Rabu, 28 Oktober 2020

Mas Brow, tetangga yang baik hati

Pagi hari ini  sejak pukul 05.30 Kang  Paino bersama istrinya, yu Painten  sudah berangkat  ke kebun, biasanya dikerjakan oleh  orang lain, tapi karena musim  begini banyak masyarakat  desa yang menggarap kebunnya  sendiri  sendiri, akhirnya  tidak mendapatkan  orang  untuk  menggarap  kebunnya.

Kerja dipagi hari itu  memang  nikmat,  tidak panas, lebih baik segera  berangkat  kerja,  segera  selesai  segera  pulang, pikir  kang Paino.

Dulu  Bapaknya  kalau berangkat  membajak  di kebun,  habis subuh sudah berangkat, tanpa makan pagi, atau minum kopi,  kemudian  jam 10 sudah  istirahat  pulang. 

"Ten..., mas Brow  itu  hatinya baik  lho", kata kang Paino  memulai  pembicaraan  dengan Painten. 
"Kok tahu?" Jawab Painten  sambil  membersihkan  kebunnya  yang ditumbuhi bayam ri.
"Tadi sepulang dari  Masjid  saya bertemu  dengan  istrinya,  saya menyapa, lha mas  Brow  kok  tidak  jualan  Ni?" Sapa Kang Paino pada Samini,  istrinya  mas Bro, si penjualan  sayuran,  tetangganya  itu. 
"Tidak Kang, masih  menyelesaikan  membuat  kandang ayam,  wong tetangganya musim nandur  ulur , nanti kalau ayamnya nyakari tanaman  tetangga", Jawab Samini sambil  menggendong  anaknya.

Ini yang dibilang  Paino , bahwa  mas Brow hatinya  baik, dia tidak mau merugikan tetangganya  dengan ulah  ayamnya. Sementara  tetangga  yang lain  membiarkan  ayamnya  berkelana  kemana-mana,  ke kebun  tetangga,  sehingga  cakar cakar  merusak tanaman  tetangga. Memang sudah  unum  di desa itu  kalau  memelihara  ayam  dibiarkan  liar  kemana-mana,  mencari  makanan  sendiri  ke kebun  tetangga , yang penting nanti  sore  pulang  ke kandangnya. 

Kadang  kalau si pemilik  kebun jengkel  , akhirnya  tanamanya  diobati,  terus ayamnya  mati semua,  maka  gemparlah, terjadi percekcokan dengan tetangga,  trus seteru. Tidak saling menyapa,  padahal  kalau ke masjid  juga sholat berjamaah bersama. Suatu realitas yang lucu. Kalau sudah begini paribasan dadi godong moh nyuwek, dadi banyu moh nyiduk, dadi sego moh muluk .
Sulit.....!, angel.... angel... angel temen tuturamu, angel temen tuturamu, seperti  kata cak Basman.

"Sudah siang kang, jam 07.30, mungkin  anakmu  sudah  selesai  memasak, waktunya  sarapan  pagi", Painten mengajak suaminya istirahat sejenak  untuk  makan pagi.

Pasangan suami  istri  ini kemana-mana  selalu berdua bersama,  mungkin  ketika  jadi manten dulu  terlalu  mandi  doanya mbah Kyai, sehingga  seperti  Mimi  dan Mintuno.

Magetan,  29 Oktober  2020.




dari Guru jadi pengusaha

Kita sebagai guru mempunyai peluang besar untuk menjadi pengusaha karena kita mempunyai pangsa pasar yang banyak. Mulai dari murid, orang tua murid, teman seprofesi dan lain nya.

Betti reslina  sebenarnya juga  pedagang pedagang amat. Cuma kalau ada kesempatan kepalanya sering muter , kira kira kalau jualan, apa ya yg akan dibeli orang atau diperlukan orang. Dan kalau berjualan juga ga selalu laku tapi  senang aja..Kalau dalam ilmu jualan itu ga boleh, ini baru saya ketahui setelah saya belajar lewat pelatihan UMKM..

Oh ya ibu ibu ,  ngobrol tentang pengalaman dari guru menjadi punya usaha ya. Walau ga berarti  hebat di wirausaha. Justru kalau secara ilmu baru didapatkan tapi kalau secara praktis sudah dijalankan.

Jadi Betti memulai jualan itu sejak  membuat kursus. itu jualan juga kan ? Jualan materi. Saya awalnya membuat kursus Aritmatika tahun 1996..Kemudian saya menulis buku aritmatika dan menjualnya sendiri dengan mengadakan pelatihan pelatihan.

Itu dimulai pada tahun 1998. Dan  memiliki 24 cabang untuk daerah bekasi saja, belum termasuk luar daerah. Dan pada tahun 2003 saya mulai mendirikan sekolah TK dan TPQ. Pada tahun 2004 mulai dengan SD. Itu juga usaha , walau itu bukan profit yang kita tujukan. Profit dengan serta merta ikut serta .

