Senin, 17 Mei 2021

Nasihat Mama

Memiliki  anak perempuan  itu seperti  berdiri  di ujung duri,  atau dalam  bahasa jawanya "ancik ancik pucuking ri". 

Artinya  penuh kekhawatiran,  jangan jangan  begini, begitu  dan sebagainya yang tidak sesuai  dengan harapan. Ketika  belum datang  jodohnya  pada hal sudah sampai  umurnya, juga mikir. Ketika  jodohnya  datang sebelum  sampai  umurnya  juga mikir.

Itulah  tugas orang  tua,  mengantarkan  anaknya  hingga  ke jenjang pernikahan.  Agar  pernikahan  anak kita bahagia selamanya. 

Ada beberapa pesan  Ibu kepada  anak perempuannya  ketika  akan menikah  seperti  yang disampaikan  oleh  sahabat  saya Yu Parti  yang perlu  dicatat. Bukan Yu Parti  depot  nasi pecel sebelah  selatan  terminal Maospati  itu. Tapi Yu Parti temanku SPG yang sekarang tinggal di Bekasi  bersama  keluarga  bahagianya.

Sebelumnya  sebagai renungan mari kita simak  QS Al ahzab ayat 4-5

Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan di mulutmu saja. Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).

Kemudian yang ayat 5
Panggillah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu jika kamu khilaf tentang itu, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

"Nduk...nanti kalau kamu sudah menikah harus berbakti kepada suamimu. Orang tuamu ini sudah tidak punya hak apa-apa kecuali atas ridho suamimu." Begitu Dia memulai  pembicaraan dengan anak gadisnya 

"Iya Mama...aku faham itu", Jawab anak gadis  itu sambil membenarkan  posisi  duduknya.

"Jagan lupa ajak suamimu solat jika dia ternyata tidak setaat kamu dalam beribadah."

"iya mah... insyaallah aku juga faham ini dan kami akan terus menjaga aqidah." Kata anak perempuan  satu satunya dalam keluarga  ini.

"Apa lagi yang mama pesankan utukku agar hidupku benar-benar lurus mah?

Anak ini memang  lumayan cerdas. Saat kuliah  Dia ambil jurusan akutansi perpajakan di Trisakti Grogol IP nya cukup bagus Alhamdulillah.

"Satu lagi ya Nduk pesen, ini tolong sampaikan ke calon suamimu sebelum menikah biar faham. Hampir semua pasangan baru dalam pernikahan itu tidak terpikirkan pasca nikah."

"Kira-kira 6 bulan, satu tahun atau 2 tahun tidak kunjung ada tanda2 kehamilan maka pasangan akan mulai gelisah."

"Secepatnya ambil keputusan salah.. contohnya adopsi anak untuk pancingan, ini tidak benar ya."

Dia tanya lagi , "lalu apa yang sebaiknya aku lakukan ma?"

 1.Usaha via medis, sekarang ada program hamil, kebetulan temen mama anaknya ikut program tersebut Alhamdulillah berhasil, tapi memang cukup besar biayanya.
2. Usahakan tidak mengambil anak dari saudara kita. Itu akan menimbulkan kecemburuan sosial di kemudian hari.

3. Jangan adopsi anak, karena akan ribet nantinya. Contoh kita adopsi anak laki-laki, lalu ibu ini statusnya tetep orang lain kan?
Berarti kalau di rumah tetep harus berjilbab to? Atau sebaliknya..Jika kita adopsi anak perempuan. Si Bapak angkat kan tetep orang lain, maka si anak perempuan ini setelah baligh tutup aurot di rumah kan, nah ini jadi repot to?

Anak gadis itu menganggukkan kepala tanda setuju.

"Bagaimana nanti kalau sampai tua saya tetep tidak punya keturunan mama? Siapa yang merawat dan mengurusku,  siapa yang mendoakan kalau aku sudah tiada?" Tanya gadis itu 

"Pertanyaan mu cukup cerdas nduk...
Jika kamu bisa berlaku adil kepada semua saudaramu, seluruh ponakanku, berbuat baik kepada setiap orang tanpa pamrih...maka Allah lah yang akan menjagamu..kamu harus Yaqin itu."

