Kamis, 01 April 2021

Mbah Yah, tentram mendengar adzan

 Namanya mbah Yah, lengkapnya mbah Sa'diyah. Dia istri petani yang ulet. Pekerjaanya  membuat  kerupuk  beras.  

Anaknya  3 orang , yang pertama  nantinya  yang akan menggantikannya menjual kerupuk.  
Sedang yang kedua dan ketiga menjadi tentara. Suatu prestasi  yang luar biasa di desa. 

Kebanggaan  orang desa bila anaknya  bisa menjadi  tentara,  atau  setidaknya  menjadi pegawai negeri. Kalau menjadi  tentara  cari jodoh  gampang. Kalau wiraswasta  agak sulit cari jodoh. Tetapi semua itu  sebenarnya  ada di tangan Tuhan. 

"Siji  pati, loro jodo, telu wahyu , padat  pangkat,  lima donya,  iku muhung  ono ngersane Gusti", ini yang dikatakan  Anom Suroto,  dalang  kondangan dari Surakarta.

Kembali pada mbah Yah, Dia hatinya baik tidak pernah bertengkar  dengan tetangga  dan sanak  saudara. Karena Dia yakin bertengkar  itu  cara yang buruk  dalam menyelesaikan  masalah.  

Dia memiliki  hati andap asor,  bukan karena diajarkan  orang tua,  tetapi memang sudah pembawaannya. Mengalah dalam setiap  urusan,  tidak menangnya  sendiri. Itu bagian  dari akhlaq  karimahnya.

Dia dekat dengan pak Martani, seorang guru tidak tetap yang lama mengabdi  dan belum juga diangkat, yang saya ceritakan beberapa bulan yang lalu. Karena  ketiga anaknya masih kecil  dulu yang mengajarkan  ngaji  adalah beliau., pak Martani.

Orangnya sabar, tlaten  dan dekat  dengan anak anak.  Diwaktu subuh  dia sering mengumandangkan adzan,  suaranya merdu, enak didengarkan dan diresapi  dihati,  terutama  orang orang  seperti mbah Sa'diyah. 

"Kalo mbok,  Kang Mar wis adzan", kata Narti pada simboknya kalau membangunkan mbah Yah diwaktu  subuh. 
"Iyo Nduk,  turuku angler  bengi mau, iki wis subuh to". Jawabnya  pada Narti.

Mbah Yah  pernah terkena   stroke,  sebuah penyakit  yang menakutkan. Entah beban berat  apa yang digendongnya  sehingga Dia harus  kalah. 

Tapi dengan kesabarannya  menanggung  derita  ini, dan kebaikan  orang-orang  di sekitarnya  akhirnya  sembuh. Bisa menggoreng  kerupuk  lagi.

Kalau mendengarkan  suara orang mengaji hatinya  tentram,  lebih lebih yang mengaji pak Martani, suaranya enak diresapi dihati, menentramkan, katanya. Tetapi kalau mendengarkan suara  keras lainya  hatinya  nratab. 

Sebenarnya  Dia ingin belajar  mengaji,  tapi sudah tua, mau datang ke Masjid  sudah tidak kuat  lagi. Dia belajar  pada cucunya, sebisanya,  semampunya. Semoga  niat baiknya  dicatat  sebagai  amal sholih. 

Magetan,  2 April  2021

Pesan moral
Kadang-kadang  kita perlu  belajar  dari orang kecil, orang-orang  sederhana yang banyak masalah  tapi  tidak pernah  mengeluh,  karena  sudah terbiasa  menggendong  beratnya beban  masalah.


7 komentar:

  1. Aamiin. Semoga Allah menyayangi Mbah Yah

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin ya robbal alamin, terima kasih pak Supadilah

      Hapus
  2. "Siji pati, loro jodo, telu wahyu , padat pangkat, lima donya, iku muhung ono ngersane Gusti" ini artinya apa Pak?

    Sama ini "turuku angler bengi mau"

    😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. 1. Ajal
      2. Jodoh
      3. Keberuntungan
      4. Derajat dan pangkat
      5. Harta

      Itu semua sudah diputuskan Allah

      Hapus
    2. Terima kasih Pak. Tulisannya sangat menginspirasi 👍🏻

      Hapus