Alhamdulillah sampai saat ini sekolah masih eksis. Doain ya lancar terus.
Karena usia jualah, maka saya mulai mengurangi kegiatan di sekolah dan mulai buka kedai di samping rumah.
Dan karena musibah Covid ini usaha yg baru dirintis juga mengalami kemacetan yang sangat berdampak.

Kalau buka usaha sendiri itu kita bisa sesuai dengan ide dan keinginan kita walau kita harus lebih kerja keras karena kita sendiri. Kita buat situasi kerja yang enak aja dengan rekan kerja kita. Kalau saya di sekolah itu udah kayak saudara sendiri.

Perselisihan atau beda pendapat itu pasti ada, tapi ya harus segera diselesaikan.

Pelepasan yg tertunda dan dilakukan dengan sederhana. Walau sudah pada jauh hanya 3 anak yg tidak datang. 1 karena sudah di jawa tengah, 1 karena tidak dapat ijin dari pesantren dan 1 karena ada yg meninggal saudaranya.

Sekolah ini saya mulai tahun 2003 dimulai karena diajak kerjasama oleh salah satu cabang aritmatika saya. Tapi kerjasama nya hanya berjalan 3 bulan karena menurut teman malah bikin rugi, tidak ada untungnya. Setiap usaha baru pasti banyak cobaannya. Saya tetap melanjutkan perjalanan mendirikan sekolah tersebut.

Alhamdulillah dengan mendirikan sekolah tersebut Betti banyak berkenalan dengan orang dan banyak kegiatan yg membuatnya bisa berprestasi dan wawasannya menjadi bertambah luas.

Sebenarnya kalau mengajar dan menjadi pengusaha itu kalau usahanya sudah jalan sih sebenarnya bisa aja mengaturnya. Kalau salah satunya masih baru, ya lumayan sibuk juga. Apalagi kalau di situ banyak kegiatannya.
Ya harus bisa membagi bagi waktunya. Kalau sudah mengalokasikan kalau jam mengajar , kegiatan yg lain ditunda dulu.

Menurut  Betti jadi Guru harus profesional. Tapi jadi guru juga harus kaya. Kalau guru kaya, maka ngajarnya lebih totalitas. Betti bukan guru PNS, jadi gajinya juga alhamdulillah pak tapi juga pengen lebih dari itu. Kan awalnya  jadi pengusaha juga gara gara menulis dan dirasa menulis itu bisa menghasilkan uang. Jadi  awalnya menjadi guru yg keliling keliling ngasi pelatihan buku. Betti  milih dua duanya. Jadi guru dan pengusaha. Saya berusaha arahnya tentang kependidikan juga.

Murid  Betti ada yang jadi menteri  pendidikan,  yaitu  Mas Mendikbud, Nadiem Makarim. Ketiaka mengajar di SD Al Izar Pondok Labu, Luar .

Menurut Betti, yang membuat minder sebenarnya dikelompok ini adalah kurang aktif menulis lagi. "Saya melihat teman teman bisa produktif menulis, saya masih akan akan saja. Tapi saya sangat antusias dalam kegiatan literasi. Suatu saat saya pasti bisa santai dan konsen untuk menulis." Terangnya.

Betti mempunyai 2 TBM ( Taman Bacaan Masyarakat ) . TBM insan Kamil dan TBM kartini Kreatif. Dan  juga ikutan di gareulis, kebetulan pengurus juga.

[28/10 20:16] AAM NURHASANAH: P4
Bismillahirrahmanirrahim. Izin bertanya bu Betti. Saya Sitti Hasnidar dari SMAN 8 Banda Aceh senang melihat ibu yg sangat kreatif apakah kegiatan yg ibu tekuni selama ini sdh pernah ibu tulis dan dijadikan buku bu? Mungkin bisa menginspirasi banyak orang yg membacanya. Trm ksh








5 Pakar Penulis Top berbagi ilmu dalam SEMNAS PGRI

Hari ini, Rabu 28 Oktober  2020, menjadi hari yang luar biasa , karena bertepatan dengan sumpah pemuda, diadakan Seminar  Nasional dengan menghadirkan 5 pakar menulis, yaitu Dedi Dwitagama, Sri Sugiastuti,  Agus Sampurno, Namin AB Sholihin,dan Om Jay.

Acara ini diselenggarakan  oleh IGTKI PGRI, KSGN, dan Penerbit  Andi dengan sponsor  EPSON dan para donatur.

Pemateri  pertama  Dedi Dwitagama menyampaikan  agar PJJ tidak membosankan,  1. Memberikan  bonus nilai 10 poin untuk siswa pertama kali yang merespon chatnya. 2, pada  jam pelajaran berlangsung,  akan menilpun diantara siswa. Menilpun manfaatnya  sama denfan berkunjung.  3. Memberikan video menarik dan pendek. 4.Mengajar  dengan ikhlas  

Menurut Dede,  guru yang baik punya instink mengenai anak muridnya,  kalau ada keganjilan pekerjaan siswa, kita telepon,  bisa juga orang tuanya  ditelpon. 
Yang kedua  tidak usah terlalu dipikirkan apakah pekerjaan  itu dikerjakan sendiri  atau orang tua atau orang lain. Kerjakan saja, nikmati  saja,  hasilnya  bagus gak usah neting  , negatif thingking. 

Cara  memotivasi siswa agar memiliki kesadaran untuk mengerjakan tugas  adalah, anak  anak itu  panas, ketika  melihat nilai temanya sudah bagus.  Untuk  itu  sering mengumumkan  nilai mereka.

Tayangan hasil tugas di grup kelas , dikasih foto,  akhirnya  anak anak  berbenah diri  untuk  aktif.  Anak perlu  diajak komunikasi,  ditelpon , diperhatikan. 

Pemateri  ke dua Sri Sugiastuti  yang dikenal  dengan sebutan  bu Kanjeng,  menyampaikan urutan isi  sebuah buku,  yang terdiri  dari,  halaman judul, halaman penerbit,  halaman persembahan,  Kata pengantar,  prakata penulis, Daftar isi,  kemudian diikuti  bab 1 dan seterusnya. Caver belakang  diisi ringkasan buku  yang memiliki  daya jual.

Menurut  Sri, Kata pengantar yang baik bukan penulis  dalam buku tersebut, tetapi orang yang memiliki kepakaran  dalam menulis. Dalam membuat kata pengantar harus dibedakan  dengan kalau kita  membuat  kata pengantar  dalam skripsi  atau thesis.

Dalam hal menulis novel Sri juga  menjelaskan cara mengembangkan novel menjadi 100 lembar lebih, kita harus kembangkan, suasana hati, keadaan disekitarnya, atau angan  ├ángannya. 
Membuat plot plotnya,  membuat  main maping,  foto berkisah dll.

Agus Sampurno,  pemateri  ke 3 menyampaikan  ciri ciri orang kreatif. Yaitu, mau mencoba,  mau belajar,  mau bertanya,  percaya  diri,  penuh energi,  berpikir  terbuka. 

Agus juga menyampaikan  cara belajar yang baik adalah  dengan mengajarkan  pada orang lain lain, kita akan terus  belajar  banyak,  sebagai guru swasta sudah  terkondisilan untuk menjadi pekerja keras,  dipaksa  kreatif  oleh keadaan.

Tidak kalah seru  pemateri berikutnya,  Namin AB Ibnu Sholihin, Guru di Bandung dan juga seorang motivator  ini menyampaikan  etika guru di masa  PJJ, dan etika mengajar. Ketika kita berada didepan vidio pastikan  kita dalam keadaan rapi,  sudah mandi,  sudah sarapan, sudah wangi dan di tempat  yang baik. 

Anak anak  sekarang sampai  mahasiswa semester  2, adalah anak  anak  generasi Z, ciri ciri nya, komunikasinya  dengan menggunakan  hp. Mereka  cepat beradaptasi  dengan teknologi  sehingga  pembelajaran  di era 4.0  harus tampil lebih menarik daripada  didepan  vidio atau digital  teknologi.

Guru harus  memiliki  kompetensi  kreatif,  mengajar  sambil tersenyum,  memiliki  kemampuan  ice breaking , guru wajib menguasai  teknologi , guru wajib menguasai  ilmu tentang parenting.

Bagi guru  di kota yang kondisinya  normal,  siswa  disapa,  satu persatu,  dilihat  wajahnya. Inilah  perbedaannya  dengan Google,  sehebat hebat nya Google,  tidak akan mengalahkan  kehebatan guru. 

Guru bisa menyentuh hati anak anak,  bisa menghapus  air mata,  bisa memeluk anak yang sedang sedih,  untuk membantu  mengatasi masalahnya.

SOP guru dimasa  pembelajaran  jarak jauh, guru berpakaian rapi,  sudah sholat,  sudah mandi, sudah sarapan, sudah  wangi. Mencari tempat yang baik, guru harus memiliki  kemampuan ice breaking,  misalnya,  kalau saya bilang  cek, siswa menjawab dengan sekali  tepuk tangan.  Kalau saya bilang bum, siswa  merespon tepuk  paha. 

Walaupun menggunakan  moda daring harus tetap  kreatif  dan energi semangat.  Kalau murid muridnya  tidak semangat,  ngantuk,  mungkin  cara mengajar  kita tidak melibatkan  energi  semangat,  maka harus segera  dirubah.

