Rabu, 24 Februari 2021

Target Juli Sekolah Tatap Muka

Hari ini saya mulai  masuk  Dinas, suasana agak sepi karena guru-guru  50% WFH. Dan anak anak BDR ( Belajar  Dari Rumah) dengan modal daring.

Suasana agak padang  karena banyak pemangkasan  batang pohon oleh PLN, yang tadinya  rimbun. Dengan tujuan semasa musim penghujan tidak ada pohon tumbang yabg mengenai  kabel  PLN.

Ada angin segar  tentang  KBM tatap muka, insyaallah  Juli  2021 merupakan  target kegiatan  tatap muka  dimulai. 

Saat  ini vaksinasi Covid-19  mulai menyasar guru dan tenaga pendidikan . Targetnya , 5 juta orang selesai di suntik vaksin  pada bulan Juni mendatang ( JP. 25 Februari  2021)

Pak Nadiem mengakui resiko PJJ yang terlalu lama sangat besar,  mulai  dari lost learning  hingga putus sekolah,  karena itu  vaksinasi menjadi angin segar  untuk  bisa  melaksanakan  KBM kembali di sekolah maupun di kampus.

Disamping  itu  menurut  bu Unifah Rosyidi, ketua PGRI,  guru  dan siswa sudah sangat  rindu untuk  melaksanakan pembelajaran  secara  langsung di sekolah. Sehingga  sepakat  dengan harapan mendikbud soal KBM tatap muka  setelah vaksinasi. 

Berkaitan  itu  masyarakat  tentu  menyambut  dengan gembira agar harapan  itu  bisa terwujud  dengan baik. 

Oleh karena  itu kita semua  harus mendukung  program  pemerintah,  terutama pemerintah daerah dalam upaya  penanggulangan  Covid-19.  

Kalau di Magetan  sejak tgl 21 Februari sd. Tanggal 7 Maret 2021 ada gerakan memakai  masker  24 jam. Masker  hanya dilepas saat mandi,  wudhu, dan makan.  Setelah itu  dipakai  lagi.  

Ini adalah  upaya  untuk  memutuskan mata rantai  penularan  Covid-19,  setelah  berbagai  upaya  sebelumnya ternyata  masih  juga menunjukkan  grafik  yang meningkat dari hari ke hari. 

Saya meraskan  sendiri  isolasi mandiri  karena  kena Covid-19,  rasanya  ribet sekali,  biayanya  mahal, belum  kalau  tidak lulus, belum  sangsi sosial  yang diberikan  warga. 

Mestinya  yang terakhir  ini tidak dilakukan,  justru  menyemangati  mereka yang sekarang  sedang terkena, atau sudah sembuh  Sehingga  beraktivitas  kembali  dengan semangat  untuk bekerja   mengisi pembangunan.

Karena virus ini seperti  misterius,  kurang  hati hati apa pak Gubernur  DKI, bu Gubernur  Jatim, dan para pejabat-pejabat  yang lain, pak Bupati Sidoarjo,  tapi juga masih kena. 

Yang penting  kita melaksanakan  protokoler  kesehatan  dengan ketat, kalau sakit  ya diobatai,  diperlakukan  secara manusiawi,  jangan dikecam. Jangan- jangan yang mengecam  suatu  saat juga kena  Covid-19.  Terus mau bilang  apa kalau itu terjadi?

Menurut  saya orang-orang  yang terkena gejala, kemudian  memeriksakan  ke dokter,  kemudian  melakukan swab, dan dengan jujur  mengatakan kepada  orang-orang  di sekelilingnya adalah etikat yang baik,  akhirnya  orang-orang  lain lebih hati-hati,  untuk memakai  masker, jaga jarak dsb.

Karena ada juga warga  masyarakat  yang memiliki  gejala , diobati sendiri, tidak bilang  siapa siapa,  karena takut  disangsi  sosial. 
Yang demikian  ini justru  membahayakan  orang lain.

Saya sejak dinyatakan  Covid-19,  lapor  ke puskesmas,  kemudian  isolasi  mandiri,  pagar  ditutup  rapat.  Bahkan  saya share  di blog mengenai  sakit  saya. 

Alhamdulillah  sudah lulus,  malah saya dapat  imun yang alami,  semoga  nanti nggak usah divaksin. Saya membaca berita seperti itu.  Semoga vaksin segera  terlaksana dan pandemi segera berakhir. 

Yah, kita berdoa  semoga pandemi  ini cepat berlalu , sehingga  kita  bisa beraktivitas  normal  seperti sebelum  pandemi  datang. 




Selasa, 23 Februari 2021

Membina hubungan baik dengan Allah

Sejak kecil hidupku  penuh ujian, kata orang ujian itu akan membuat  orang naik kelas, akan membuat  orang lebih bijaksana, akan membuat  orang memiliki level yang tinggi.

Yang namanya dirasani orang itu sudah biasa. Bukan karena ulahku yang nakal atau tidak beres. Tetapi lebih disebabkan rasa iri , dengki yang dimiliki. 

Kehidupan  masyarakat  saat itu jauh sekali dari agama, yang namanya  isu santet  itu sudah biasa. Yang berwibawa adalah orang yang sebenarnya  jahat , tapi dibalut oleh kelicikan akal bulusnya. 

Aku suka belajar  agama, karena dengan itu  menentramkan hatiku,  disitu  ada keadilan,  disitu  ada harapan. Disitu  akan ada balasan  orang yang berbuat  jahat, disitu ada pahala bagi yang melakukan  kebaikan.  Orang jahat  akan celaka  orang beriman  dan bertaqwa akan menjadi kaya dan berbahagaia  di alam akhirat  sana. 

Bahkan tidak saja di akherat,  mulai di dunia ini akan diberi rezeki yang tidak  disangka sangka  datangnya,  akan diberi jalan  keluar  permasalahan  hidupnya. Itulah yang dijanjikan  dalam agama. 

Tanggal 29 Februari  2021 saya dibawa ke rumah sakit,  karena badanku demam tinggi, berhari hari tidak reda. Sebenarnya demam itu dimulai  tanggal 25 Februarai,  diawali dari batuk  kecil kemudian  saya belikan  obat batuk flukadek. 

Batuknya reda tapi demamnya yang tetap tidak berubah. Kemudian aku minta di bawa ke dokter.
"Sakit apa pak?", tanya dokter sambil tergesa gesa memeriksa  tubuhku,  karena pasien yang antri banyak.

"Batuk pak dokter ", jawabku sambil menyibakkan  pantatku  karena mau di suntik. Dokter yang satu ini biasanya  kalau nyuntik  sakit, tapi habis itu  sembuh. 

