Minggu, 25 April 2021

Menjemput rezeki di dalamnya laut

"Bu.., saya mohon pamit,  mau pergi melaut."
"Iya Pah...., hati hati ya pah..., aku di rumah saja menunggu anak-anak. Lagian anak anak perlu asupan gizi segar."

Dialog tersebut  adalah cerita sebuah keluarga burung yang tinggal di gua kecil di tebing laut. 

Anak nya 2 ekor baru berumur  1 bulan. Bulunya masih lembut,  belum kuat  terbang.  Lagian di dunia  hewan sangat kejam. Saling  berebut  makan,  bahkan  ada yang tega membunuh. 

Maka ayah dari burung ini  pergi melaut. Dengan tujuan mendapatkan  ikan segar,  untuk diberikan pada anak kesayangannya. 

Dia terbang  jauh menuju  laut  yang banyak ikannya,  ombaknya  landai tak bertepi, banyak  burung burung  berterbangan  diatas  permukaan air  laut. Matanya tajam bagaikan mata elang. Paruhnya agak besar menyamai kepalanya.  

Kemudian menusup  ke laut agak dalam,  berenang  menyelam  seperti Naggala 402, Kapal selam  kebanggaan  Rakyat Indonesia.
Kemudian mengejar ikan seukuran jari orang dewasa,  dan zeb... kena. 

"Nak doakan Ayah ya, kini Ayah mendapatkan  rezeki dari Tuhan untuk  kamu, pasti kamu menyukainya." Kata burung itu dalam hati.  

Kemudian kakinya  menjejak  air,  hingga  membawa tubuhnya  ke atas permukaan  air laut.  Setelah istirahat  sejenak  kemudian  segera terbang pulang  menemui keluarganya. 

Tidak  lama  setelah itu,  tiba-tiba  ada burung  lain  yang menyerobot  dari belakang,  zeb, tapi bisa menghindar  dan selamat,  walaupun  jatuh  lagi ke air. Tapi ikan  digigitan mulutnya  tidak lepas.

"Dasar bangsa pemalas,  inginnya memalak rezeki  orang lain." Kata burung kecil Itu sambil  ndongkol. Kemudian segera bergegas bangun dari jatuhnya dan terbang lagi. Kali ini kecepatan  terbangnya  ditambah lagi,  semakin membubung tinggi. 

Lagi lagi pemalak  datang dengan gesitnya.  "Ya Allah kalau  ini rezekiku  lindungilah  aku dari pemalak itu.  Anakku menunggu kelaparan  di rumah Ya Allah. Sangat  membutuhkan  ikan kecil ini." Doa burung  ini dalam hati. 

Burung  ini bisa membelokkan tubuhnya  dan wesss, akhirnya  selamat  dan membubung  tinggi  menuju rumahnya.

"Kamu baik-baik  saja kan Pah? Sambut istri burung ini yang sejak lama menunggu  di mulut  gua ini. 

"Iya bu Aku baik-baik  saja." Pertarungannya mendapatkan  rezeki tidak diceritakan  pada istrinya,  takut  istrinya  bersedih  dan tidak boleh melaut  lagi. Padahal  melaut  adalah  satu-satunya  untuk  menjemput  rezeki  dari Tuhannya.

"Mana anak-anak,  ini segera  kasihkan mereka." Inilah perjuangan seorang laki-laki,  dia tidak makan sebelum anak dan istrinya  kenyang.  Membuat  kenyang mereka adalah kepuasan dalam  ibadahnya. 

Seperti  dalam kehidupan manusia,  ada acara selamatkan kemudian mendapatkan  berkat.  Dibawalah pulang  untuk  diberikan  anaknya padahal  dia belum makan  sedikitpun.

"Cepat besar ya nak, kamu besuk  harus menjadi burung yang kuat , siap melaut , di bawah sana Allah sediakan  rezekimu  tanpa  batas. Tapi kau harus menjemputnya  dengan kerja  keras.

Magetan,  25 April  2021









9 komentar:

  1. Pejantan pejuang ,
    Lelaki Pejuang ,
    Pantang pulang sebelum menang ,
    Untuk orang orang yang di sayang.

    Hanya cerita burung ,tapi mengalir menghanyutkan.

    BalasHapus
  2. Jangan malas dijadikan sahabat, tapi buanglah rasa malas krn itu musuh kita.

    Tetap gigih dlm bekerja memang rezeki sdh disiapkan oleh Allah. Tapi tanpa berusaha mana ada tiba-2 meja makan penuh dgn hidangan tanpa kita bersusah payah.

    Bagus sekali artikel blog nya.
    Terus menulis biar banyak karya yg bisa bermanfaat bagi sahabat yang lain nya.

    Terima kasih sahabat. Terus sehat Semangat, jaya selalu. Dan salam utk kelg.disini.

    BalasHapus