Kamis, 27 Mei 2021

Persahabatan bagai Kepompong

Dulu kita sahabat, teman begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari
Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat
Berharap jadi kupu - kupu
Kini kita berjalan berjauh - jauhan
Kau jauhi diriku karna sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karna ku sayang
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu - kupu

Itu sebait  penggalan lagu kepompong  yang pernah  ngehit  beberapa tahun lalu. Gambaran  cerita lagu itu seperti  pernah kami alami ketika belajar  di Snesti,  SMP1 Maospati. Kami tidak saling kenal,  banyak  perbedaan  ada di sana , dari status sosial, ekonomi,  letak geografis  dan lain-lain. Kemudiaan  kami  bersama,  becanda, bersahabat  hangat.  

Akhirnya  kami  berpisah  untuk  menapaki  garis takdirnya  masing-masing,  kami menyebar  di seluruh  Indonesia untuk  mewarnai  Indahnya Nusantara. Untuk  memaknai  vocab  bahasa  Nusantara.

Ketika  kesibukan  kami agak  reda,  kami  ingat  teman-teman  yang dulu  pernah  bersama,  kami ingin menjalin  silaturahmi.

Seperti  kemarin teman kami yu Murti  mantu  di Lamongan  sana, kota yang tak asing  ditelingaku, karena ketika  kuliah  dulu  teman  se kost  rumahnya  Lamongan, Dia tinggal di Mantup. 

Kami berangkat  naik trevel , sampai  di pos penjagaan  akan masuk  pintu  tol   diberhentikan  pak Polis. Kami  ditanya  surat  swab, tidak ada yang menunjukkan, aku sendiri  tinggal  dibangku  nomor  3 dari depan,  sedangkan  yang di depan  adalah  Mas Surono Ongkowijoyo. Kami yakin  Mas Surono bisa mengatasi  masalah  ini.

Eh ternyata  diantara  Polisi  itu  adalah  anggota  Snesti,  Mas Janu Hariyadi
tapi tidak satupun  kami  mengenalinya. 
Kami  dipersilahkan  jalan. 

Perjalanan kami selama  4 jam untuk  sampai  ke rumah yu Murti, di desa Pucuk  Lamongan. Kami berangkat  pukul  07.00 dan sampai  di sana pukul 11.00. 

"Kok ya sampai di sini mbak Murti  ya?" Pikir kami dalam Hati. Itulah  sebenarnya  Dia hanya menjalani  garis takdirnya. 

Tidak tahu jalan hidupnya bagaimana?.   Kalau diceritakan  mungkin menjadi satu buku  yang menarik. 

Kami berhenti  didepan masjid  Agung  kemudian  menyebrang  jalan raya  yang cukup  padat. Maka harus hati-hati  menoleh kanan kiri. Sudah aman  baru menyebrang. 

Sudah sampai? Belum  harus nyebrang lagi rel kereta api  dobel  track.  Batunya  besar besar,  kayak onde-onde  yang ditata  rapi. 

Yang  ini harus menambah  kehati hatian karena  kereta  api  meluncur  sewaktu-waktu  dengan  kecepatan  tinggi.

Kami diterima  dengan baik,  makanan  apa saja ada disediakan  untuk  kami. Seperti  saudara  yang  lama  tidak berjumpa.  
Setelah selesai menikmati  hidangan kami bernyanyi,  seperti  biasa. Mas Gaza dengan suara emasnya menghibur kami semua, mbak Santi yang selalu dekat  dihati, hatinya mas Bambang,  tak ketinggalan menambah hangat  suasana  pesta itu. Dan saya dengan  suara  selevel  penyanyi  kamar  mandi, juga menyanyi  bersama  dengan lagu wajib, andaikan  kau datang kembali.

Itulah  persahabatan bagaikan kepompong merubah ulat  menjadi  kupu-kupu. Ulat yang tidak  indah,  bahkan menjijikkan  berkat  persahabatan  menjadi  kupu kupu yang indah.

Semoga  persahabatan  anda juga seperti  itu, seperti  kepompong merubah ulat  menjadi  kupu-kupu. 

Magetan,  27 Mei 2021

6 komentar:

  1. Semoga langgeng olehe paseduluran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin ya robbal alamin, terima kasih mbak Parti

      Hapus
    2. Aamiin ya robbal alamin, terima kasih mbak Parti

      Hapus
  2. Aamiin pak ,In sya Allah persahabatan tetap terjaga.

    BalasHapus
  3. Aamiin senangnya yg baru jumpa teman SNESTI saya juga alumni SNESTI juga tapi sampai skrang belum ada yg bertemu, hanya mbak Lyswati itu saja 1 tahun yll krn ibu kertua ada di Nganjuk jd bisa mampir saat itu.

    Bgt pula dgn sahabatku ini juga, saya pun belum ketemu. Kapan saya tdk berani janji krn janji adalah hutang. S moga Allah msh memberukan jesemoatan utk bertemu disat usia kita seh tdk kyda lagi.


    Jaya terus SMP ku tempat menimba ilmu tetap akrab diantara kita walau tidak semudah ketemu seoerti dulu. Kita semya unya kewajiban dan tanggung jawab. Alhamdulillah dgn media ini kita jadi persis saudara.

    Thank you ceritanya maaf blog lama saya merespon bukan bosan tp kebetulan ada kegiatan yg menyita cukupbantak waktu.
    Sehat semangat dan good luck.

    BalasHapus