Agamanya sangat  baik. Walaupun pasiennya  banyak kalau mendengar  suara adzan maka meninggalkan praktekkan  dan ikut  sholat  jamaah di masjid. 

Tarifnya  murah sekali  hanya 48.000. Padahal  kalau  saya pijat  ke dukun tarifnya  50.000. Dokter kuliahnya  sulit  biayanya  mahal. Hanya anak orang kaya yang berani kuliah di kedokteran.  

Sedang dukun pijat  tidak lulus SD tarifnya  50.000. Seperti dunia  terbalik saja. Pernah saya dipijat, nanti malamnya malah sakit  nyeri tak tertahankan  hingga  malam itu  juga saya dilarikan  ke rumah sakit  Griya Husada.  Untung tertolong  dan sembuh. Sejak itu  kapok aku.

Saat dibawa ke rumah sakit  itu kesadaranku antara  sadar dan tidak,  rasanya   seperti  ngantuk  berat. Saya diantarkan oleh Diar, anakku yabg pertama  dan istriku. Istriku  menangis saja dalam perjalanan  karena melihat  kondisiku  yabg seperti  itu.
"Bertahan ya bi, kita berobat  ya bi." Istriku  menghiburku. 

Aku hanya bisa menjawab singkat, "ya." Kemudian  tidur lagi. Tetapi  dalam tidur  itu saya sadar ini perjalanan  ke rumah sakit. 

Dalam hatiku hanya membaca istighfar,  mohon  ampunan  Allah,  sampai capek  sampai  tidur. Berharap  Allah memberikan  jalan keluar  atas permasalahan  kesehatanku. 

"Kita sudah samapai rumah sakut griya  husada Bi, persiapan ya,"  istriku memberitahu seraya membangunkan keasadaranku.  Lagi- lagi aku hanya menjawab,"ya."

Diar menghampiri  petugas  dan minta  tolong  untuk  proses  pengobatan,  tapi jawabannya  petugas, "maaf pak di rumah sakit  ini tidak ada ruang observasi."  Kami tidak paham,  masa iyya  rumah sakit  kok tidak punya  ruang observasi. Singkat  cerita  kami di tolak.

Kemudian ke RSI , sebuah rumah  sakit besar  swasta yang ada di Madiun,  kami berharap  bisa di tolong di sini.  Ternyata  di sini ruangnya  sudah penuh. 
"Itu pak ada pasien yang antri  untuk  mendapatkan  kamar." Petugas itu jari telunjuknya  menunjuk seorang  paruh baya yang tampak sakit sedang duduk  di kursi.

Akhirnya  istriku  menghubungi  pak Hermanto,  tetanggaku  yang bekerja  di rumah sakit umum  Madiun  agar aku bisa ditolong  mendapatkan  kamar. 

Yang ada dihati  kami adalah aku harus ngamar di rumah sakit  agar mendapatkan  perawatan  yang  intensif. 

"Pak Her,  Bapaknya sakit,  kami minta  tolong  bagaimana  agar bapaknya  bisa opname  di Merpati,  bisa mendapatkan  kamar. " Istriku menelepon  pak Hermanto. 

"Oo iyya mbak, di bawa saja ke UGD, biar  ditangani awal di sana."

"Oo iyya pak Her,  terima kasih."
Kemudian aku di bawa ke UGD, dan dibawa ke ruang observasi. Aku diambil  sampel  darahnya  untuk  di cek imun antibodi. Tidak itu  saja aku juga difoto  ronxen. Kami manut  saja tindakan  yang diberikan  padaku. Lama sekali aku berada  di ruang ini,  istriku selalu  mendampingiku. 

"Bi bangun, membaca istighfar."
"Iya," aku berusaha membuka mataku  dan membaca istighfar, aku serasa  berada di tempat  yang  tenang lama-lama  tertidur,  tapi aku mendengar  percakapan  orang-orang  di sekelilingku. 

Terdengar  suara adzan, oo sudah waktunya  magrib, istriku  memberitahukanku untuk  sholat  magrib. Kemudian  aku sholat  magrib semampuku  hanya  gerakan-gerakan  sederhana yang bisa ku lakukan.

Setelah  selesai sholat magrib  datanglah  seorang  petugas  menjelaskan  mengenai sakitku.

"Bu.., suami ibu dari hasil  pemeriksaan  bagus,  swab  antibodi  hasilnya  bagus, paru parunya juga bagus. Suami ibu bisa di bawa pulang,  nanti dikasih  obat dari sini. Jadi cukup  rawat  jalan saja." Ternyata petugas ini adalah dokter.  Masih muda,  cantik  dan ramah.  Istriku setengah tidak percaya.

"Kami ingin  opname  saja bu dokter  agar  suami  saya mendapatkan  perawatan  yang baik di sini." Istriku  tetap  berkeinginan  aku di rawat  di rumah sakit.  

"Iya tapi  tidak ada alasan suami  ibu untuk  opname," terjadi perdebatan  antara istriku  dengan dokter  muda itu. 

"Bapak, coba genggam dua jari saya ini." Aku menggenggam jari bu dokter muda itu dengan sepenuh  kekuatanku.

"Ini lho bu genggaman  tangan Bapak ini masih kuat" jelas bu dokter.

Istruku  baru percaya  dan akhirnya  ikut  arahan bu dokter,  aku dibawa pulang.  Aku dikasih obat  dan diberi  tahu nanti  tanggal 1 kontrol  lagi. 

Kemudian kami pulang, obatnya diminum,  makan juga  masih bisa aku lakukan. Kalau siang hari  badanku  sudah tidak panas,  tapi kalau  malam hari sekitar  jam 3 pagi, badanku  panas  kemudian keluar  keringat,  setelah itu  panasnya  reda. 
Seperti  itu kondisiku  setiap  hari. 

Tanggal  1 kami kontrol di RS Merpati,  aku diperiksa  dokter,  tapi periksanya  hanya interview  saja. Dalam kondisi  pandemi  seperti  ini jarang sekali  dokter menyentuh  pasiennya,  barang kali  beliau juga takut,  kalau  pasiennya  terinveksi  virus corona. Kemudian  tertulari.

Setelah interview mengenai apa yang aku rasakan, Aku disuruh  swab antigen di lab Persada. Jaraknya 100 m dari RS Merpati, dengan badan serasa ringan melayang  aku diantar Diar ke Lab Persada. 

Diar adalah anakku  yang pertama,  dulu  pernah  daftar Polisi  tahun 2013, tapi tidak lolos. Aku suruh mengulangi  lagi tidak mau. Akhirnya  sekarang  menekuni  profesinya  sebagai penata  sound  system.  Dia sudah punya  2 set sound  system sekarang.