"Tiga perkara yg kita harus ingat; 1.Sodqoh jariyah. 2. Ilmu yang berguna. 3. Doa anak yang soleh. Jika Allah tidak menitipkan seorang anakpun kepada dirimu, maka point' satu dan point' kedua harus benar-benar kamu maksimalkan."

Alhamdulillah, sekarang anak gadis itu bener-benar  merasa tenang . "Terimakasih mama ku tercinta." Gadis itu  memeluk mamanya.

Ini adalah wejangan Yu Parti kepada anaknya menjelang pernikahan.

Kalau Anda bagaimana?,  apakah sama dengan Yu Parti, ataukah berbeda,  atau semuanya  dipercayakan pada anak?

Itu berbeda  antara  orang  tua  yang  satu dengan  yang lainnya.

Yah, kita berdoa  semoga  anak-anak  kita menemukan  jalannya  sendiri,  yang  penting  jalan yang lurus  seperti  jalannya  orang-orang  yang telah diberikan  nikmat  kepadanya,  yaitu  jalannya  para Nabi  dan Rosul. Aamiin. 

Semoga  pandemi  segera berakhir,  sehingga  kita  bisa berkarya  menapaki  garis takdir.

Magetan,  17 Mei 2021

Nasihat Mama

Memiliki  anak perempuan  itu seperti  berdiri  di ujung duri,  atau dalam  bahasa jawanya "ancik ancik pucuking ri". 

Artinya  penuh kekhawatiran,  jangan jangan  begini, begitu  dan sebagainya yang tidak sesuai  dengan harapan. Ketika  belum datang  jodohnya  pada hal sudah sampai  umurnya, juga mikir. Ketika  jodohnya  datang sebelum  sampai  umurnya  juga mikir.

Itulah  tugas orang  tua,  mengantarkan  anaknya  hingga  ke jenjang pernikahan.  Agar  pernikahan  anak kita bahagia selamanya. 

Ada beberapa pesan  Ibu kepada  anak perempuannya  ketika  akan menikah  seperti  yang disampaikan  oleh  sahabat  saya mbak Parti  yang perlu  dicatat.

"Nduk...nanti kalau kamu sudah menikah harus berbakti kepada suamimu. Orang tuamu ini sudah tidak punya hak apa-apa kecuali atas ridho suamimu."

"Iya Mama...aku faham itu", Jawab anak perempuan  itu.

"Jgn lupa ajak suamimu solat jika dia ternyata tidak setaat kamu dalam beribadah."

"iya mah... insyaallah aku juga faham ini dan kami akan terus menjaga aqudah." Kata anak perempuan  satu satunya dalam keluarga  ini.

"Apa lagi yang mama pesankan utukku agar hidupku benar-benar lurus mah?

Anak ini memang  lumayan cerdas. Saat kuliah  Dia ambil jurusan akutansi perpajakan di Trisakti Grogol IP nya cukup bagus Alhamdulillah.

"Satu lagi ya Nduk pesen ini tolong sampaikan ke calon suamimu sebelum menikah biar faham. Hampir semua pasangan baru dalam pernikahan itu tidak terpikirkan pasca nikah."

"Kira-kira 6 bln, satu tahun atau 2 tahun tidak kunjung ada tanda2 kehamilan maka pasangan akan mulai gelisah."

"Secepatnya ambil keputusan salah.. contohnya adopsi anak untuk pancingan, ini tidak benar ya."

Dia tanya lagi , "lalu apa yang sebaiknya aku lakukan ma?"

 1.usaha via medis sekarang ada program hamil,kebetulan temen mama anaknya ikut program tersebut Alhamdulillah berhasil, tapi memang cukup besar biayanya.
2.usahakan tidak mengambil anak dari saudara kita. Itu akan menimbulkan kecemburuan sosial di kemudian hari.

