Senin, 26 April 2021

Kang Slamet, membelah keneningan malam

Umurnya  sekitar 73 tahun, tapi semangat  kerjanya  mengalahkan anak muda. Tidak itu saja semangat ibadahnya juga tak mau kalah. Itulah Kang Slamet. Rumahnya di sebelah kiri rumahku. Bahkan menurut  cerita Ibuku , kami masih saudara. 

Sebelum divonis  diabetes,  dia dikenal sebagai manusia  mesin.  Maksudnya  tak kenal lelah. 

Kalau pagi sebelum  berangkat kerja,  dia membuat adonan tanah liat untuk dicetak menjadi batu merah. Biasana  yang mencetak  adalah istrinya, sehari bisa dapat 500 batu merah. Setelah  itu dia berangkat kerja pada siapa yang "nanggap". Profesinya adalah tukang bangunan. 

Kinerjanya bagus dia suka kerja keras kerja ikhlas,  tanpa diawasipun  dia bekerja  dengan baik.  Betul-betul  berhati ikhlas  Dia.
Tidak itu  saja dia suka menolong  tanpa pamrih  yang Dia bisa. Menolong tanpa pandang bulu. Itulah tabiat  baiknya.

Jam 12 istirahat,  Dia pulang trus pergi ke kebun mencari  pakan ternaknya.  Jam 13.00 Dia pulang sudah dapat  sekrenjang rumput.  Kemudiaan pergi lagi ke tempat kerja.  Begitu keseharaian Kang Slamet  sahabatku  yang baik hati.

Di bulan ramadhan ini , setelah tarwih  selalu membaca Al Qur'an seorang diri,  tak ada yang menemani. Walaupun  bacaannya  tidak lancar amat,  tapi cukup  menggetarkan  hati orang- orang beriman  yang mendengarkan. Saya senang mendengarkan  bacaannya. Serasa tidak bosan. Walaupun  lama Dia membacanya. Biasanya  samapai jam 23.00
Betul-betul  pemburu  pahala  dan keberkahan di bulan Romadhon.  

Saya terus terang  iri  dibuatnya. Di usia setua itu  masih kuat  membaca  Al Qur'an  ber jam-jam. 

Anak  anak muda tak kudengar  suaranya mengaji. Malah Biasanya  malah banyak  didapati ngopi  di trotoar  kota sambil mengisab sebatang rokok.  Kemudian kedua tanganya  memainkan  dua jemari jempolnya, sambil sesekali membenarkan letak rokok yang dicepit kedua bibirnya. Kalau menulis artikel  lumayan,  tapi tidak, dia bermain  game.  Nggak tahu game apa yang membuatnya  ketagihan  itu. 

Kembali pada kang Slamet yang masih sayup sayup terdengar  suaranya di speaker tua.
Biasanya  dia  bertugas Adzan subuh, magrib dan isak.

Selepas  makan sahur, dia berjalan  terseok  ke Masjid kemudian membaca al Qur'an.  Tapi tidak disuaraka  di speaker. "Mengganggu  orang tidur." Katanya.

Demikianlah cerita  Kang Slamet,  pria tua berbadan kurus yang sedang memersiapkan  bekalnya untuk  hari kemudian.  Pria seperti  ini yang cerdas  menurut  Kanjeng Nabi. Pria yang selalu  ingat mati dan memersiapkan  bekalnya  untuk  kehidupan akhirat. 

Kita ini aslinya  bukan orang dunia,  tapi orang kampung akhirat.  Di dunia hanya sebentar  saja,  "mampir  ngombe", setelah  itu berjalan  menuju  jalan panjang kehidupan setelah mati.  

Semangat  terus Kang , semoga  Allah  senantiasa  merahmati  kamu sekeluarga.  Diberikan  rezeki  yang banyak  dan barokah  untuk  bekal ibadah.

Magetan,  26 April  2021










12 komentar:

  1. Aamiin....
    Inspirasi ibadahku bertambah,dan semoga istiqamah buat kita semua dlm hal ibadah

    BalasHapus
  2. Sangat menggetarkan. Semoga mampu meneladani Kang Slamet.

    BalasHapus
  3. Terima kasih Mas Doktor, sehat selalu nggih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Luar biasa, semoga banyak orang orang di sekitar dia bisa mengikuti jejal nya ya pak

      Hapus
  4. Kemanakah kita berjalan tak kain akan nenuju sang Kholiq.
    Dunia tempat kita mengais amalan yg bernilai ibadah utk bekal di negeri Akhirat.

    Semangat kang Slamet jika orang fasih dlm membaca Alquran maka Malaikat mencatat kemuliaan baginya. Sedangkan orang yg terbata-2 dan susah dlm membaca Alqur'an akan mendapatkan 2 pahala.

    Terima kasih sahabat cerita blog Religinya terus semangat dan berkarya Allah senantiasa melimpahkan Rahmat dan HidayahNya. Salam utk kelg... Good luck

    BalasHapus