Barangkali  hikmahnya  di sini,  tampaknya Dia yang akan dekat  denganku  sampai  hari tuaku. Dialah  yang mengantarkan  aku ke dokter  kalau sakit.  Kalau jadi Polisi  tugasnya  jauh,  barangkali  hanya  bisa bertemu  setahun sekali.  Tidak bisa  mengantarkan  ke dokter  kalau  Bapak Ibunya sakit.  

Dari hasil  swab antigen  hasilnya  positif,  "ya Allah."  Aku diam  membisu  banyak diskusi  dihatiku. Sampai  kemungkinan  terburuk  bila terjadi  apa-apa  pada diruku.  Aku kembali pada dokter  tadi.

"Op name ya Pak". 
"Iya bu Dokter  siap." Saya pasrah apa yang akan terjadi  dengan diriku  yang sebenarnya  agak takut. Takut  berpisah dengan istriku,  takut  kalau-kalau  ini adalah  hari hari terakhirku. 

Aku diarahkan  ke ruang  UGD lagi, diofservasi  lagi,  dan hasilnya  ada dua pilihan. Opname atau isolasi  mandiri  di rumah. Aku ingin opname  tapi tidak ada ruang  tersedia. Ruangnya  penuh semua. "Ya Allah." Sejak  itu  aku dinyatakan  Covid-19.  Sebuah penyakit  yang ditakuti  oleh orang seluruh  dunia. Antara hidup dan mati dipertaruhkan.  Tetapi semua  itu harus tunduk  pada takdir Allah.  Kalau ajalku  belum tiba, pasti  aku sembuh.  

Aku pasrah,  pasrah pada dzat yang maha Rohman  dan Rohiim. Mulutku hanya berkomat- kamit membaca istighfar,  hatiku  hanya mengingat  sang Kholiq. Pikiranku  tidak boleh kosong. Pikiranku  harus terarah seperti  ajaran agama yang diajarkan guru spiritualku. 

Sebelas bulan lalu  aku berguru  ilmu torikoh pada Bu Nyai Nuning Siti Sunarni, sebagai pewaris  ilmu torikoh  dari eyang  KH Abdurohman yang tinggal di Pesantren Tegalrejo,  yang dikenal  sebagai waliyulloh pada jaman Belanda, tahun 1835. Beliau  adalah salah satu pengikut  Pangeran  Diponegoro. 

Kembali pada  keputusan  istriku,  akhirnya  aku dibawa  pulang  isolasi  mandiri,  dengan  dipantau  oleh rumah  sakit.  Mulai tgl 1 Februari  2021 aku isolasi  mandiri.  Istriku  menerapkan  protokoler  kesehatan  secara  ketat. 

Tanggal 1,2,3,4 adalah  masa masa krisisku,  kalau  malam badan panas, keluar  keringat.  Tidak merasakan lezatnya makanan, tidur  tidak nyenyak,  mimpiku selalu  buruk.  Sampai nengigau,  tak ada yang membangunkan  karena  istriku  tidur  ditempat  yang agak jauh.

Walaupun tidak merasakan lezatnya makanan tapi  aku harus memaksa makan yang banyak agar aku bertahan dan segera sembuh. 

Setelah hari ke 4 panasku reda, aku mulai  menikmati  lezatnya makanan,  tapi tidurku tidak pulas. Aku merasa  tidak ngantuk   , setiap  malam  pukul  01.00 aku bangun  untuk  sholat  malam,  setelah itu membaca  Al Qur'an.  Pelan-pelan  tilawahku,  alhamdulillah  kadang-kadang  bisa dapat  12 halaman.  

Di saat  sehat  ya sering  bangun malam,  tetapi  tidak  membaca  Al Qur'an.  Itulah hikmahnya  orang  sakit  itu dekat dengan Allah.  Kalau  tidak pernah diberi  sakit sering kali sombong,  kadang malah  lupa  pada  Allah.  Lebih dari itu  malah mengaku  sebagai Tuhan , seperti  Fir'aun.

Firaun  itu  flu saja tidak pernah,  akhirnya  sombong,  mengaku  sebagai  Tuhan. 

Hari ke 5 isolasi  mandiriku bertambah  sehatnya,  aku mulai  bisa menulis,  mengisi  blogku. Aku sebenarnya  berkomitmen  setiap  hari  menulis  di blog.  
"Mbok ya jangan  setiap hari  menulis terus to pah,  biar agak santai,  mbok nyanyi -nyanyi gitu." Ungkap istriku. Istriku  mungkin tidak tahu  bahwa menulis  itu  juga hiburan yang  menyenangkan. 

Aku tidak  mau berdebat  dengan istriku  yang telah merawatku  setiap  hari. Aku hanya mengatakan  , "iyya."
Semua tulisanku bisa dilihat  di suparnomuhammad.blogspot.com.  

Dari tulisan ku itu  orang  tahu kalau aku sakit,  apa yang aku lakukan, obat apa yang aku minum  dan sebagainya.

Selama  aku sakit  aku mendapatkan  kiriman  macam-macam  dari teman-teman ku , aku jadi terharu  atas ketulusan  hati mulia  mereka, seperti  mas Doktor  Sugeng  Harianto  yang tinggal  di Malang,  beliau  mengirimkan  banyak  obat-obatan  untuk  menyembuhkan sakitku.  Obat  ini telah  terbukti  menyembuhkan  istrinya  yang juga pernah  terinveksi  Covid-19. 

Alina Nirmala sahabatku  guru BK SMP 2 Ngariboyo,  juga mengirimkan  obat-obatan  untuk  kesembuhan ku.  

Adalagi  muridku Septeria, mengirimkan  madu bawang lanang.  Septeria adalah muridku ketika di SMP 2 Kaweadanan  yang sekarang  telah sukses berwiraswasta memiliki toko madu di 2 tempat. Yang lain masih banyak  juga sahabatku yang memberikan  kebaikan  apa saja. 

Ya Allah mereka baik  sekali  padaku, semuanya  ku serahkan padaMu  untuk  memberikan  balasan  yabg lebih baik,  dan lebih banyak  dan barokah tentunya.  

Setiap hari aku menulis,  di hari yang ke 24 aku menuliskan aku sudah lulus,  lulus dari ujian terbesarku dalam hidupku. Covid-19, penyakit  yang ku takutkan sejak 16 Maret  2020 ini  akhirnya  sampai juga  ditubuhku  tanggal  29 Januari  2021. 

Virus  yang induk semangnya dari Wuhan, China  inilah yang memporakporandakan  tatanan  kehidupan  bangsa-bangsa di seluruh  dunia. Tapi semuanya  itu ada yang menggerakkan,  Allah  SWT. Untuk  memberikan  peringatan  kepada manusia agar hidupnya lebih baik, agar Ibadahnya  lebih tekun,  agar kepasrahannya  lebih  totalitas. Agar imannya menubgjat. Agar lebih dekat  dengan Tuhannya.