3. Jangan adopsi anak, karena akan ribet nantinya
Contoh kita adopsi anak laki2...lalu ibu ini statusnya tetep org lain kan?
Berarti di rmh tetep hrs berjilbab to?
[17/5 09:53] PARTI GAS: Atau sebaliknya..jika kita adopsi anak perempuan...
Si bpk angkat kan tetep org lain..maka si anak perempuan ini setelah baligh tutup aurot di rumah kan.nah ini jadi repot to?
Anakku menganggukkan kepala tanda setuju
[17/5 09:54] PARTI GAS: Bagaimana nanti kalau sampai tua saya tetep tidak punya keturunan mama? Siapa yg merawat dan mengurusku?
[17/5 09:55] PARTI GAS: Siapa yg mendoakan ku?
[17/5 09:55] PARTI GAS: Pertanyaan mu cukup cerdas nduk...
[17/5 09:57] PARTI GAS: Jika kamu bisa berlaku adil kepada semua saudaramu,seluruh ponakanku,berbuat baik kepada setiap org tanpa pamrih...maka Allah lah yg akan menjagamu..kamu hrs Yaqin itu
[17/5 09:59] PARTI GAS: Tiga perkara yg kita hrs ingat
1.sodqoh jariyah
2.ilmu yg berguna
3.doa anak yg soleh
[17/5 10:00] PARTI GAS: Jika Allah tidak menitipkan seorang anakpun kpd dirimu,maka point' 1 dan point' kedua hrs benar2 kamu maksimalkan..
[17/5 10:01] PARTI GAS: Alhamdulillah...sekarang Firda bener2 merasa tenang ..terimakasih mama ku tercinta.
[17/5 10:02] PARTI GAS: Ini adalah wejangan ku kpd anak2ku menjelang pernikahan.

Minggu, 16 Mei 2021

Hafalan Qur'an di usia senja.

Gambar ilustrasi: Kiriman  sahabat 

Menfhafalkan Al Qur'an  di usia senja memang butuh perjuangan yang gigih. Tapi jangan mengatakan  sulit,  saya yakin kalau sungguh-sungguh  pasti  bisa. Kalau mengatakan  sulit  maka akan jadi sulit  beneran. 

Pagi setelah  subuh  menghafalkan  sampai  jam 06.00, hanya dapat 2 ayat. Kemudian pulang, alhamdulillah  di ruang tamu sudah disediakan jaseku oleh bu Parno. Kemudian saya sruput  hingga tetes terakhir. Di meja ruang  tamu banyak disediakan  jajanan  anak-anak  sebagai  suguhan lebaran,  tapi tak ada yang datang,  yah.... situasi  pandemi  membuat  berubah  segalanya.

Kemudian  ganti baju,  mau pergi  ke kebun,  melihat  perkembangan  alpukat  yang sudah 6 bulan saya tanam. Tidak lupa membawa cangkul,  pecok dan sabit. 

Kebunku  tidak jauh  hanya dibelakang rumah saja. Kebun  warisan  dari Ibu ini harus  saya rawat  dengan baik.  Semakin  sering dikunjungi  maka semakin  bersih  dan terawat. Selalu ingat  pesan Bapak, "kalau ingin  makan kenyang,  cangkulah  yang dalam". Begitu  katanya dulu  disaat aku membantu  mencangkul  di kebun. 

Di sekitar  alpukat  itu  saya cangkul  melingkar,  bahasa pertaniannya  "diipuk", anak kota pasti  tidak tahu  ini. Kalau sudah  ditaburi  pupuk  sedikit,  yang baik  pupuk  kandang. 

