  sholih, seperti Bashori, Sholikun, Ahmad Fauzi,  Zainul  Arifin, Haidor,  Muhammad  Fauzi, Dul Jalil , Imam Kurtubi dan lain-lain.
Saya belajar agama,  akhlak dari mereka.

Sedangkan Kyainya,  KH Miftahul Ahyar, yang sekarang Rois Um PBNU, KH Tohir Samsudin, KH Hamid Shirajd (kotib masjid Ampel).  Dan lain-lain. 

Dua tahun saya di sini, jadi kuliah sambil mondok,  yang pernah berkunjung  ke sini teman saya adalah mas Darman. 
Berada di lingkungan pondok di hati  rasanya ayem tentrem.  Kegiatan saya hanya ngaji, dan belajar  ilmu kampus. 

Setelah tiga tahun kuliah  saya tamat, tahun 1989, dan alhamdullilah  lulus terbaik dengan predikat  sangat  memuaskan.  

Kemudian saya dipanggil  oleh dosen pembimbing  saya, Bapak Drs. FX Sumaryono.
"Mas Parno, karena lulus terbaik,  dapat tawaran dari kampus,  ikut pengangkatan  atau transfer  S1." Kata pak FX menjelaskan kepada saya.

"Ikut pengangkatan saja pak," jawabku  tanpa pikir  panjang. 
"Lho nanti tidak menyesal,  ya agak ngoyo sedikit  ikut transfer  S1, mumpung ada kesempatan, " konfrontasi dari pak FX.
"Tidak pak, sapi Bapak saya sudah habis, untuk  biaya kuliah." Jawab saya tegas.

Untuk  kuliah biaya saya berasal dari hasil penjualan sapi  Bapak saya. Bapak saya petani, sambil memelihara  sapi. Tahun 85 itu ada dua indukan sapi dan alhamdullilah  setiap  tahun beranak. Anak- anak sapi itu  yang dijual  untuk  biaya  kuliah saya. 

Kalau liburan semesteran  saya mencari jerami ( damen ) untuk  pakan sapi. Tidak tanggung -tanggung 2 truk.  Bapak saya senang sekali  karena saya bisa bantu  cari pakan  sapi, walaupun uangnya  juga dari ibu saya. 

Setelah tamat  dari IKIP  saya sukwan di SMP1 Sukomoro, honor  saya 10.000. Sementara  ketika kuliah  uang saku saya 30.000. Sebulan. 
Saya tidak berani  minta uang pada Ibu saya, karena saya sudah banyak merepotkan  saat kuliah. Ya cukup tidak cukup 10.000 itu harus dicukupkan untuk  keperluan 1 bulan.

Saya belum berani cari pacar karena keuangan  sangat mepet.  Sebagai pengisi  waktu luang saya banyak berada di Masjid,  setiap hari  tidur  di Masjid, yang kebetulan  berada di depan rumah saya.  Sambil mujahadah. 

Kalau sore mengajar  TPA, santrinya sampai banyak sekali  ada sekitar  30 anak. Ditambah ibu ibu  ada sekitar 20 orang, pemuda  ada sekitar  10 orang. 

Setiap abis magrib saya adakan taklim , akhirnya  pemahaman  agama  masyarakat  menjadi bertambah  baik. Tapi tidak semuanya,  ada yang membalikkan fakta, kaumnya Abdullah bin salul, alias orang munafik.

Mereka  mengadakan konspirasi,  "Masno ke agamane ora podo karo awake dewe." Akhirnya bom waktu tidak bisa dihindari, saya "diadili  secara adat."

Akhirnya  saya tidak mengimami lagi dan saya akhirnya  sakit struk, tidak bisa jalan. 
Saya berobat ke Dr. Bambang Hening Subroto, spesialis saraf , Madiun dร n sembuh. 

Saat itu saya sudah diangkat CPNS (1992) dan punya  pacar. Akhirnya  saya menikah ( 1994) dan meninggalkan  desa itu, ikut di mertua. 

Saya saat itu mengambil  3 keputusan  penting, menikah,  melanjutkan  kuliah,  dan kredit  sepeda motor  baru. Alhamdulillah  semuanya  berjalan  baik-baik  saja dan saya bisa lulus  terbaik  dalam waktu  2 tahun.
Istri saya namanya Siti Nurhasanah, saat kunikahi dia belum lulus kuliah,  baru semester  5 IKIP PGRI Madiun.  Tapi tidak hamil duluan jangan salah sangka, kawan.