Aku selalu berdoa semoga  pandemi  ini segera berlalu,  agar rakyat bisa bekerja, agar  anak anak bisa sekolah,  bisa ngaji di Mesjid, agar jamaah haji di seluruh  dunia  bisa berangkat tahun ini,  untuk  bersama menangis dalam  sujudnya,  mengadukan permasalahan  pada Robnya. 

Mereka  semua sudah rindu  melihat  makam nabinya,  yang menuntunnya  kepada hidayah,  yang memberikan  syafaat  kelak  di hari qiamat. 

Mereka semua sudah rindu tersungkur  sujud mensyukuri  atas penciptaanny  di dunia, atas rezeki yang diterimanya,  dan tentang apa saja yang diberikan  padanya. 

Mulai  kemarin aku bilang  pada istriku,  aku ingin  ke Masjid.
"Nanti kalau oleh orang-orang  tidak boleh bagaimana Pah?" Tanya istriku  meyakinkan keinginanku.
"Kalau nggak boleh ya pulang mi," jawabku.

Memang aku tahu tidak semua  orang  senang denganku.  Aku pikir  ini juga berlaku  bagi semua orang. Tidak semua  orang menyenangi  kita, sebaik apapun  kita. 

Tapi bagiku  tidak masalah  yang penting  Allah  senang  pada kita. Kalau Allah  senabg dengan kita  semua masalah  akan selesai  dengan cantiknya.  Akan ada jalan keluar  dengan  indahnya.

Oleh karena itu  aku berpikir,  sebenarnya  yang paling penting  adalah bagaimana  kita membangun hubungan baik  dengan Allah. Itu  saja. 



Magetan,  24 Februari  2021
















Senin, 22 Februari 2021

Alhamdulillah aku lulus

Alhamdulillah,  saya sudah dinyatakan lulus  dari covid 19 oleh Dokter  Puskesmas Sukomoro. dr.Siswiyantining Wikanti, Kepala UPTD Puskesmas Sukomoro. 

Suratnya  tadi siang pukul 10.00 diantarkan mbak Indy petugas Kesehatan  yang membawahi  desa Pojoksari.  

Kemudian saya dan istri sujud  syukur  atas rahmat  yang diberikan  oleh Allah kepada  kami.  

Kami isolasi  mandiri  10 hari, ditambah 13 hari jadi semuanya  23 hari. Sejak tanggal 1 Februari 2021. Rasanya  tidak enak berdiam  diri di rumah  seperti  orang yang terisolir. Aslinya isolasi mandiri  memang seperti itu. 

Yang saya  rasakan  sudah tidak ada keluhan,  badanku  sehat, malah berat badanku  menjadi  70 kg dari sebelumnya  65 kg. Jadi bertambah 5 kg.

Nanti sore saya sudah ikut  sholat berjamaah di Masjid, yang sudah hampir  1 bulan saya tidak ke Masjid.  Setiap suara adzan  berkumandang  hatiku selalu bertanya, "kapan bisa  sholat  di Masjid?"

Ternyata  Allah masih mememperkenankan  mulai hari ini Selasa,  23 Februari  2021. Saya dinyatakan  sehat.  Sebenarnya  kesehatan  sudah membaik  sejak tanggal 5 Februari  2021. Tapi karena  mengikuti  birokrasi ya tidak apa-apa  baru bisa ke Masjid nanti sore.

Alhamdulillah  semua anggota  keluargaku sehat. Semuanya ikut "menderita"  karena ayahnya  di isolasi mandiri. Istriku  tidak diijinkan masuk  kantor  sebelum  saya dinyatakan  sembuh.

Istriku  perjuangannya  luar biasa, dia perawat terbaikku yang selama  ini mencukupi  kebutuhanku. Menyediakan  makanan  setiap hari, menyiapkan air  hangat untuk mandi, dan lain-lain.  Semuanya  dilakukan  dengan ikhlas. 

Kalau  malam membangunku untuk  sholat Tahajud,  kemudian membaca Al Qur'an. Rasanya damai, tentram. Disaat banyak orang tidur  kami bangun. Kami tidak merasa ngantuk. Alhamdulillah .

Ini semua  tak lain adalah berkat  doa  keluargaku, saudaraku,  teman-temanku , sahabatku, tetanggaku semuanya,  tanpa kecuali  juga Ibu dan Bapak mertuaku  yang selalu  cemas  atas keadaanku ketika sakit. 

Kami mengucapkan terima kasih atas itu semua, juga atas bantuannya  berupa moril,  materiil  dan spirituil. Semua saya pasrahkan  kepada Allah untuk  dibalas dengan balasan  yang lebih banyak dan lebih baik.

Semoga mereka semua terhindar  dari pandemi  Covid-19.  Mereka sehat  semuanya beserta  keluarga. Biarlah  saya saja yang merasakan dan cukup  sekali  ini saja saya mengalami,  karena untuk  sampai  lulus  harus mengerjakan soal ujian yang tidak ringan ini. Aamiin ya Robbal alamiin. 

Oleh  karena itu jika anda hari ini sehat,  manfaatkan  kesehatan  anda untuk  banyak beribadah, Membaca Al Qur'an, beramal sholih, sholat  di Masjid, banyak membaca istighfar dan berdzikir, juga berlaku baik pada sesama. Tidak sombong,  menang sendiri, egois, iri dengki dan sifat-sifat buruk lainya. Sebab seperti  itulah cara mensyukuri atas apa yang diberikan  oleh Allah  SWT. 

Sekali lagi semoga kita semua  dijadikan hamba yang baik, diberikan sehat, panjang umur yang barokah,  bisa memanfaatkan  waktu  dengan aktivitas yang barokah.


Magetan,  23 Februari  2021








Abah Dede Suryana, Guru honorer yang prestasinya menasional

Malam ini kita akan belajar  dengan Nara Sumber seorang  guru berprestasi  tingkat nasional yang luar biasa. 

Abah Dede Suryana, S.Pd.,MM.
Dari Desa Turangga kec. Lengkong , Bandung Jawa Barat. Beliau adalah guru dengan dedikasi tinggi  yang sangat  mencintai  profesinya. Walaupun statusnya yang masih guru honorer  selama 34 tahun tapi tak menghalangi semangat pengabdianya. 

Beliau  begitu dekat dengan siswa siswanya. Apabila  ada siswa  yang digendong  itu sudah biasa. 