Selepas mencangkul ,  sambil  duduk  menenangkan nafas  mengingat-ingat  hafalan  Qur'an  tadi. Ya Allah sudah lupa. 
Sekarang  usiaku  sudah 54 tahun , mungkin  karena  sudah tidak muda lagi. Dulu  ketika  SMP  diberi  tugas hafalan  oleh Pak Guru,  mudah  sekali  menjalaninya. Tapi sekarang  butuh perjuangan. Selepas magrib,  menghafalkan lagi,  habis isak melihat  lagi, itu strategi saya menghafal. Kalau Anda bagaimana?

Mungkin  anda penasaran,  coba buka surat  Al Mulk  halaman  562, anda hafalkan. Hanya 30 ayat , tidak panjang sebenarnya. Mungkin  anda lebih  cerdas dari saya  sehingga  bisa hafal  lebih cepat. Jujur  saya harus berjuang  keras  untuk  fokus  menghafalkan. 

Gus Baha' menyanpaikan,   surat ini yang kelak  memperjuangkan  mati-matian  membela  kita  , agar kita tidak disiksa Malaikat.  Syaratnya  harus hafal. Bagaimana  tertarik  nggak?

Mengapa  kita menjadi  gampang lupa diusia  senja.
1. Banyak urusan dunia 
2. Banyak dosa 
3. Banyak  syaraf  otak  yang mulai  melemah  fungsinya.  

Menurut  saya itu sebabnya,  sedangkan anak kecil  yang mudah menghafal  Qur'an  disebabkan  belum banyak  urusan,  belum banyak  dosa  dan syaraf otaknya  masih  kuat. Tambah lagi dapat  doanya  orang tua  , mungkin  bapak atau  ibunya  , atau kakeknya  yang telah tiada pernah mendoakannya. 

Ketika  kecil  usia  kelas  2 SD saya hafal surat  Alfatihah , entah apa yang menyebabkan,  saya punya pemikiran  agar  saya hafal  surat  ini  terus,  maka saya mengerjakan  sholat dan pasti dibaca setiap salat. Jadi  mendirikan  salat  bukan karena  ketaatan  tapi agar hafalan saya  tidak hilang. Astagfirullah hal adhiim. Salah niatnya.

Tapi  ada hikmah  juga yang ada didalamnya , agar hafalam  surat dalam Alqur'an  yang telah kita hafal  tidak  lupa  atau tidak hilang  maka dibaca  pada saat  salat, yaitu  dibaca setelah  alfatihah.

Anak anak santri Tembiro, penghafal  Qur'an,  selalu  membacanya  pada saat salat  tarowih  hingga katam  sampai  pukul  03.00.

Kalau  saya nanti siangnya  ngantuk,  akhirnya  kerja  tidak maksimal,  untuk  itu  saya mengambil  yang 11 rakaat saja, jalani dengan khusuk,  tidak capek, tidak ngantuk.

Ya Allah  semoga  ini tidak  karena lemah iman,  tapi ingin menjalani  dengan pelan  tidak  keburu-buru. Ya Allah berilah  kekuatan  untuk  bisa salat  dengan bacaan  surat  yang panjang, dengan ikhlas dan kesadaran.

Kanjeng Nabi SAW kalau salat sendiri  sampai kakinya  bengkak, saking  lamanya. Tapi kalau  salat  berjamaah  lebih  pendek  bacaan  suratnya. 

Karena kekuatan  makmumnya berbeda-beda,  urusannya  berbeda-beda,  masalahnya  berbeda-beda.

Semoga pandemi  segera berlalu sehingga  bisa belajar  dan berbagi  ilmu. 

Wallohu  a'lam bi sawwab.


Magetan,  16 Mei 2021














Sabtu, 15 Mei 2021

Menulis itu seperti bermain bola ping pong

Tenes meja atau ping pong adalah jenis olah  raga yang paling saya sukai. Dengan olah raga ini saya bisa mengeluarkan  banyak keringat. 

Dengan olah raga ini saya bisa tertawa lepas, tertawa  yang tidak genuin , tidak dibuat  -buat, tetapi spontan  lepas. Sehingga  dengan olah raga ini saya merasakan seperti  rekreasi atau piknik.

