Kamis, 19 November 2020

Mencintai warisan budaya sendiri

Anak anak milinial  kebanyakan  kurang mengenal budaya warisan leluhur  nenek  moyang kita   seperti  gamelan, wayang kulit, ketoprak,  ludruk,  wayang orang, lenong, reog Ponorogo  dan lain  lain. 

Mereka beralih menyukai  alat alat  musik  modern,  Band, ndang dut, kroncong,  jaz, pop, rock dan lain  yang itu  merupakan  budaya luar  negri.

Kok  bisa begitu  ya? Siapa  yang bersalah?
Jangan mencari  siapa  yang  bersalah, kalau  sudah ketemu  mau diapakan. Saya dulu  ditugasi  menemukan siapa  yang mengambil  uang hilang di kelas 3a tahunnya  lupa.

Saya panggil  anak  yang kehilangan,  saya interview.  Anak-anak  yang dicurigai  di interview,  akhirnya  ketemu,  setelah  ketemu  apakah  digebugin, ya tidak,  apakah dilaporkan  ke Polisi  , ya tidak.

Jadi  yang penting  adalah  menumbuhkan  rasa cinta  pada budaya  asli  bangsa  Indonesia kepada anak anak didik kita.

Bagaimana  menumbuhkan,  dengan mengadakan  even even lomba seni.  Kemudian  diapresiasi , diberikan  sertifikat,  diberi  hadiah.

Kita  beri  keteladanan bahwa kita orangtua mencintai  budaya  kita sendiri. Budaya  adalah  bentuk kreativitas  manusia  dari jaman  ke jaman.  Budaya  adalah hasil buah budi daya manusia  yang bernilai  estetis dan bermakna. 

Oleh  karena  itu  kita  harus mencintai budaya  kita sendiri. 

Banyak orang asing belajar  budaya  Indonesia.  Kang Den nama aslinya  Daniel Nicky dari Amerika  pergi ke Bandung untuk  belajar  budaya  Indonesia.  Dia bisa bahasa Indonesia  dengan fasih, dia bisa memainkan alat musik  kecapi, seruling, gendang.  Dia bisa berbahasa  sunda dengan fasih. 

Cerita  lain, cak Dave Londo Kampung,  dia dari Austria  datang  ke Bandung,  belajar  budaya  dan bahasa,  kemudian pindah  di Surabaya.  Dia bisa bahasa  Suroboyoan , Bahasa Madura,  Bahsa  Indonesia  dll. Dia tinggal  di Kampung  agar bisa  mengenal  lebih banyak budaya  Indonesia. 

Kalau  orang asing  saja mencintai  budaya  kita,  mengapa kita  tidak?

Oleh  karena  itu  kami  punya  paguyuban  Kerawitan yang anggotanya  para Kepala  Sekolah.  Kami datang ke sekolah  sekolah,  saling berkunjung,  untuk  latihan Kerawitan.  Banyak  sekolah sekolah  yang mendapatkan  bantuan  alat  musik,  kasihan  kalau  tidak digunakan. Kalau  membeli mahal, untuk  itu  mari  kita manfaatkan yang  sebaik baiknya. 

Saya berpikir  seandainya  diadakan  lomba  Kerawitan antar  sekolah sangat  positif  sekali.
Dulu  pernah ada lomba nembang moco pat.  Saya pikir  mulai  diadakan  lagi akan lebih baik.  


Magetan,  3 Desember  2020











Tidak ada komentar:

Posting Komentar