Mungkin juga ada pertanyaan kok bisa bertahan selama kurang lebih 34 tahun, menjadi honorer...? Jawabannya sederhana, "karena Abah mencintai profesi ini sepenuh hati terlepas plus dan minus menjadi seorang guru honorer..."

Abah mengatakan, Banyak profesi diluar sana,semua profesi adalah baik, akan tetapi profesi seorang guru adalah *MULIA* Knapa begitu...? Karena apapun profesi yg sekarang tanpa kehadiran seorang guru *tidak akan terjadi* jadi bapak dan ibu guru hebat harus bangga dengan profesi saat ini, bersyukur sudah menjadi guru, baik yg Honorer ataupun yg sudah ASN, syukuri, nikmati dan jadilah *guru sebagai pelayan buat peserta didik kita* karena guru adalah fasilitator bagi mereka apalagi dimasa Pandemi sekarang ini...

Saudara guru hebat,  Abah tidak bermaksud menggurui atau pun Abah pamer dengan prestasi, akan tetapi apa yg diraih oleh Abah selama ini adalah bonus, selama Abah berkiprah di dunia pendidikan tidak terpikirkan ke arah sana, tapi ada suatu ungkapan yg sering disampaikan sbb:
*Dalam hidup akan dipertemukan dengan pertemuan yg misterius, setelah orang lain mengakui kemampuan dan keunggulan diri kita maka akan memicu sikuit yang luar biasa* nah mungkin setelah sekian lama Abah bergelut di dunia pendidikan beberapa tahun Abah dipertemukan dengan pertemuan misterius ini.

Bapak dan ibu guru hebat, satu hal dalam hidup Abah, Abah selalu *mencatat apa yang harus dikerjakan dan kerjakan yang sudah dicatat* artinya kalau ada tugas kerjakan, kalau ada ide tuliskan, nah nanti pasti akan timbul permasalah dan kesulitan, nah untuk mencari solusi yang pertama Abah lakukan adalah *bertanya,* karena ada istilah, *ciri orang yang berfikir adalah bertanya*...😁🙏

Tetap semangat semoga di tahun ini dipertemukan. Dengan pertemuan yg misterius... Yg menjadi cita" guru hebat.

Pengalaman Abah mengajar, mengajar di SMP, di SD, dan sekarang Alhamdulillah dipertemukan dengan seorang guru hebat Abah diberi amanah juga mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung... Dan Abah juga Alhamdulillah diberi kesempatan untuk berbagi dengan guru hebat tahun kemarin menjadi NS untuk Bimtek guru pembimbing khusus bagi guru yang mengajar di sekolah inklusif di Indonesia, suatu kebanggan tersendiri bisa berbagi dengan mereka, dan malam ini suatu kehormatan om Jay memberi kesempatan Abah untuk sedikit barbagi dengan guru hebat disini, semoga sedikitnya menambah motivasi untuk berkarya dan mengupgrade pengetahuan untuk lebih baik lagi, karena *guru zaman NOW, adalah guru yg harus nyaman didalam zona ketidak nyamanan dan guru pembelajar yg tidak berkesudahan* semoga saudara guru hebat menjadi bagian dari guru zaman Now ini. 

Inilah hadiah bagi seorang  guru yang berproses  iklas menekuni profesinya, akhirnya  mendapatkan  hadiah dari sang Kholik  berupa  prestasi prestasi yang tertata.

Abah bukan bangga yang telah dicapai tapi Abah bangga bisa melakukan proses, ke arah itu...

Abah tampak.menikmati proses  yang ada dengan iklas, tidak mengeluh,  tidak merasa berat.  Itulah awal  keunggulan abah dibandingkan dengan yang lain.

Abah Siap... Berbagai komunitas guru nasional Alhamdulillah Abah diajak untuk berbagi, dan kemarin Abah diberi kesempatan untuk berbagi dengan sahabat luar biasa P4TK TK dan PLB Kemdikbud, itulah pertemuan misterius, tapi semua itu bukan Abah hebat, dan bukan pula hasil kerja keras Abah, itu semua Allah SWT, lah yg memudahkan dan melancarkan aktivitas Abah...
Insya allah.

Yang mengagumkan dari abah adalah, begitu  beliau merendahkan diri alias tawaduk,  mengakui  dengan segenap kesadaranya bahwa apa yang dicapai  adalah berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa  seperti kemerdekaan bangsa  Indonesia. 

Abah berharap Insya Allah, tidak ada yg tidak mungkin, Abah yakin disini banyak yang akan menggantikan Abah dikemudian hari, kalau saja Allah memberikan  umur panjang kepada Abah, ingin sekali suatu saat ada guru yang menyapa, *Bah benar apa yang disampaikan Abah, sekarang saya menjadi narasumber dan mendapat apresiasi* Abah tentu akan sangat bangga sekali.

Basik S.1 Abah adalah jurusan Pendidikan khusus, atau PEndidikan Luar Biasa(PLB) Abah mengajar anak berkebutuhan khusus (ABK)

PDBK adalah guru abah, Abah ada diposisi ini karena Abah belajar dari mereka... Mereka nanti yg akan menuntun kita ke syurga ya Allah SWT.

Saudara Abah yg Abah cintai dan banggakan, malam ini mudah mudahan momentum yg baik untuk mengasah kemampuan, dengan kolaborasi seperti ini, akan menambah amunisi untuk terus bergerak dan menggerakkan guru yg lain, tidak sedikit di luaran sana teman" kita asik di zona nyamannya... Nah sekarang bapak dan ibu menjadi duta untuk menggerakkan mereka.

Informasi ini jarang, jadi cocok sahabat guru hebat gabung disini.

Tanya jawab

Assalamualaikum
Dari Mas Miftah, Demak
Speechless membaca CV abah. Menjadi honorer kurang lebih selama 34 tahun.😢
Apakah tidak terbersit keinginan abah untuk menjadi PNS??
Apakah tidak jenuh menjadi honorer,  melihat keberhasilan rekan yang sudah menjadi PNS?
Bekerja kan tidak semata-semata untuk akhirat, karena manusia normal juga memiliki kebutuhan dan keinginan. Bagaimana ya bah meyakinkan hati kita?