Dengan olah raga ini saya juga merasa hangat  bersama  teman,  seperti hangatnya  minum kopi di pagi hari.

Orang yang gampang marah  katanya  karena kurang piknik atau kurang ngopi. Karena baru katanya  maka masih  perlu  penelitian  ilmiah. Silahkan  dijadikan  judul penelitian, ayoo siapa  berani.

Ping pong itu kalau bet sudah menyatu  dengan tubuh dan  pikiran  maka berbagai  keadaan selalu  bisa diatasi atau dilakukan.  

Ping pong itu  kalau baru pertama  kali,  jantung  ini terasa  berdetak kencang,  nafas berhembus  tak teratur,  terengah-engah seperti  kehabisan  udara. 

Tetapi kalau  sudah terbiasa  bermain empat  kali  misalnya,  maka detak jantung kita  akan terasa stabil,  hembusan nafas kita  teratur, seperti  menghirup  oksigin  di bawah hutan pinus. 

Menulis juga seperti  itu bisa menjadi hiburan, bisa menyenangkan,  bahkan  kalau Mas Doktor  Naim mengatakan  sebagai "kelangenan", seperti Bapak-bapak memelihara  burung  itu adalah  "kelangenan."

Untuk  penulis pemula,  bisa terengah -engah kehabisan ide , kehabisan kata. Tetapi kalau  sudah terbiasa  antara tangan  mata dan pikiran sudah menyatu  maka menulis itu  akan terasa mudah. Seperti  bermain bola pingpong  yang bisa saja  dalam berbagai posisi  dan keadaan. 

Agar tulisan itu  tetap menarik  maka diadakan  berbagai  trik  dan strategi , seperti  bermain  pingpong  juga. Ada serven  dengan bola  diplintir, ada cemesan begen, ada cemesan  melayang,  ada tipuan  dan sebagainya. 

Agar kita bisa menulis dengan baik  maka harus banyak  membaca tulisan orang lain , banyak membaca buku dan praktek menulis.
Bagi saya menulis  adalah olahraga  otak,  olahraga  pikiran  juga  olah  perasaan.

Kadang jari ini seperti  dituntun  oleh perasaan dan pikiran. Menari-nari di keypet atau menyentuh  huruf-huruf  yang ada hingga menjadi kalimat  yang enak  dibaca  dan sarat dalam makna. 

Dalam  bermain pingpong  dilihat  orang  atau tidak  tetap bermain  total mempersembahkan  permainan  terbaik. 
Dulu  saya punya teman  namanya Mas J. Dia pinter sekali  main pingpong,  tak ada satupun  yang bisa mengalahkan , pokoknya  hebat  deh. Tapi lama  tidak berlatih  entah karena apa. 

Sedangkan  saya permainan  saya biasa biasa saja ( baca paling jelek). Tapi saya setiap  minggu  berlatih  2 kali,  lama-lama  permainan  saya menunjukkan  kemajuan,  akhirnya  saya bisa memenangkan  mas J tadi. 

Menulis juga seperti  itu,  saya "ndableg" saja, dibaca  orang  atau tidak  tetap menulis saja. Seperti  matahari  dilihat  orang  atau tidak  tetap berputar  mengelilingi  bumi. Justru kalau tidak berputar  maka akan membuat  dunia gempar.

Dihina orang  ya tidak apa-apa,  dikecam orang sudah  biasa, tidak masalah. Yang penting niat  saya menebar  kebaikan,  menebar  benih literasi untuk  anak negri. 

Tulisan  itu  akan menemui  takdirnya masing-masing. Sebuah  tulisan  kadang  tak dianggap  bermakna  bagi seseorang,  tetapi  sangat  bermakna  dimata  orang tertentu. 

Oleh karena itu  terus saja menulis sampai  tulisan  itu bertemu  dengan takdirnya, dibaca  orang. 

