Selasa, 26 Januari 2021

Sejak itu tumbuh semangatku


sumber  ilustrasi: dokumen pribadi 

Kehidupan di desaku saat itu  memang diliputi  keterbelakangan. Atau secara  umum  desa desa yang lain juga begitu. 

Tugas  anak-anak  setiap pulang sekolah  adalah mencari  rumput  di sawah. Yang namanya  tidur  siang  itu  tidak ada dalam  kamus anak anak di desaku. 

Setiap  keluarga  memiliki  sapi,  atau setidaknya  kambing,  sebagai hewan peliharaan. Sapi  atau kambing adalah  tabungan  bagi mereka yang sewaktu waktu  dibutuhkan  tinggal menjualnya.

Secara  ekonomi  sebenarnya  apa yang dilakukan  oleh  masyarakat  saat itu adalah  sangat  positif. Yang mana  tak ada orang nganggur sejak SD kelas 4 s.d orang  dewasa. Semuanya  memiliki  aktivitas  ekonomi  masing-masing.

Pendidikan  kurang mendapatkan  perhatian dari  orang tua. Akhirnya  banyak  anak  yang tidak melanjutkan  sekolah setelah lulus SD.

Lantas apa yang dilakukan  mereka? Mereka  kerja,  merantau,  menikah  sehingga  kebanyakan  dari  mereka  adalah  pernikahan  dini, dan banyak  diantaranya  yang berakhir pada  perceraian.

Orang tua  lebih  memilih  membekali  anaknya berupa  harta  benda setelah  menikah.  Kalau  orang kaya setelah menikah,  anaknya  diberi  sawah, dibuatkan rumah. Kalau orang  tidak  mampu  ya tanpa bekal  apa-apa alias  mencari  sendiri.

Orang tuaku tidak termasuk  orang kaya, kalau  saya prediksi tidak akan mampu  membuatkan rumah  dan memberikan  sawah. Beliau  sendiri  hanya menggarap kebun  seluas kurang lebih  4.500 m2 atau hampir  setengah hektar. 

Kebun seluas  itu  hanya  cukup  untuk  kehidupan  sederhana  di desa.

Bertitik  tolak  dari itu  saya punya tekat untuk minta dibekali  ilmu pengetahuan  saja. Saya minta  disekolahkan  yang tinggi  semampu  orang tua membiayai.

Saya belajar  sungguh-sungguh,  sekolah  sungguh-sungguh, beribadah  sungguh-sunguh. Itu  yang saya  lakukan  keseharian. Walaupun  sering  sekali sekolah  tanpa  uang saku  saya jalani  hampir  setiap  hari. Yang penting  sudah makan  pagi. 

Kalau pulang sekolah  jam 12, keluar keringat dingin,  karena menahan  lapar dan haus.
Sampai  rumah  makan  dengan lahap dengan sayur  seadanya dan lauknya  tempe. Sambal plelek  adalah  kesukaanku. 

Alhamdulillah  keberuntungan  berpihak kepadaku, aku selalu diterima  di sekolah  paforit,  SMP1 Maospati, SPGN Magetan  selanjutnya  di IKIP  Surabaya.
Menjadi  guru  adalah  cita-cita  sederhanaku. 

Disetiap  masa sekolah selalu ada  kegiatan  yang menantang  saya untuk  bisa memanage  waktu  dengan baik. Kalau hanya  sekolah  saja rasanya  kurang tantabgan  dalam hidup  ini. 

Ketika  SMP sd. SPG  saya ikut  kegiatan bela diri SH  Terate. Masuknya  seminggu  3 kali. Kegiatan  ini cukup  menguras  tenaga  waktu  dan pikiran. Tapi saya berjanji  harus bisa menyelesaikan  kegiatan  ini. Dan Alhamdulillah  bisa selesai  tahun '83. 

Beratnya dalam  latihan  kalau dituliskan  mungkin  bisa satu  buku  penuh. Berangkat  setelah Magrib,  pulang  pukul 03.00 dini hari,  menjadi  aktivis rutinku seminggu  tiga kali. 

Kegiatan  dimulai  dengan osdower  kurang lebih 2 jam. Kemudian senam,  jurus, dan terakhir sambung. Sampai  capek  sekalai. Tapi saat itu  senang  saja. Berbagai  pukulan , tendangan   pelatih  sering  mendarat  di dadaku. Memang latihan  itu  identik  dengan sengsara. Tapi seberapa  sengsara kalau  dijalani  akhirnya  selesai  juga. "Sepiro gedening  sengsara  yen tinompo  amung dadi coba." 