Mohon penjelasan abah🙏

Terimakasih pertanyaan yg luar biasa dari pak Miftah Demak, salam hormat dari Abah, sebagaimana yg bapak sampaikan terimakasih atas apresiasinya.
Kalau kemauan ada manusiawi, tapi bukan tujuan utama Abah, knapa karena hidup dan kehidupan bukan dari status PNS atau Honorer, menurut Abah semua sudah ada suratan tangan, dulu Abah berfikir dengan usia yg sudah tidak muda lagi tidak ada kesempatan untuk menjadi PNS atau sejenisnya, tapi.... Aturan Allah lain, dengan menggerakkan Rahman dan rahimnya, Allah mengutus dan mengetuk para pembuat kebijakan untuk mengadakan seleksi PPPK ini mungkin jawaban yg selama ini yg tidak pernah Abah atau teman" fikirkan. Jadi intinya Abah menikmati proses dan menjalankan tugas sebaik mungkin.  
Kalau menjadi honorer Abah tidak jenuh dan Abah mencintai profesi sebagai *Guru* nya terlepas apa itu PNS atau Honorer... Itu sedikit jawaban yg dapat Abah sampaikan untuk yth. bapak Miftah...


Assalamualaikum bu Aam dan abah
saya Maifil Andrean dari Jambi
Sebelumnya saya sngat salut dengan loyalitas abah sebagai seorang guru dan berprestasi.
Yang ingin saya tanyakan dari prestasi yg abah miliki saat ini, apa prestasi yg paling membanggakan bagi abah...boleh cerita sedikit perjalanan meraihnya.

Terima kasih
Waalaikumsalam  bapak Andrean dari Jambi, salam sehat dan tetap semangat...
Prestasi yg Abah sangat banggakan *tat kala bertemu alumni yg sudah berhasil dan mengatakan benar apa yg bapak katakan dulu bapak mengatakan begitu dan saya kadang mengacuhkannya, tetapi setelah saya dewasa benar apa yg bapak katakan dan saya melakukannya Alhamdulillah saya seperti ini* nah itu kejadian yg pernah Abah alami....

Untuk prestasi yg Abah raih Abah syukuri karena itu semua adalah kemudahan dan bonus dari yg Khaliq... 
Perjalan Abah panjang banyak liku liku hidup dalam bekerja di dunia pendidikan, tapi Abah selalu menco untuk tetap fokus pada pekerjaan intinya bagiamana bisa mengakoomodir kebutuhan pendidikan para peserta didik, disamping kegiatan yg laiinya, intinya harus bisa membagi waktu, ada istilah *fardhu tersambung sunat terbawa* itu barangkali sedikit jawaban untuk bapak Adrian dalam buat guru" hebat disana.

Assalamualaikum Abah Dede dan Teh Aam geulis.
Masya Allah Abah Dede, terharu sekaligus malu saya kpd Abah. 
Seorang guru honorer mampu berkarya dan berprestasi luar biasa. 

Sementara saya, Ibu Mujiatun dari Lampung. Seorang guru ASN
sudah 25 th masih sangat miskin akan karya.

Oleh sebab itu, saya mohon pencerahannya. Bagaimana cara menuju puncak tangga GURU BERPRESTASI itu Abah? 

Waalaikumsalam, ibu Mujiatun yg Abah hormati dan Abah banggakan, tidak Bu, mungkin tahun ini kesempatan Abah, dan tahun berikutnya adalah giliran ibu untuk berkarya, tidak ada kata terlambat, Abah yakin ibu akan lebih baik dari Abah, dengan segala keterbatasan Alhamdulillah Abah bisa menyelesaikan pendidika meski berdarah" knapa Abah tempuh, untuk membanggakan diri tapi itu semua Abah merasa kurang dan masih banyak kekurangan, salah satu yg memotivator Abah untuk berkarya dan melanjutkan pendidikan tak lain dan tak bukan  adalah Om Jay, Abah sempat beberapa kali berkesempatan duduk bareng dalam suatu kegiatan dari Kemdikbud, dari sana Abah termotivasi Alhamdulillah selesai atas ijin Allah... 
Ibu hebat masih banyak kesempatan dan ibu bersyukur telah masuk di grup ini, yg selalu membagi ilmunya, banyak narasumber hebat yg didatangkan oleh Om Jay...
Tetap semangat ya Bu.

Kharir dari Kendal mohon izin bertnya. Apa yang membuat Abah semangat mengajar meskipun posisinya hanya sebagai guru honorer. Apa yang membuat Abah akhirnya tergerak hati untuk berprestasi. Kadang lelah juga ya Abah ... menunggu yang misterius itu. heh...he...Mantap. Semangatnya patut diacungi jempol. Terima kasih

Selamat malam bapak kharir, yang membuat Abah bisa bertahan untuk terus mengajar, mungkin karena *tuntutan hati* dan dulu Abah bercita" ingin menjadi guru, tapi ga kesampaian pada tahun 1981 Abah sudah ditinggal ayah, maka pada waktu itu Abah pendidikan hanya sampai SMA, tapi pada tahun 1987 Abah ditawari untuk mengajar di SMP oleh guru Abah, karena mungkin pada saat SMP beliau mengetahui kompetensi Abah, 20 tahun ngajar di SMP dgn pendidikan SMA, 2006 hijrah ke Bandung dengan pendidikan SMA mengajar di SD, 2010 ikut seleksi beasiswa S.1, atas doa dari keluarga dan anak" hebat Abah lolos kuliah S.1 di UPI Bandung jalur Beasiswa, 2014 lulus ini perjalanan cukup berat, di usia 40 tahun kuliah S.1 sudah berkeluarga lumayan berat memang biasa kuliah dibiayai oleh pemerintah, untuk operasional berbgai dengan dapur,... Tahun 2016 masuk S.2 lulus tahun 2018 di usia 50 tahun..

Menunggu misterius cukup lumayan semoga saja Abah dan teman guru hebat dipertemukan dengan takdir yg misterius yang lebih baik lagi baik untuk sahabat guru honorer ataupun PNS, pada prinsipnya sama mengabdi kepada murid... 


P5. Assalamualikum Abah,
Saya Dadang Huzazi dari Lebak Banten. 
Mohon pencerahan. Saya mengajar di Sekolah terpencil, ketika dulu baru ditemptkan, akses jalan sulit, tanpa listrik dan sinyal. 
Sekarang sinyal dan listrik sudah ada. Tetapi sekarang tantangan lain yang jauh lebih berat. Anak terbiasa menonton tv dan main game, hingga anak sulit konsentrasi dalam belajar. 
Mohon saran dan dorongan agar ttap semangat dalam berbagi ilmu dengan para peserta didik.

