Sabtu, 14 November 2020

Minggu cerah berkebun alpukat

Hari ini saya makan bareng kang Iman, setelah menyelesaikan  kerja. Saya bisa menyelesaikan  banyak pekerjaan  hari ini,  menanam  pepaya, kemudian  menyemprot  rumput  dengan rondap,  obat rumput  yang banyak  dipakai  di kalangan  petani.

Dua minggu  yang lalu saya menanam  alpukat  25 pohon dan 4 pohon pete.
Dalam penanaman  ini selalu  berdua  dengan sijantung hati,  istriku. Rasanya  nyaman  bekerja berdua,  istriku  membawa  minuman kalau  nanti haus. Seperti  Bapak dan Ibuku  dulu  kalau  ke kebun  berdua  bahkan bertiga denganku,  Ibuku  menggendong  tenggok,  berisi makanan  kecil  dan minuman,  kalau  waktu  istirahat dimakan sambil duduk  di atas galengan
Saya membantu  sebisaku, Bapakku  tidak pernah menuntut  lebih, hanya sesekali pernah mengajari cara mencangkul, membajak, mengemukakan garu. Yang terakhir  ini yang saya suka,  naik garu. Saya ingin bisa sendiri,  tanpa dipandu Bapak,  sehingga  suatu  ketika  pernah menabrak pohon kelapa yang ada ditengah kebunku. Maka seketika  sapinya berhenti.

"Kita itu  yang penting kerja dengan sedikit  teknik  dan  perencanaan. Mengenai  nanti  buahnya  banyak atau sedikit,  prospek  buahnya mahal atau  tidak,  rezekinya  banyak atau  sedikit,  itu  wilayah  kewenangan Allah." Kataku  pada istri, sambil  istirahat dan minum segelas   air  putih. 
"Iya," jawab istriku  singkat  sambil  mengusap keringat  di keningnya. Dia terengah engah  habis  membersihkan rumput  di sekitar  pohon  ketela  yang sudah tumbuh se lutut  orang dewasa.

"Kalau bisa begitu  hati ini rasanya  adem ayem tentrem.  Gak iri  dengan tetangga,  tidak khawatir  nanti miskin,  tidak khawatir dimakan burung,  bajing  , codhot,  tikus  dan lain sebagainya. Semua  yang dimakan  burung, codhot,  tikus,  bajing,  dan lain lain  akan menjadi sodakoh  kita." Lanjutku.

Kita tidak  dirugikan oleh siapapun,  siapa yang merugikan kita,  dialah yang akan  mengganti  akibatnya. Peribahasa  sopo utang bakal nyaur, sapa nyilih balekake, sapa nandur bakal ngunduh.  Saya yakin peribahasa  ini bakal  terjadi, tidak bisa tidak.

Jadi  bersikap  wajar  dan senang hati saja, jangan takut  menanam  karena  takut tidak panen. Harus tetap menanam. Tidak usah takut  dihina orang,  tidak takut  ditipu orang, dan tidak usah  takut dicelakai  orang.

"Ayo kang nambah nasinya", kang Iman  makannya  sedikit,  badanya  agak kurus,  tapi sehat lincah  dan gesit  cara kerjanya.
Kang Iman  tidak menambah,  malah menyalakan rokoknya.

Asabnya membumbung  tinggi menuju awan, Seger  rasanya  habis  makan  kemudian menghisab rokok sambil  memandangi  langit  biru  yang cerah  di atas rumahku.

Magetan,  15 Nopember  2020.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar