Kamis, 20 Mei 2021

Menyalahkan diri sendiri.

sumber ilustrasi: regional.kompas.com
Kadang kita melihat  perilaku orang lain itu pusing. Hampir  semuanya tidak sesuai dengan harapan kita. Kita menuntut  orang lain  itu sempurna. Kalau ada orang lain melakukan  kesalahan  sedikit  saja, kita segera meng "judge" ( menghakimi) bahwa dia itu  salah, bahwa dia itu  jelek, bahwa dia itu tidak sempurna. 

Kita lupa bahwa memang  kita ini manusia yang lengkap  dengan kekurangan,  dengan ketidak sempurnaan. 

Kita mengidolakan  seseorang,  tapi  begitu  melihat  Dia melakukan  kesalahan  maka tidak jadi mengidolakan. Oleh karena  itu  kalau  mengidolakan  jangan  orang   tapi Nabi saja,  yang selalu sempurna  di setiap  tabiat  dan tindakannya.

Saya pernah membaca tulisan  seperti  ini, "saya tidak suka pada orang yang sok bijaksana". 

Yah...,   seperti  itulah  kebanyakan  orang menuntut  orang lain  itu  bijaksana,  sempurna,  tidak pernah melakukan  kesalahan. 

Tapi tidak  pernah  menuntut  diri sendiri menjadi bijaksana,  tidak melakukan  kesalahan. Bahkan kalau  diri sendiri  melakukan kesalahan  mereka tidak tahu. Mereka menganggap  dirinya itu sempurna,  tidak memiliki  dosa apa apa. 

Ada satu konsep sederhana untuk memperbaiki  akhlaq. Jangan menyalahkan orang lain  tapi salahkan diri sendiri. Semuanya  kompak menyalahkan diri  sendiri. Kalau kita menyalahkan orang lain  maka jadinya  bertengkar. Tidak bertambah  baik keadaan  tapi justru  bertambah  runyamnya  keadaan.

Sahabat Alui Bin Abi  Tholib RA mengatakan ,"Jangan mengawasi orang lain, jangan mengintai geraknya, jangan membuka  aibnya, jangan menyelidikinya, sibukkanlah  dengan diri kalian  sendiri,  perbaiki  aib dan salahmu,  karena kelak kau akan ditanya Allah tentang  dirimu  sendiri,  bukan tentang  orang  lain."

Kalau  kita menyalahkan  orang lain tidak ada usaha perbaikan  diri sendiri. Karena  yang salah itu  orang lain. 

Tapi kalau  saling menyalahkan  diri  sendiri  maka akan ada usaha  perbaikan  diri  secara menyeluruh. 

Sungguh  saya tidak suka  kalau  diajak menggunjing  orang lain,  tentang aibnya. Biarlah  mereka  dengan  dunianya  sendiri. Karena  kalau menggunjing  orang  kebaikan  kita diberikan  kepada  yang di gunjing, dosanya  dia diberikan ke kita.  Betapa ruginya  kita kalau  seperti  itu. 

Memang  menggunjing  orang itu  rasanya  nikmat  sekali  seperti  minum secangkir kopi di pagi hari. Karena dihiasi oleh  setan, kopinya dibuat  lebih  manis oleh  setan.  

Mari kita simak kasus berikut;   
Ada anak mencuri pisang. 
Anaknya  dimarahi  habis habisan, sampai bahasa  binatang  keluar  semua. Si anak diam saja  karena dia sadar  bersalah. 

Setelah  diteliti  anak ini kelaparan karena  tidak  ada yang bisa dimakan  dirumahnya. 
Bapaknya sudah meninggal,  ibunya  tidak bisa bekerja  karena pabrik  dimana  ibunya  bekerja ditutup  karen  pandemi  Covid-19. 

Coba kalau  kita  memakai  menejemen  menyalahkan diri.
Mungkin kita yang kurang atau tidak sama sekali  menyantuni  anak-anak lemah, anak-anak  miskin,   anak-anak  yatim,  anak-anak  kurang beruntung di lingkungan  kita. 
Rosululloh bersabda ;
"Tidaklah beriman kepadaku orang yang kenyang semalaman sedangkan tetangganya kelaparan di sampingnya, padahal ia mengetahuinya." (HR At-Thabrani).

Mungkin  kita  yang kurang  perhatian  pada  anak-anak  tetangga  kita,  apakah  mereka  bisa sekolah,  apakah  mereka bisa makan, apakah  mereka  bisa beli baju untuk  sekolah,  untuk  ke masjid dan sebagainya.

Kemudian  si Anak juga menyalahkan  diri  sendiri,  mungkin  ketika  lapar  itu  benar-benar dirasakan,  bisa minta ijin  kepada pemilik  pisang  untuk  diberi  sedikit. Tanpa  harus mencuri  dan sebagainya.

Contoh  lain. MS seorang  pelajar  di Benteng,  Bengkulu,  Dia mengunggah  pernyataan  yang tidak pantas  di media sosial. Akhirnya  Dia dikembalikan  ke orang tuanya  dari pihak sekolah  atau dikeluarkan  dari sekolah. 

Akhirnya  Pak Gubernur  minta jangan ada sekolah lain  yang menolak. Artinya  MS tetap  memiliki  hak belajar atau sekolah ( bc JP  21 Mei 2021)

Yah, semua  harus berkepala dingin  untuk  menyelesaikan  masalah  agar  solusinya tepat,  tak ada yang dirugikan. 

Demikian semoga pandemi  segera berlalu , semoga  kita diberikan  hidayah,  dilindungi  dan dirahmati  Allah SWT. 


Magetan,  21 Mei 2021


8 komentar:

  1. Aamiin. Tidak ada manusia yg sempurna. Kesempurnaan hanya milik Allah

    BalasHapus
  2. Instrospeksi diri? Aku saaaaangat setuju,dlm rangka meningkatkan kwalitas ketaqwaan kita👍

    BalasHapus
  3. Islam mengajarkan saling mengasihi serta bisa menerima kekurangan orang lain.

    Janfan kita sibuk mencari kekurangan oranf lain.
    Justru sebaliknya sibuklah utk memperbaiki diri sendiri yg kurang baik.

    Klau kita berharap orang lain HARUS seperti saya / kita siap-2 lah utk kecewa.Krn yg kita harapkan pasti jauh dr rasa puas.

    Krn kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Sedangkan manusia tempat nya salah dan khilaf.

    Ok sahabat tetap sehat semangat serta good luck.Salam utk keluarga.

    BalasHapus
  4. Aamiin. seperti gajah di pelupuk mata tak tampak ,namun kuman diseberang lautan kelihatan.semoga kita termasuk orang yang diberi petunjuk dan dirahmati Allah.sehingga tidak kecewa akhirnya.

    BalasHapus