Waalaikumsalam, pak Dadang...
Luar biasa dulu bapak ditempatkan ditempat yg terpenci dengan kondisi yang mungkin bisa mengancam jiwa bapak pada saat berangkat menjalankan tugas, listrik belum ada, tapi Alhamdulillah anak" bisa tertangani dengan baik karena konsen dan fakus,...
Tantangan sekarang seiring dengan kamjuan teknologi anak" menjadi sebaliknya anak jadi fokus ke game tidak fakus pada pelajaran... Bagaimana untuk mengatasi hal tersebut...
1. Bapak menjalin kolaborasi dengan orangtua libatkan orangtua untuk mengawasi putra putrinya terkait pengguna hp.dan teknologi
2. Minimal 1x dalan satu Minggu ada refleksi untuk mengetahui progres setelah bapak memberikan PR buat ortunya
3. Jalin hubungan emosional baik dengan orangtua atau pun siswa sehingga nantinya  orangtua dan siswa bisa saling mengerti dan akan bijak untuk menggunakan sarana teknologi ini.
4. Jangan pernah menghentikan/ melarang anak untuk mengekplor kemampuan dalam teknologi tapi batasi dan berikan tanggungjawab, sekarang ada istilah PPK (Profil Pelajar Pancasila) yg menitik beratkan kepada karakter *CERDAS BERKARAKTER*

itu barangkali jawaban Abah...
Tetap semangat, banyak jalan menuju Roma...
Banyak jalan untuk mempengaruhi anak (itulah seni mengajar seorang guru)...

Begitulah  pengabdian  Abah Dede, yang tak lekang karena panas dan tak rapuh karena hujan, iklas lillahi  ta'ala,  siapa  menolong hamba Allah,  maka Allah pasti  akan menolongnya. 

Semoga Abah selalu ditolong  oleh Allah  dimana  dan kapanpun beliau  berada. Aamiin 

Magetan,  23 Februari  2021

Minggu, 21 Februari 2021

Silaturahmi dengan blog walking

Dalam setahun ini saya serasa punya saudara baru yang memiliki  passion menulis. Kami saling silaturahmi. Walaupun  kami belum pernah bertemu  serasa hubungan kami  dekat. 

Mereka adalah para penulis,  kami bergabung dalam group menulis. Mereka orang-orang  hebat  yang di tengah kesibukannya masih bisa menulis. Tidak ada orang yang tidak sibuk  tapi mereka masih bisa membuat  artikel dan dikirim di blognya. 

Kami saling mengunjungi  dan membaca  tulisan  mereka , kemudian meninggalkan jejak  memberikan  komentar.  Dengan memberikan  komentar  berarti  memberikan apresiasi  atas karya  mereka.  

Yang berkunjung  ke blog saya  yang paling banyak  adalah  teman teman yang tergabung dalam group  menulis.  Dan mereka memberikan  komentar.  Tapi  juga ada  teman-teman saya yang memiliki  hobby  membaca  sehingga  juga senang  membaca tulisan  saya dan memberikan  komentarnya. 

Aktivitas  saling mengunjungi  blog teman itu  namanya blog walking.

Sekarang  ini memang  jarang orang yang  suka membaca  tulisan  yang panjang.  Tapi untuk  para penulis  mereka suka saja membaca  tulisan  yang panjang. 

Memang  penulis  itu  biasaya  terdepan dalam membaca. Mereka  bukan  orang-orang biasa,  tetapi  manusia  unggul  yang diberi  kelebihan,  salah  satu diantaranya  adalah  kegemaran membaca  dan menulis.

Menurut  Dr. Ngainun Naim ( 2021;52) blog itu  berfungsi sebagai tempat  menyimpan  dan mengunggah  tulisan,  blog adalah sunber ide menulis.  Karena itu  penting  menyisihkan  waktu untuk  berselancar dan mengunjungi  blog  demi blog. ( blog walking)
Disamping itu  masih menurut  Dr Naim, mengunjungi  blog  juga membahagiakan  orang, semua orang akan bahagia  bila diapresiasi, begitu juga  dengan penulis. Komentar  adalah jejak sedekah yang penting untuk dilakukan. Yang ketiga  menambah saudara. 

Dr. Naim  juga sering  berkunjung  ke blog  saya dan memberikan  komentarnya. Saya merasa  tersanjung  bila beliau memberikan  komentar.  Komentarnya  selalu positif,  tidak ada yang menyinggung  perasaan,  tidak ada yang  nerendahkan  orang,  lebih-lebih  menghina. 

Barang kali  seperti  itu adab memberikan  komentar  kepada sesama penulis, saling memotivasi dan mengapresiasi dengan memberikan jejak komentar, agar penulis  lebih semangat  untuk  menghasilkan karya tulis lagi.

Saya mengetahui  istilah  blog  walking  pertama kali  adalah  dari Wijaya  Kusumah yang akrab  dipanggil  Omjay,  menurut  beliau  bloger  yang kurang gaul biasanya akan kurang dikenal. Untuk  memperkenalkan  diri kita perlu yang namanya komunitas  Blogger atau melakukan  blog walking  saling memberikan  tanggapan terhadap tulisan masing-masing.  Jika kamu ingin  sukses menjadi Blogger  , maka gaul  itu penting.  ( Wijaya Kusumah,  2018, 32 )

Memang blog  walking  menjadi  sumber inspirasi  dan ide untuk  menulis. Menjadikan kita dikenal sesama penulis,  akhirnya  saling memotivasi  dan mengapresiasi.

Omjay  hampir  selalu  hadir  di setiap  blog saya,  pada  hal  guru SMP Labschool  kandidat  Doktor  dari UNJ ini manusia  supersibuk dengan segudang  agenda  kegiatan  disetiap  harinya. 

Ternyata  Beliau  tidak hanya  hadir  di blog  saya saja, tapi  juga hadir  di blognya  teman-teman penulis lainnya.  Semuanya  itu  pantas  dicontoh  oleh penulis  lainya  untuk  saling silaturahmi.

Semoga  kita semua  termasuk orang yang suka  membaca dan menulis,  agar bisa mengikuti  kemajuan dunia yang harus kita  ketahui dari jendela kita, yaitu membaca.


Magetan,  22 Februari  2021
Sumber bacaan :

Ngainum  Naim, Menulis itu mudah, Lamongan , Kamila Press,  2021

Wijaya Kusumah, Blogger  ternama, Jakarta: CV. Campustaka, 2018

Menulis itu Klangenan

Membaca  tulisan  Dr. Ngainun Naim itu enak, serasa  mendengarkan  beliau bercerita.  Bercerita tentang dunia Literasi. Beliau kalau bercerita tentang dunia tulis menulis tak ada habisnya. Idenya selalu saja ada.

Tulisan-tulisan di blognya  selalu saya baca, kadang sampai dua kali. Bahasanya  selalu mengalir sesuai  dengan logika. Kadang saya merasa seperti  sama antara  logika beliau  dengan logika  saya kemudian bertemu  dihati. 

Buku  beliau  yang saya baca ini adalah bukunya  yang ke 8 atau ke 9. Kalau saya lihat  di daftar  buku hasil  karyanya di lembar  terakhir  buku  ini. Tapi ada juga hasil  karya beliau  yang tidak  dituliskan di sini seperti  buku Spirit Literasi.  