Badan kami kurus, tapi kuat. Karena  gemblengan  di SH Terate. Rasa ngantuk,  capek sering kualami , sehingga  prestasi  belajarku menurun, sering  mengantuk  di dalam kelas. Kejadian ini  terus kualami  hingga  kelas 1 SPG. 

Setelah kelas  dua kami bangkit semangat belajar  sehingga  bisa menginbangi  teman-temanku yang  rata-rata  tidak  banyak  kegiatan. Lebih-lebih  saat itu  saya minta  ijin pada Bapakku untuk  suatu  saat nanti  saya  bisa melanjutkan  belajar  ke IKIP diizinkan.
"Pak nanti setelah  tamat  SPG saya ingin  kuliah lagi  apakah  diijinkan?" Tanyaku pada Bapak  di sore  hari  sambil  bapakku istirahat.
"Ya..., tapi  ya kamu  perkirakan  sendiri  kemampuan  Bapakmu."  Sebuah jawaban  yang  tak ku bayangkan sebelumnya, sangat  bijaksana  menurut  saya.

"Inggih Pak", sejak itu  saya dalam  hati punya  hasrat  untuk  melanjutkan  kuliah. 
Hasrat  ini tidak  pernah  kukatakan pada teman temanku. Tidak kenapa-kenapa hanya khawatir  saja bila tidak  kesampaian. 

Alhamdulillah  nasib  baik  selalu berpihak  denganku, karena doa-doaku dikabulkan.  Tahun 86 aku di terima  di IKIP  Surabaya,  dan lulus terbaik  tahun 89.

Karena lulus  terbaik  saya bisa diprioritaskan diangkat CPNS  tahun 1992. Karena program  diploma  saat  itu  ada penempatan dari kampus,  semacam  ikatan  dinas. 

Tahun 94 melanjutkan  kuliah S1 dan lulus  tahun 96 dengan  lulus terbaik  juga. Dengan IP 3,4.

Tahun  2006 melanjutkan  S2 di Unipa  Surabaya  dan lulus  tahun 2008. Tapi  tidak lulus terbaik,  karena sudah banyak  kesibukan  yang saya jalani. 

Saat  itu  saya sebagai  wakasek kurikulum  yang disekolah  merupakan  jantungnya. Semua kegiatan  yang ada disekolah  saya yang merencanakan. Tentu  saja setelah konsultasi  dan persetujuan  kepala sekolah. 

Tahun  2011 ikut  lomba guru  berprestasi,  alhamdulillah  lulus  juara 2 tingkat Kabupaten. Mendapatkan hadiah  uang tunai  Rp. 750.000. Alhamdulillah Allah memberikan  keberkahan  dalam  kehidupanku. 

Tahun  2014 saya lulus  calon  kepala sekolah dan tahun 2016 diangkat  sebagai  kepala  sekolah di SMPN 3 Kawedanan. Tiga  tahun  saya di sekolah  ini. Banyak  tantangan  yang dihadapi  di sini. Alhamdulillah  Allah  selalu  memberikan jalan keluar  yang baik.  

Saya tidak  tahu  apakah saya dimasukkan  golongan hamba-Nya  yang bertaqwa  atau tidak. Kalau  hamba  yang bertaqwa  akan selalu  diberikan  jalan keluar  atas masalahnya.

Tapi aku selalu  berdoa  itu, agar  dimasukkan dalam  golongan hamba-Nya  yang bertaqwa.

Keberuntunganku tidak sampai  di situ. Tahun  2016 itu  juga saya dipanggil  untuk  diklat  menjadi  narasumber  nasional  guru  pembelajar di Makasar. Saat itu  menterinya  pak Anis Baswedan  yang  sekarang  Gubernur DKI Jakarta.

Sebuah  pengalaman  pertama  naik pesawat  dengan biaya  negara. Naik  pesawat  garuda Indonesia airwais. Pesawat  yang paling saya  sukai. Tahun  87 direktur Garuda  adalah Suparno.  Namanya  sama dengan nama saya, "Suparno,"  artinya  burung garuda. 

