Minggu, 13 September 2020

Pelopor dan educator

Tadi malam saya membaca  kiriman artikel  dari sauadara saya , Mas Subairi  KS SMP1  Panekan, judulnya  Terminologi OTG. 

Terminologi  itu  ilmu tentang peristilahan atau ilmu tentang istilah dan penggunanya. 
OTG adalah orang tanpa gejala, maksudnya  orang yang sebenarnya  pada dirinya  terkena virus covid-19  tapi tampaknya  sehat  sehat  saja, atau tanpa gejala  apa apa.

Yang seperti  ini kemana-mana  menularkan virus  tapi tidak ada orang yang tahu. 
Siapa  OTG itu,  tidak menutup kemungkinan  adalah  saya, kamu, istri kita, suami  kita,  teman kita di kantor,  teman kita di masjid, tetangga kita. Orang yang bertemu dengan kita tadi malam,  orang yang nanti  bertemu kita di pasar, di mall  dan sebagainya.

Oleh  karena itu  kita harus selalu  waspada  dengan siapa saja,   baik  orang yang tampak sehat  maupun yang sakit.  Kita harus tetap pakai  masker dan jaga jarak. 

Terutama bila takjiah tidak usah berjabat  tangan dengan siapa  saja yang hadir,  lebih lebih berpelukan. Tetap  hadir,  memberikan  ucapan berbela Sungkawa dan mendoakan.

Selepas takjiah,  cuci tangan sebelum masuk rumah,  lepas sepatu  atau alas kaki  kita jangan bawa masuk rumah. Kemudian mandi yang bersih. Demikian juga ketika  kita pulang dari kantor. 

Di Jakarta  di TPU Pondok Ranggon, setidaknya  ada 40 jenazah dimakamkan di situ setiap hari , meningkat  10 jenazah per hari pada Maret lalu. Tempat pemakamannya  ini diprediksi  penuh  sebulan lagi ( Jawa Pos 13 September  2020)

Kejadian ini menjadikan kita untuk  lebih disiplin  dalam melaksanakan  standar protokoler kesehatan. Saya pikir setiap  orang tahu  tentang standar protokoler kesehatan,  tetapi kebanyakan belum atau tidak melaksanakan dengan disiplin dan iklas. 

Bahkan membaca  tulisan yang berkaitan  dengan covid-19  saja sudah bosan. Termasuk membaca tulisan ini mungkin.

Langkah strategis 
Menjadikan setiap kita semua sebagai pelopor dan educator pemutusan mata rantai  penularan  covid-19. 

Kita menjadi contoh  untuk  melakukan  standar  protokoler  itu dimanapun  kita berada. Di keluarga kita,  di kondangan,  di masjid, di kantor,  di mall, di pasar,  di mana  saja kita berada.  

Kemudian memberikan  edukasi  kepada  orang-orang  dekat  kita,  untuk  melaksanakan  standar  protokoler  kesehatan dengan kesadaran  diri  yang baik,  yang iklas,  yang disiplin. 

Kita  ajak  orang sebanyak banyaknya untuk  menjadi  seperti  kita yaitu  pelopor  dan educator. 

Magetan,  14 September  2020



5 komentar: