Senin, 19 April 2021

Berbicara dalam pergaulan

Pagi tadi jalan yang kulewati  lapang sekali,  nyaris lancar, tidak seperti  orang kota  yang sering  mengeluh gara-gara perjalanan macet.

Kalau dipikir  yang menyebabkan  macet  ini ya saudara  kita sendiri. Karena saking banyaknya  saudara,  hingga tidak mengenali  satu sama lain.  Kita ini kan sama-sama  anak cucu Mbah Adam dan Mbah Hawa. Begitu  ceritanya.  Dalam perkembangannya  hoby dan passionnya macam-macam yang akhirnya  mempengaruhi pola pikir dan pola hidup yang berbeda. Akhirnya  mempengaruhi perangai, watak dan  tabiatnya dalam pergaulan. 

Ada kawan saya itu kalau  berbicara pinter sekali.  Sampai -sampai  dia mendirikan  webinar  publik speaking. Menjadi host dalam  suatu  acara. 

Dalam pergaulan  mereka mendominasi  pembicaraan. Tampak sekali  menguasai halakoh ( kelompok) dalam pembicaraan. Tampak sekali kecerdasanya  dan bangga  sekali dengan itu.  

Lain halnya  dengan saya. Merunut  histori  dari kakek saya dari ayah saya, beliau  termasuk  orang yang sedikit  bicara. "Ra duwe omong"  dalam bahasa Jawanya.
Sedangkan kalau Merunut  dari Ibu  saya, kakek saya dan anak anaknya  termasuk  pandai berbicara.  Dalam pergaulan termasuk orang yang  menguasai  pembicaraan  dalam halakohnya. Entah materinya berkualitas  atau tidak,  yang lain  itu memeperhatikan  apa yang dibicarakan. 

Saya juga termasuk  type orang yang sedikit  bicara tadi. Saya takut  kalau salah, saya takut  merendahkan orang, saya lebih suka menyimak pembicaraan  dalam kelompok,  sesekali  berpendapat  kalau tahu benar  permasalahan  dan solusinya.

Tampaknya  saya termasuk penyimak yang baik. Kadang-kadang  sudah 30-an tahun  itu masih ingat  apa yang dikatakan orang  pada saya. 

Pagi tadi saya setengah terkejut  membaca kiriman ayat Al Qur'an dan hadist dari teman  saya. Sebenarnya  saya pernah mendengar sih, tapi belum mengikatnya menjadi tulisan.

Juga tentang  berbicara menjaga  lisan. Seperti ini  ,"Tiada suatu ucapan pun yang di ucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir".
(Qs. Qaf ayat 18).

Memperhatikan  ini tampaknya harus hati-hati dengan apa yang kita katakan. Bahkan saya takut,  betapa banyak  kesalahan yang saya katakan yang didengarkan malaikat.  Padahal seharusnya  karena selalu ada malaikat  yang mengawasi maka yang kita katakan  itu perkara  yang baik saja. Kita harus belajar  lbagaimana supaya lisan  kita ini lurus. 

Rasulullah Shallallahu A'alaihi Wasallam bersabda, "Iman seorang hamba tidak akan lurus hingga lurus hatinya. Dan hati tidak akan lurus hingga lurus lisannya. Dan seseorang tidak akan masuk surga jika tetangganya terganggu oleh keburukannya".
(HR. Ahmad).. 

Jadi untuk  belajar agar iman kita ini lurus,  dimulai dari lisan yang lurus, kemudian nanti hatinya lurus,  setelah hatinya lurus maka nanti iman kita akan lurus. Ini pernah juga disampaikan  oleh KH.Uzairon dalam ceramahnya. 

Kalau lisan kita lurus kita akan bahagia, kalau tidak maka kesengsaraan  akan kita tanggung. 

Kebahagiaan dan keselamatan bagi kita bila  bisa menjaga lisan, kesengsaraan dan kebinasaan bila kita  melepaskannya dan tidak menjaganya, dengan lisannya maka akan terbaca kadar imannya. 

Muadz Ra berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu A'alaihi Wasallam. "Ya Rasulullah, apakah kita akan di azab oleh perkataan yang kita ucapkan?".
Rasulullah Shallallahu A'alaihi Wasallam menjawab, "........Tidaklah manusia itu di sungkurkan ke dalam neraka di atas muka dan hidung mereka melainkan karena ucapan lisan mereka".
(HR. At Thirmidzi).
Ini yang paling menakutkan,  takut  kalau disungkurkan  ke neraka di atas muka dan  hidung kita. Karena tidak menjaga lisan. Muka atau wajah adalah kehormatan  kita, kalau disungkurkan,  berati tudak memiliki  kehormatan  sama sekali.

Itu  kadang  yang membuat saya agak tampak  bodoh dalam percakapan  pergaulan, lebih-lebih  dengan orang alim seperti  Kyai, menundukkan  kepala saja dan menyimak  apa yang beliau  katakan lebih bijaksana. Dan memang etikanya  seperti  itu. 
Agak serius ya.... santai sajalah ini hanya cerita  mengapa saya kadang-kadang  atau bahkan sering  dalam pergaulan  hanya menyimak,  termasuk di grup WA. 

Tapi kalau dalam bentuk  tulisan, saya berani,  karena sebenarnya hanya  melatih  jari-jari saya menuliskan kata menuruti  perintah hatinya. 


Magetan,  20 April  2021 








2 komentar:

  1. Semoga kita termasuk orang yang mampu berbicara dan juga menulis.

    BalasHapus
  2. terima kasih Omjay, aamiin ya robbal alamin

    BalasHapus