Senin, 31 Agustus 2020

Manusia mati meninggalkan karya

Pada jaman  milineal  seperti ini agama harus diperkuat,  iman harus dipertebal, kalau tidak  seringkali kita terjebak  pada perbuatan  yang tidak terasa  ternyata  itu  adalah  dosa.

Dengan ilmu pengetahuan  dan teknologi memungkinkan seseorang  untuk  bisa meraup keuntungan dalam jumlah besar.  Sepertinya seseorang  hanya  berdiam diri  di rumah dengan utak atik  laptop, "dolanan laptop", ternyata  bisa menghasilkan  keuntungan  miliaran rupiah,  sehingga  mereka bisa  jadi  milyarder muda  dadakan.

Contoh founder  Ruangguru,  namanya
Adamas Belva Syah Devara, M.P.A., M.B.A. , biasa dipanggil Belva, pengusaha muda   dan aktivis sosial Indonesia ini dikenal sebagai Pendiri dan Direktur Utama Ruangguru. 

Tampan, pintar, sukses. Tiga kata itulah yang menggambarkan pemuda Indonesia hebat ini. Pada tahun 2017, ia terpilih sebagai salah satu dari 30 pengusaha muda paling berpengaruh di Asia oleh Forbes , dia lulusan Harvard University. 

gambar ilustrasi: instragram.com/belvadevara

Ruangguru menawarkan bimbingan belajar  online,  setiap  peserta membayar kurang lebih  Rp. 400.000. Per tahun. Kemudian  diikuti  anak  SD,SMP, SMA  se Indonesia,  kita  tidak  bisa membayangkan  rupiah  yang dikumpulkan. Dahsyat....!

Kemarin  saya juga didatangi  seorang anak muda keren ke kantor saya, menawarkan  aplikasi program  pembelajaran daring atau online.  Berapa biayanya? Per anak  dikenakan biaya Rp. 80.000 per semester  atau Rp. 160.000 per  tahun. Jika  siswa  saya 390 siswa  , maka 390 x 160.000 = 62.400.000.

Kalau  semua sekolah  se Magetan  menggunakan  program  itu, dan jika rata  rata tiap  sekolah  jumlah muridnya seperti  SMP 1 Takeran,  maka 62.400.000 x 39 = 2.433.600.000. Wow..... dahsyat. 2,4 M.

Dua  contoh  anak  muda diatas  adalah  ilustrasi  usaha  anak muda milinial  yang melesat  seperti  anak  panah,  meninggalkan busurnya. 

Jadi  dalam  era milinial  sekarang  ini  kalau kita tidak cerdas, maka siap  siap ditinggalkan  teman teman kita. 
Kita jangan iri, kita tidak  bisa menyamai mereka, mereka  memang  "janmo limpat seprapat tamat", artinya manusia  pilihan, yang sulit  ada tanding nya. 

Dia  belajar di Harvard University,  meninggalkan  tanah airnya,  belajar di negeri orang, harus pisah dengan ayah ibunya, berani menghadapi  berbagai  kesulitan dan tantangan hidup. 

Sedangkan  kebanyakan  kita  terlalu  santai,  menikmati  indahnya masa remaja. Coba  kita saksikan di malam hari, di sekitar  tugu  Monas Gorang goreng,  banyak anak muda ngopi, merokok  sambil  main  internet,  mereka kebanyakan berstatus  pelajar. Pertanyaanya,  bagaimana  belajar  mereka?

Kesuksesan itu berbanding  lurus dengan seberapa usaha  , mujahadah yang dilakukan. Maka dari  itu  usaha dan kerja keras disertai  doa adalah  kunci utama yang harus kita miliki. 

Senyampang  masih muda,  belajarlah, berkaryalah sebab  nilai manusia  itu  terletak  pada  seberapa  besar produktifitasnya dalam  berkarya.
Mari berkarya  sesuai bidang masing agar bisa seperti  harimau, dia mati meninggalkan belang. Seperti  gajah,  dia mati meninggalkan gading. Maka kita  akan mati  meninggalkan karya, semoga.

Magetan,  31 Agustus  2020


Sumber bacaan:
https://id.m.wikipedia.org; 31 Agustus 2020;21.05














2 komentar: