Sabtu, 24 April 2021

Membaca dan menulis buku

Sumber ilustrasi :Inspirasipagi.id
Menulis itu betul betul mengikat ilmu agar  tidak hilang,  tidak lenyap begitu  saja. Bayangkan pengajian  pagi tadi temanya  bagus. Saya ingin langsung  menuliskannya  tapi karena kesibukan  yang seperti  biasanya,  akhirnya  tak sempat  menuliskannya. Sehingga lenyap deh.
Berkaitan dengan ini   sahabat Ali Bin Abi Tholieb mengatakan,  "Ikatlah ilmu dengan menuliskannya."

Bahasa tulis lebih abadi dari pada bahasa lisan. Kecuali  direkam vidio kemudian di share. Itu cara mengabadikannya.

Oleh karena  itu  saya belajar  menulis agar bisa memberikan  kontribusi  kepada  budaya  literasi.  Atau setidaknya menjadi pengikat ilmu  bagi saya sendiri.

Agar kemampuan menulis kita tajam,  maka seringlah  diptaktekkan  menulis,  tidak di angan angan,  tidak dalam teori.  Tapi dalam praktek nyata  menggabungkan huruf demi huruf menjadi kata. Merangkai kata demi  kata sehingga  menjadi kalimat. Kalimat demi kalimat sehingga menjadi paragraf,  menjadi cerita  dan menjadi buku.

Alangkah  besarnya  jasa buku bagi kemajuan umat  manusia. Buku adalah benda mati yang memiliki nafas bicara. Dia akan terus hidup  bersama pembacanya. 

Buku merupakan satu di antara sumber pengetahuan yang bisa menambah wawasan. Dengan membaca buku, seseorang bisa mengetahui apa saja yang ada di penjuru dunia. Hal tersebut membuat buku sering disebut sebagai jendela dunia. Buku akan membuatmu lebih berwawasan dan memiliki pikiran yang terbuka, luas dan mendalam.

Membaca buku akan memberikan banyak manfaat bagi siapa pun, baik orang dewasa atau anak kecil sekalipun. Ada berbagai manfaat yang bisa dirasakan dengan gemar membaca buku, seperti sebagai sarana hiburan, meningkatkan kemampuan seseorang, hingga menambah pengetahuan seseorang. Membaca buku menjadi salah satu kebiasaan yang positif dan bisa dilakukan kapan saja, dimana saja.
Membaca buku adalah kebiasaan orang-orang cerdas. 

Demikian juga menulis  akan meningkatkan  kecerdasan  seseorang.  Membaca  dan menulis seperti  dua sisi mata uang logam yang tak terpisahkan. Selalu bersambung berkaitan. 

Kalau satu sisi nilainya  20.000 maka sisi yang lain juga 20.000. Kalau sisi yang satu  angkanya  tertulis  50.000, maka sisi yang lain juga tertulis  50.000 begitu  seterusnya.  

Artinya  apa yang kita tuliskan  itu linier  dengan apa yang kita baca. Semakin banyak  membaca  semakin banyak  yang kita tuliskan.  

Sehingga  saya kagum  pada orang-orang yang  telah berhasil  menuliskan banyak buku , maka berarti  dia telah banyak  membaca buku.  

Buku adalah warisan berharga pada generasi muda. Karena  dengan buku ilmu pengetahuan  diajarkan,  dengan buku agama memiliki  pedoman,  dengan buku  hukum ditegakkan , budaya diwariskan.  

Oleh karena itu  PR kita bersama adalah  bagaimana generasi kita memiliki  kecintaan terhadap buku. Mempelajari  dan membacanya. Sebab orang yang tidak membaca , maka dia tidak bisa mengembangkan dirinya. Menurut  Muhammad  Makmun Rosyid,"Kebodohan  dan ketertinggalan  sebuah bangsa dikarenakan oleh lemahnya kemampuan membaca,  dan kurangnya budaya membaca.

Bangsa  bangsa maju , rakyatnya   memiliki kebiasaan budaya membaca. Kita sakaikan turis-turis yang datang ke Indonesia,  selalu membawa  dan membaca buku. 

Sehingga  menjadi penting. Untuk  memajukan  bangsa adalah dengan meningkatkan kemampuan membaca rakyatnya. 

Selamat  hari buku sedunia. 

Magetan,  24 April  2021




 


4 komentar:

  1. Mari Kampanyekan gerakan membaca buku. Baik buku cetak maupun buku digital.

    BalasHapus
  2. Betul mari iqrok bersama-sama dg mwmbaca meningkatkan kualitas pribadi dan bangsa lanjut menulis. Yuk gerakkan budaya Literasi

    BalasHapus