Anaknya  cantik, sholihah  menurut  ukuran saya. Tidak banyak menuntut  macam- macam pada saya. Selesai D3 , dia sukwan di MTs.  Tahun 96 Dia melanutkan S1 dan lulus tahun 1998. Selama 12 tahun baru diangkat guru bantu.

Tahun 2008, diangkat  CPNS di SMP 1 Sukomoro, hanya berjarak 4 km dari rumah.  tahun 2011 ikut sertifikasi, tidak lulus. Setiap hari menangis.  Saya jadi bingung. 

Untuk  hiburan  kemudian melanjutkan  S2 dan lulus tahun 2013. Tahun 2014 Dia lulus sertifikasi. Sudah kembali ayem hatinya

Kembali pada Masjid yang saya tinggalkan tadi berangsur -angsur jamaahnya berkurang dan akhirnya sepi. Setelah adik saya besar, dirintis lagi dilanjutkan  oleh adik saya dan sekarang Alhamdulillah  sudah dipugar  menjadi masjid terbaik  di Pojoksari.

Dibawah kepemimpinan  adik saya tidak banyak masalah,  baik-baik saja. 

Ketika belum menikah  antara tahun 1991 s.d 1993 saya merintis usaha kecil-kecilan. Jualan kain dan sepatu, dikirim ke Samarinda. Sekali kirim saya dapat laba 83. 000, saat itu gaji CPNS 78.000.

Disamping  itu juga punya usaha  membeli batu merah  yang masih mentah,  kemudian  saya bakar trus dijual. Saya bisa untung  lipat 2x modal.  

"ฤŽipecat" dari imam masjid, fokus di dunia bisnis, alhamdulillah  Allah  memberikan  rezeki  yang melimpah,  untuk  ukuran saya. 

Tapi usaha saya tidak ada yang besar, karena mau usaha yang besar, takut, kalau bangkrut, nanti ujung-ujungnya merepotkan orang  tua. Saya tidak suka seperti  itu.  

Kemudian usaha memelihara kambing,  1 bulan sebelum  hari raya  qurban, saya beli kambing jantan yang siap  qurban, sudah powel,  kemudian menjelang  hari raya qurban dijual,  masing  masing  saya dapat untung  25.000. 

Seperti  itu usaha demi usaha saya buat,  sampai jadi MC manten, tukang sablon undangan, jadi pemborong dan sekarang  usaha sound system. 
 Sekarang usaha  sound sistem dipegang  anak saya yang passionnya  memang di situ. 

Kembali  kepada tugas saya sebagai guru,  SK CPNS saya di SMP2 Kawedanan,  dari guru  biasa  hingga jadi wakasek tahun  2008. 
Tahun 2006 saya melanjutkan  kuliah S2 di UNIPA Surabaya  dan lulus tahun 2008.
Tahun 2011 juara guru berprestasi  tingkat  Kabupaten.  Kemudian  tahun 2013 tes Calon Kepala  Sekolah dan lolos. Tahun 2015 saya mengikuti UKG ( Uji Kompetensi Guru)  nilai saya  91.24 akhirnya  saya terpilih sebagai Narasumber  Nasional guru  pembelajar.  

Gara-gara itu saya diklat  di Makasar  2 x  masing- masing 8 hari. Saya naik pesawat  gratis,  tidak mengira  anak SPG bisa naik pesawat.  Pesawat  yang saya pilih adalah  Garuda.  

Tahun 1986 saya baca koran saat itu  Dirut  Garuda  adalah Moehammad Soeparno. Menurut  sang dirut  suparno berasal dari bahasa  sansekerta, artinya adalah Garuda. 

Saya sendiri  pernah baca buku judulnya  burung Garuda,  disitu dijelaskan  burung garuda  dipanah oleh ular Naga mengenai bulunya yang berkilau,   bulu burung garuda  yang berkilau  seperti  emas itu namanya sang suparno. 

Ketika saya jadi  manten, saya mendapat tetenger asma sepuh  Suparno  Muhammad.