Di SMP 2 Karangrejo  saya seperti  bertemu  dengan habitat  saya, banyak guru-guru  yang suka  olahraga  pingpong. Saya cepat akrab  dengan mereka,  tertawa bersama  tanpa  merendahkan  sesama. Saya merasa  bahagia,  sebab  itulah  cara menikmati  hidup, beribadah, belajar ,  bekerja,  berkarya,  tertawa. Dan itu ada di sana. Di sekolah  yang  brandingnya "SIP ; Santun Inovatif  dan peduli".

Semoga pandemi  segera  berlalu  sehingga  kita  siap menimba  dan berbagi  ilmu.


Magetan,  16 Mei 2021



Sowan Kyai

Hari ke 3 Idul fitri saya lewati  dalam sepi,  rumah-rumah sepi,  jalan-jalan sepi, karena ada larangan mudik. 

Silaturahmi  hanya  pada tetangga dekat  saja, demi keamanan  bersama.  

Kemarin ( 14 Mei 2021) aku Silaturahmi  ke Kyai Gun, sayang kami tidak bisa bertemu, beliau sakit. 
Hanya bu Nyai Nuning  yang menemui. 
Kyai Gun  gulanya naik, sampai 400 an,  kemudian berapa hari lagi  cek malah hanya 90. 
Menurut  putranya  yang di Ngawi, Kyai Gun baru saja jatuh. Kira-kira puasa  ke 25.
Semoga Kyai Gun segera sembuh. Biasanya  kalau bertemu  saya pasti ada saja yang diceritakan. 

Setelah proses sungkem,
Kami dipersilahkan  menthong. Menthong  itu  semacam makan ke dua. Kalau di desaku  namanya mindho. Makan kedua setelah makan siang. Biasaya  waktunya  jam 16.00. Dulu jam segitu  aku merasa lapar. Karena tidak ada  makanan lain  kecuali nasi.
Tidak ada jajanan,  tidak ada camilan  dan lain-lain.

Kami merasa seperti  cucu  sendiri,  kalau  ke sana  pasti  dipersilahkan  makan. Bagi saya bukan  perkara  lapar  atau  kenyang,  tapi masalah "keberkahan." Makan di rumah Kyai  itu  banyak keberkahan,  untuk  itu entah  sedikit  atau banyak  saya pasti makan.

Rasanya beda,  saya merasakan enak.  Barangkali  itu  salah  satu keberkahan. 

Saya ingat  teman-teman  saya ketika "meguru"  di sini, ada bu Juk ( Siti Juariah), Pak Giono dan bu Marsi, ada mas Wawan dan Andika. Ooo... ada yang lupa bu Bibit. Ibu yang satu ini perjuangannya luar  biasa,  walaupun  ada gangguan  pendengaran  tapi semangatnya luar biasa untuk  "diwejang  ngelmu hak satoriyah." 
Pak Waji dan Pak Nur  yang setia  mendampingi  kami. Beliau ini luar  biasa  termasuk  santri  "kinasih" nya bu Nyai. Di Malam hari  beliau  bercerita  tentang  Kyai Haji Abdurrohman  yang masa kecilnya dikenal sebagai Bagus Bancolono. Seorang putra  Kyai di Pacitan, yaitu Kyai Ahmadiyo.

Habis itu saya pamit pulang, kemudian   karena waktunya  salat  asar, saya mampir  di Masjid. Salat  di sini  memang beda,  rasanya  mak cles, sejuk  dihati,  tenang di kalbu,  damai di sanubari. 

Yang saya kagum,  masjid  sudah 200 tahun,  tapi masih megah  dalam kewibawaan. Tidak banyak  rehab  di dalamnya,  hanya  lantainya saja diganti  marmer. 

Nenek saya bercerita, masjid ini  pernah  di bom  oleh  tentara  Jepang,  tapi  tidak mempan,  bomnya "mejen", katanya.

Yah..., itu salah satu karomah,  karena  masjid  ini didirikan  oleh  wali,  yang " gede tirakate , bentur tapane". 

Selesai salat, saya pulang, ditemani  nyonya, bu Parno.  Saya nyopir  sambil  mendengarkan  alunan takbir  di radio Temboro. Saya fokus,  bu Parno  tentram hatinya  tak ada suara tak ada kata. Setelah  saya toleh ternyata  hes..... tidur, ya udah.


Magetan,  15 Mei 2021
 

Kamis, 13 Mei 2021

Sungkem simbah

Kira kira saat itu  aku berumur  antara 8 sampai 9 tahun. Kemudian  rombongan  dengan teman-teman  yang rata-rata  berumur  diatasku. Berangkatlah  badan, atau disebut  juga sungkeman,  atau disebut juga ujung ke rumah  tetangga  yang hampir  semuanya  saudara. Karena kami tinggal di desa  yang kebanyakan masih sudara sepupu. Sepanjang  250 meter atau satu Rt, semuanya  masih saudara  dekat. 

"Badane lahir batin mbah" ucap  teman yang usianya  di atasku. Dia dalam posisi  seperti bersembah sujud.

"Iyya ngger  sira ngaturake pangabekti  neng aku yo wis tak tampa , ana luput  tindakmu sak pecak rembukmu sekecap, muga sampurna  ana dino  mariadin  iki yo. Nanduro  pandan  kurung,  ringin agung,  doyong -doyong  jejegno,  alum -alum siramono, sinyirami  anak putuku  yo ngger. Simbah  ndedongo  mugo mugo  kasembadan  apa kang dadi sedyamu  yo ngger,  wis dongane  slamet." Kurang lebih  seperti  itu  jawaban  simbah.

Giliran  saya maju dengan posisi  seperti  yang dilakukan  temanku. Tapi aku nerves,  ndredeg, aku lupa  apa yang aku katakan.

"Batane  lahir  batin mbah". Waduh ucapku  kliru. Teman-temanku  ketawa. Tetapi simbah  tetap  bijaksana  menjawab  sungkemku  dengan jawaban  persis  seperti  apa yang dikatakan  pada  teman-temanku.

Selesai sudah,  kami  dipersilahkan  mengambil jajanan  yang tersedia. Makin  kaya simbah,  makin  lengkap  jenis jajanan  yang disajikan. Tapi semua  serba jajanan tradisional,  ada rengginan, likak-likuk, jadah, jenang,  kacang oling, ada tape ketan, dan lain-lain, minumnya  sirup  berwarna  merah.

Biasanya  kalau pulang "disangoni galak gampil,"  10 rupiah.

Peristiwa  itu  membuat aku terkenang,  kemudian  aku diajari  oleh simbok. Simbokku bukan orang berpendidikan  tinggi, tapi memiliki  pengetuan  yang banyak tentang  budaya Jawa.

"Kulo nuwun mbah, sowan kulo wonten  ngarsanipun simbah. Kulo ngaturaken sungkem pangabekti,  katuro dateng  simbah,  wonten klintu tindak  kulo sak pecak  rembak kulo sak kecap,  kulo nyuwun  pangapuro  dateng  simbah saha nyuwun pangestu  dateng simbah." Ini yang diajarkan  simbok  kepada aku, saya hafalkan dengan baik. Tidak  ada teman-temanku  yang memiliki  ucapan seperti  ini.  

Giliran  sekarang  tidak  ada simbah  yang menerima sungkem  dengan ucapan seperti  itu. Mungkin  sudah dianggab  kuno , tidak sesuai  dengan perkembangan  zaman. Atau menghafalkannya terlalu  sulit. 

Tapi sebenarnya  yabg diucapkan  simbah  dulu mengandung  nilai sastra yang baik,  seperti  ono  luputmu  tibdak sak pecak  rembuk sakecap  muga sampurna  dino mariadin ( Riyadin, ariyadin ) iki.

Lebih-lebih  masa  sekarang,    cukup dengan twibon  ucapan lebaran. 

