Sabtu, 26 September 2020

Ronda malam

sumber  ilustrasi: dokumen pribadi 

Ronda  itu  adalah  jaga keamanan  dan ketertiban di waktu malam hari.  Kalau  dulu  tempat kantor  pusatnya  namanya Gardu /Gerdu atau cakruk. Atau orang Surabaya  menyebutnya cangkruk , sehingga orang yang ngobrol asik di cangkruk disebut  cangkrukan . 

Ditiup angin malam yang segar tak ada volusi  udara, senter tidak berfungsi karena rembulan  malam terang menyinari  tiada henti, bintang bintang  bersinar  berkedip berpencar pada bidang edarnya  masing  masing, menemani  ronda malam.

Alatnya ronda adalah penthongan  sebuah alat musik terbuat dari bambu yang dilubangi dibagian sisinya. kemudian   senter alat penerangan menggunakan daya baterai.

Sekarang  Gerdu  makin  hilang dan punah keberadaanya,  sehingga  sekarang kalau ronda  cukup  duduk lesehan  di halaman salah satu  warga. 

Ronda  sekarang  dimanjalan  dengan berbagai  suguhan,  contohnya  malam ini,  ada berbagai buah buahan segar. Ada anggur,  apel, jeruk, pir, ada makanan camilan,  tahu  susu dengan kopi  hangat  tentunya. Mantab deh pokoknya. 

Tapi semua  itu  tidak  diharapkan,  karena ronda kali ini  dilakukan  karena tetangga RT ku di lockdown  karena ada salah satu  warganya yang terpapar  virus corona. 

Akses masuk  ke RT dimaksud  dipagar  bambu,  hingga  tak ada yang keluar  dan masuk. 

Hikmah  ronda.
Kerukunan,  kebersamaan  warga meningkat,  kalau biasanya  kami bertemu  satu bulan sekali dalam arisan  RT, sekarang hampir  tiap hari bertemu dalam  Ronda malam. Sebenarnya  menurut jadwal yang bertugas hanya 5 orang,  tetapi  dalam praktiknya  malam ini bisa 20 orang. 

Hitung  hitung  cari hiburan juga, daripada  tidur  sore hari. Topik  cangkrukan  bisa luas sekali,  ada yang bicara  masalah  pertanian,  perdagangan,  peternakan , perekonomian sampai pada jaringan internet dan lain lain. Yang jelas tidak masalah  politik.  Tidak nutut  pengetahuannya  orang desa  yang rata rata bekerja  di pertanian  dan perdagangan. 

Dari  cangkrukan  ini  kadang kadang  menimbulkan ketawa lepas,  menunjukkan mereka lepas dari berbagai permasalahan yang ada. Hatinya tentram,  pikirannya  jernih. Mereka  sederhana  sekali  menjalani  hidup ini,  "prasojo narimo", sederhana menerima  dan menjalani takdir kehidupan ini  apa  adanya.

Tidak ada saling menyalip,  saling menyikut,  mendendam tidak ada,  "los gak rewel", tidak neko neko itu tadi. Itulah kebersahajaan  sahabat  sahabatku  di sebuah desa kecil yang penuh keberkahan dalam  naungan  Kabupaten  Magetan. Pojoksari.


Pojoksari,  26 September  2020.












5 komentar:

  1. Pasti ada hikmah di balik musibah, kata orang bijak itu. Bisa sebagai ajang silaturrahim ma warga lingkungan.
    Jarang ada waktu untuk ngobrol lepas, di kala masa sekarang. Kan mua orang punya kesibukan yg macem macem
    ,ibarat nyambud gawe niba tangi, semua untuk nyukupi butuhe kluargane dewe dewe.
    Pacitane malam rondane sing banget, pengini rasa ati, sing banyu mili, yo kuwi Pak Lik, No. Jaga jarak protokol ojo dilirwakke, supaya sehat kabeh. Amin.

    BalasHapus
  2. Mantab Pak Suparno, sangat menginspirasi

    BalasHapus
  3. Ok sahabat terus mbuat ide -2 baru ..semua yg ditulis menginspirasikan selamat ya...tetep sehat - semangat dan good luck...selalu..

    BalasHapus
  4. Sangat inspiratif bagi penulis pemula, smg bisa ketularan menulis..suwun P Parno

    BalasHapus