Saya jadi narasumber  2 tahun yaitu  antara tahun 2016 hingga  2018. Saya pernah memberikan  diklat  di Bandung  dan Surabaya. Di Bandung  saya naik  pesawat  lagi.  Pesawat  Garuda tentu saja.
Kemudian tahun 2018 mengikuti  diklat  di Bali, naik pesawat  lagi, Garuda.  

28 Februari 2016 , saya  diangkat  sebagai Kepala  Sekolah  di SMP3 Kawedanan. Kemudian bulan Maret  diklat  di Makasar.  Di bulan itu  juga sekolahku dapat proyek  pembangunan  ruang Lab IPA berikut isinya. Jadi mendapatkan keberuntungan yang beruntun. 

Selama  3 tahun saya disekolah  ini dan akhirnya  dimutasi  di SMPN 1 Takeran.  Sekarang saya sekantor dengan mbak Endah Sulistyorini  yang dulu  di SPG pernah satu kelas  selama dua tahun.

Di SMPN 1  Takeran  sudah 2 tahun, suka duka  kualami  di sekolah  berbasis IT  dan agama  ini.  Siapa yang punya ide ini?. Ya saya sendiri. Tahun 2019 setiap sekolah  di Magetan  ini harus punya  brand. Di SMPN 1 Takeran  brand nya adalah Sekolah berbasis Agama, IT, kearifan lokal dan berbudaya lingkungan.  

Mulai tahun 2019  saya melanjutkan  passionku menulis  yang sudah beberapa tahun fakum, tidak menghasilkan  karya tulis. Buku  hasi  karya  saya antara lain;
1. Perjuangan hidupku 2019
2. Masalah BK di Sekolah  2019 
3. Pranatacara dan Pamedarsabda 2019
4. Potensi Desa Pojoksari  2020
5. Catatan harian seorang kepala  sekolah 2020 
6. Catatan seorang Kepala Sekolah  2020
7. langkah Jitu  menjadi penulis hebat  2021
13  Maret 2019 ada wabah corona, saat itu  ASN  bekerja dari rumah. 

Oo iya sobat,  ditempatku yang sekarang saya diberi amanah jadi ketua  takmir  masjid lagi, sejak tahun 2008. Karena Kyai yang lama , istrinya meninggal  kemudian membuat  rumah lagi yang jauh dari Masjid. 
Masjidnya ditinggalkan. 

Akhirnya  berdasar  musyawarah masyarakat  saya yang ditunjuk  untuk  mengurusi  masjid, sebagai ketua Takmir.  Saya ngimami lagi, tapi  saya buat bergantian dengan teman saya Pak Mahmud dan Kang Slamet. 

Kembali pada pandemi corona lagi, 
Waktu  itu banyak saya manfaatkan untuk banyak berdzikir di masjid, terutama  setelah  sholat subuh, hingga matahari terbit  seujung tombak.

Berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Siapa yang salat Subuh berjemaah, lalu duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian, sholat dua rakaat, ia akan mendapatkan pahala haji dan umroh sempurna (diulang tiga kali)."

Beberapa hari saya lakukan seperti  itu akhirnya  saya dapat hidayah  untuk  menimba ilmu toriqoh. 

Dalam hati saya ada diskusi,

"Lha iya, saya itu suka berdzikir tapi kok tidak ada guru spiritual yang ngajari ini bagaimana?" Pertanyaan  di hatiku.

Kemudian saya ikut torikoh satoriyah di pondok  Tegalrejo. Di sini diwejang ngelmu sepuh, ngelmu sangkan paraning dumadi dan amalan dzikir. Dengan ini menambah mรจneb hati saya. Dan sholat saya bertambah kusuk, demikian juga ฤzikir saya. 

Demikian  kawanku semua cerita  perjuanganku selepas SPG, berjuang mengejar  mimpi, karena hidup  itu  adalah perjuangan yang harus dimenanngkan. Agar mimpinya bisa diraih.

Percayalah siapa yang menolong agama Allah pasti akan ditolong  oleh Allah, sebaliknya  siapa yang memusuhi orang-orang yang memperjuangkan agama Allah,  hidupnya  pasti hancur  baik di dunia maupun di akherat. 


Magetan,  14 Februari 2021