Pernah  saya sungkem dengan ucapan  seperti  yang diajarkan simbok  dulu, eh jawabnya  begini, "iyoo le badane lahir  batin ya", dalam hati  tertawa...., nggak nyambung. 

Oleh karena  itu kalau mau sungkeman  harus pandai membaca dan menerka,  kepada siapa kita sungkem,  dengan bahasa  yang mana Dia menerima.

Semoga Pandemi  segera berlalu  terhempas  tumpas oleh doa hamba yang ikhlas.

Magetan,  14 Mei 2021





Menghafal Surat Al Mulk


Sumber ilustrasi : Pesantren laduni.id

Syawal hari ke dua, ada hal yang sangat penting  saya tulis. Mungkin penting juga untuk  anda. Ada santrinya  gus Baha' dari Sulawesi. Pada suatu  saat dia setor  hafalan surat Al Mulk. Surat itu agak panjang  ayatnya terdiri dari 30 ayat. Ada di halaman 562. 
Santri ini berusaha keras  menghafal  surat ini agar kelak di hari akhir  tidak di siksa oleh Malaikat. 

" Bermain gitar itu  hukumnya bagaimana  Gus?" Tanya santri itu.
"Kurang kerjaan", Jawab Gus Baha'

"Nggak Gus, halal atau haram?" Desak Santri itu.
"Kurang  kerjaan, kalau saya jawab marahi ruwet." Jawab Gus Bahak.

Rupanya santri itu tanggap, akhirnya  menghafal surat  Al Mulk ini agar tidak disiksa Malaikat. 

Menurut  Gus Baha' Malaikat  itu juga mukalaf, artinya  juga terikat  pada peraturan. Malaikat  tidak boleh menyiksa manusia  yang dihatinya ada Al Qur’an. 

Gus Baha' menyanpaikan ada satu surat  dalam Alqur'an  yang berjuang  mati-matian  membela  orang  yang hafal  surat ini, hingga  masuk  Surga. Yaitu  surat  Al Mulk. 

Oleh karena itu penting sekali  untuk  kita hafal  agar tidak disiksa Malaikat,  agar diperjuangkan  hingga masuk  surga.

Mengikuti  ceramahnya  gus Baha' memang  menentramkan  hati,  banyak  ilmu  yang disampaikan beliau. Beliau  termasuk Kyai yang sederhana, biasanya pakai baju putih, kopyah hitam kelihatan rambut depan sedikit dan seperti  Kyai lain, selalu pakai sarung.  Cita citanya jadi wali.  Wali itu  kekasih Allah. Luar  biasa,  siapa  yang tidak suka menjadi  kekasih Allah. Pasti masuk Surga.

Gus Baha'  yang mempunyai nama lengkap K.H. Ahmad Bahauddin Nursalim   (lahir pada 15 Maret 1970 di di Sarang Rembang Jawa Tengah adalah salah satu ulama  (NU) yang berasal dari Rembang.  Gus Baha' dikenal sebagai salah satu ulama ahli tafsir yang memiliki pengetahuan mendalam seputar al-Qur'an. Ia merupakan salah satu murid dari ulama kharismatik, K.H Maimun Zubair . Gus Baha’ merupakan putra dari seorang ulama pakar Al Qur'an dan juga pengasuh Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA yang bernama KH. Nursalim al-Hafizh dari Narukan Kragan Rembang.

Ayah Gus Baha’ (KH. Nursalim) merupakan murid dari KH. Arwani al-Hafidz Kudus dan KH. Abdullah Salam al-Hafidz Kajen Pati, yang nasabnya bersambung kepada para ulama besar.

Saya senang mengikuti  ceramahnya  walaupun di youtube.  Tamapaknya  Kyai  yang satu  ini namanya  sudah sangat  terkenal di dunia maya. 

Semoga  pandemi  segera  berlalu , kita bisa bebas  merdeka  untuk belajar  ilmu. 



Magetan,  14 Mei 2021

Sumber bacaan : 
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Bahauddin_Nursalim