Judulnya menulis itu  mudah, 40 jurus jitu  mewujudkan karya. Dibuku  ini isinya  jurus  jurus  jitu, mulai  jurus  1 hingga jurus 40.

Seperti   SH Terate  untuk  menjadi  pendekar  harus menguasai  jurus 1 sd. Jurus  36. Dalam buku ini  juga begitu  untuk  menjadi  penulis yang hebat , bisa mewujudkan karya,  harus menguasai  jurus 1 sd  jurus 40. Jurus  jurus ini menginspirasi  banyak  hal tentang dunia  menulis. Jadi  buku  ini cocok  sekali  dibaca oleh  seorang penulis,  terutama  penulis pemula.

Saya beruntung  mendapatkan  hadiah buku ini,  saya baca mulai jurus 1 hingga  saat  ini jurus 10. Saya baca pelan pelan  saya ambil isinya saya serap  maknanya.  Seperti  teknik  beliau  membaca dan menulis,  yaitu  "ngemil."  Menulis dari tempat  satu ke tempat  berikutnya.  

Beliau  termasuk  penulis yang produktif  dan tulisanya  berbobot,  penuh dengan gizi dan fitamin. Dari satu buku beliau  biasanya  menginspirasi  saya untuk  menulis  menjadi beberapa  judul.  

Menurut  beliau  menulis itu  adalah klangenan. Klangenan  ini yang bisa membuat  seseorang  sukses menjadi  penulis. ( Ngainun, 2021,28)

Klangenan itu sesuatu yang menyenangkan,  seperti  seorang  Bapak yang memelihara  perkutut, burung ocehan, dan lain lain. Seorang  ibu memelihara  bunga anggrek,  bunga janda bolong, dan macam-macam bunga lainnya. Itu adalah klangenan. 

Jadi klangenan  itu "diulik"saja karena saking  senangnya. Demikian  juga menulis,  seperti  Mas Doktor  Naim ini ( sapaan akrab  saya) saya melihat  menulis  itu  menjadi klangenannya sejak beliau  masih muda.  Alhamdulillah  Beliau bertemu  dengan gurunya  MTs yang seorang  penulis,  beliau  mengaguminya  dan sangat  berkeinginan  untuk  menjadi  penulis.  

Hebatnya beliau diberbagai  kesempatan  selalu berdakwah  menulis,  mengajak membudayakan menulis,  mari terus menulis, sesederhana apapun tulisan  kita. Tidak perlu malu. Justru  kita malu  kalau tidak menulis.  Kalau hari  ini kita tidak menulis,  kecil  kemungkinannya suatu  saat kita akan menulis (Naim, 2021, 31)

Jadi saya berpikir  kadang murid hebat itu karena telah bertemu dengan guru hebat. Karena  guru hebat itu menginspirasi,  bersemangat, tulus ikhlas  dalam mencerdaskan  murid-muridnya. 

Maka kalau sekolah  pilihlah yang disitu  ada guru hebatnya,  maka saya yakin  anda akan menjadi  hebat di kelak  kemudian hari.  Karena pada hakekatnya  tidak ada murid yang bodoh,  yang ada adalah murid  yang belum beruntung  bertemu  dengan guru  hebat. 

Semoga  pembaca  semuanya  bertemu dengan guru-guru hebat, yang menginspirasi, bersemangat,  tulus ikhlas  dalam mencerdaskan anak bangsanya.


Magetan,  21 Februari  2021

Sumber  bacaan;
Ngainun Naim, Menulis itu mudah,Lamongan: Kamila Press, 2021


Jumat, 19 Februari 2021

Ketika ajal menjemput, semuanya ditinggalkan

Alhamdulillah  hari ini tgl 20 Februari  2021 merupakan hari isolasi mandiriku  yang ke 20. Berbagai peristiwa ku jalani dengan sabar dan iklas. Pasrah diri pada sang Kholik. Berharap  Allah  akan memberikan  jalan keluar  terbaik. 

Hasil Swabku belum keluar, menurut mbak Indi, pegawai Puskesmas Sukomoro.
"Assalamualaikum pak, hari ini sampel an njenengan harus diulang lagi, masih inklonklusif 😢. Katanya sudah 4 kali running, tapi harus diulang lagi. Jadi belum bisa keluar hasil  🙏." Kata mbak Indi di WA.

Tidak  apa apa  saya harus menunggu  lagi, yang  penting  kondisiku  sudah sehat. Saya masih  beruntung  karena lulus  dari sakit  ini.
Ada seorang miliarder Antonio Vieira Minteiro Presdir  Santander Bank Portugal yang meninggal karena Covid-19 sepulang dari Italia. 

Putrinya  menulis,  "Kami keluarga kaya raya, tapi ayahku meninggal  seorang diri, sulit bernafas seperti tercekik karena mencari  sesuatu  yang gratis tanpa biaya,  yaitu udara segar, sedangkan harta  yang dikumpulkan,  ternyata tidak bisa membantunya, bahkan ditinggalkan  selamanya di rumah."
Tulisan  Putri Antonio sang Presdir  ini menjadi pelajaran  bagi  kita semua, betapa  lemahnya kekuatan  manusia. Apabila  ajal menjemput  tak ada yang bisa menolongnya.
Semua yang kita  kumpulkan sedikit demi sedikit tak bisa membantunya. 

Jika hari ini anda dalam keadaan  sehat  wal afiat  itu satu  keadaan  yang  luar biasa, tapi  perlu  diingat  juga  sewaktu waktu  virus  corona bisa mengintai anda. 

Tidak menakut nakuti,  memang itulah  fakta,  kalau  terlalu  takut  malah bisa membuat  anda sakit.  

Tapi  juga tidak  boleh sombong  bahwa anda tidak bisa  sakit,  karena anda kuat,  sehat, berharta. Ingat kekuatan  manusia itu  rapuh dan  lemah.

Untuk  itu sabar dan syukur  barangkali senjata  yang paling  sakti  bagi pegangan kita.  Kalau sakit  diuji  kita bersabar  kalau  diberi  sehat  kita bersyukur.

Semoga  kita semuanya  pandai bersyukur,  tidak sombong,  punya  welas asih  pada yang sakit , pada yang lemah, pada yang miskin, pada  yang di bawah.  Karena seperti Antonio  ketika ajal menjemput,  harta  kekayaanya  semuanya  ditinggalkan  di rumah  selamanya.

Semoga  pembaca  semuanya  diberi  sehat beserta  keluarga, rezeki  yang banyak,  sehingga  bisa berbagi  dengan  sesama.  Aamiin 


Magetan,  20 Februari  2021