Selama  10 hari saya mendapatkan  diklat, seorang  kepala sekolah  anyaran  sudah mendapatkan  tugas  sebagai  narasumber  nasional.

Ini sebenarnya  sebagai tindak lanjut dari  prestasi  UKG saya di tahun 2015 , yaitu 91.24. Dari seluruh  Indonesia dipilih  10 terbaik,  kemudian di  diklat  menjadi  narasumber  nasional.

Ini  juga merupakan buah  ketekunan  seseorang  di bidangnya. Saya di MGBK sebagai  ketua,  saya menekuni  bidang  ini,  alhamdulillah  berbuah  manis. Saya yakin,  suatu  saat pasti  beda antara  orang  bodoh dengan orang pandai,  orang malas dengan orang rajin,  orang tidak disiplin  dengan orang disiplin. Orang rajin ibadah dengan yang tidak  beribadah.  Dan sebagainya. 

Saya yakin tak  akan pernah  sia-sia  perjuangan  seseorang, semuanya  akan berakumulasi  dengan prestasi,  maka bersabarlah  dalam berjuang,  tidak  usah pamrih. Allah  yang akan meletakkan  kamu pada posisi  sekarang. 

Posisi  sekarang  adalah buah dari  perjuanganmu  puluhan tahun  yang lalu. Atau  posisi sekarang  adalah tempat  Allah mendidik kamu untuk  menjadi  20 tahun yang akan datang. Oleh karena itu  menyenangkan  atau tidak   menyenanagkan jalani  saja dengan sabar,  syukur,  dijalani sambil  bekerja dan ibadah,  tunggu  keajaiban  apa yang akan terjadi.

Kehidupan sebagai  kepala  sekolah  dan narasumber saya jalani  selama  2 tahun,  pernah ditugaskan  di Bandung  dan Surabaya,  juga di Bali.  Bertemu  dengan guru  BK hebat  di berbagai daerah  rasanya  senang  sekali.  Seperti  bertemu  dengan saudara  seprofesi  yang lama  tidak bertemu.

Tahun 2019 saya dimutasi  sebagai  Kepala sekolah  di SMPN 1 Takeran. Sebuah sekolah  diujung  timurnya Magetan.  Banyak  tantangan  juga di sekolah  ini,  semuanya  saya jalani  dengan konsep dan rumus  seperti  di  atas. Tak terasa  sudah 2 tahun  di sekolah  berbasis  teknologi informasi  dan agamis  ini.

Sejak  Maret  2020 saya memaksimalkan  passion saya  dalam menulis.  Selama  pandemi  ini ada 3 buku yang saya hasilkan.  Setiap  hari menulis  artikel  di blog. Kemudian  dikumpulkan  jadilah buku.

Demikian  sidang pembaca yang baik  hati , semoga  cerita  hidupku  ini menjadi inspirasi  bagi kita semua  untuk  menjadi  pribadi  yang bermanfaat  bagi kehidupan.  

Semoga  kita  bisa seperti  garam, walaupun harganya murah,  tanpanya  sambal  masyarakat  akan terasa  hambar.  

Magetan,  28 Januari  2021









4 komentar:

  1. Luar biasa.
    Matur nuwun inspirasinipun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mas Doktor, terima kasih hadirnya

      Hapus
  2. Terima kasih cerita kehidupannya tdk ada istilah sia-2 dlm perjuangan hidup. Semua berjalan dr Takdir yg Allah gariskan.

    Smoga kita dimasukkan orang-2 yg selalu dlm kebaikan dan kebenaran tetap di Jalan yg Allah Ridhoi.

    Waduh sampai ke Makassar ya? Tahu dari dulu akan saya pinarakan ke rumah kakaku yg di Makassar.
    Ya memang belum waktunya berjumpa.

    Bagus banget ceeitanya membuat orang utk semangat. Tidak akan berhasil orang yg tdk bersungguh-2.

    Terima kasih sahabat terus berkarya smoga karya nya selalu beemanfaat
    Tetap semangat sehat dan good luck.
    Semoga Allah selalu memberikan yang terbaik untuk Kita. Serta selalu dlm HidayahNya.

    BalasHapus
  3. terima kasih Jeng Niken , iya ke Makassar 2 kali, senang sekali bisa berkunjung ke saudara kita di berbagai pulau di Indonesia

    BalasHapus