Misalnya  lagi guru  biologi  akan mengajarkan  bagian  tubuh. Maka dapat menyampaikan  ke siswa kalau guru  mengatakan bagian tubuh,  maka siswa menjawab dengan, "tubuhku sangat berharga." 
Tujuannya  adalah memasukkan  murid di zona alpa.

Namin AB, juga menyampaikan  tip mengelola kelas dengan kreatif dalam PJJ. Mengajar  dalam keadaan bersih  dan wangi, sudah sarapan, bangun kedekatan  dengan peserta didik  kita,  atur posisi tempat belajar  yang nyaman,  berbicara  yang sistematis, debgan gestur tubuh  yang baik,  45% materi bisa diterima oleh siswa itu karena gestur  tubuh,  sisanya  adalah kata-kata,  media yang digunakan, setiap  20 menit  lakukan improvisasi,  tutup dengan kalimat kalimat  penuh hikmah dan kebaikan.

Narasumber  yang  kelima  sebagai  pamungkas  adala. OM Jay.  Guru  Labschool yang kandidat  Doktor dari  UNJ ini menyampaikan  pengalaman  ngeblog  hingga membawa keberuntungannya, hingga  keliling  Indonesia,  luar negeri , mendapat  berbagai  hadiah dan beasiswa  S2 dan S3. 

Om Jay berpesan  sebagai  guru  jangan berburu  sertifikat,  tetapi berburu  ilmu.  Sertifikat  adalah  bonusnya  berburu  ilmu.  

Omjay  menyampaikan  4 kekuatan manusia,  yaitu kekuatan pikiran,  kekuatan perkataan, kekuatan  perasaan  dan kekuatan perbuatan.

Penulis buku  Blogger  ternama ini juga  berpendapat  bahwa membaca buku  itu  akan menambah ilmu, semua masalah akan ketemu  solusinya  dengan banyak membaca, untuk  itu  jangan pelit  membeli  buku.

Demikian  catatan  saya mengikuti  Semnas PGRI  yang bertepatan  dengan hari sumpah pemuda, mari  berkarya  untuk  membuktikan  kepada dunia  bahwa  kita  ada dan bisa.

Magetan,  28 Oktober  2020












Senin, 26 Oktober 2020

Kunjungan Bapak Presiden

Saya terkejut  beliau  tahu tahu sudah  berada di teras rumahku, memakai kemeja putih kesukaanya, tanpa pengawalan yang ketat tidak seperti biasanya,  Beliau bersama tukang cukur pribadinya  yang masih muda.

Saya tidak menyangka sama sekali berkenan singgah di gubugku, jangankan Bapak Presiden, Bapak Camat saja tidak pernah ke rumahku. Kalau Pak Lurah  sering karena dulu sahabatku.

Saya gugub  luar biasa, mau saya suguh apa, saya tidak  biasa kedatangan tamu pejabat. Lebih lebih RI 1. Di desa  adanya ketela,  mangga, pepaya, Jambu,  dan  pisang. Itu tanaman saya. Musim tanam ini mau menanam alpukat.  Alpukat  Markus, aligatir , miki, dll.

Beliau  dirapikan  rambutnya yang sebelumnya  sudah rapi, tukang potong rambutnya  tampak hati  hati  melaksakan tugas ini. Saya tidak berani  menatap  pandangan  matanya,  hanya sesekali  melirik   dan siap  jika  ditugasi  apa. 

Tapi Beliau  tidak banyak  kata.
"Selamat sore Bapak Presiden. Monggo kulo aturi  pinarak?" Sambil  menahan gugub dan takut saya menyapa.  Saya  benar-benar  salah tingkah,  tapi  saya harus menyapa.
Beliau hanya menganggukkan kepala dan mengatakan  , "Iya".

Memang benar-benar  berwibawa , tidak saja seperti  yang saya lihat  dilayar  televisi,  tapi  saya menyaksikan dari dekat. Dekat sekali  dan merasakan sendiri,  tidak katanya.

Kreket.... aq terbangun  oleh suara istriku yang membuka  pintu  mau ke kamar  mandi,  biasaya akan  tahajud. Malam ini Dia tidak berani  membangunkan tidurku,  karena dia tahu kalau suaminya  capek sekali. 

Dia tahu capeknya karena tadi sore menemani  mencangkul  di kebun, mengolah tanah yang akan ditanami alpukat. Sehingga merasa kasihan  kalau  membangunkan  dari pulas  tidurku.

Ya Allah ternyata  saya bermimpi  bertemu  Bapak Presiden.  Dua kali ini Beliau  datang dalam mimpi,  pertama tahun 2016 dan tahun 2020 ini. 

Saya ingin suatu  saat nanti tidak hanya dalam mimpi,  tapi bertemu sungguhan,  dalam kenyataan, saya berjabat  tangan dengan Beliau,  saya cium tanganya tanda hormat  saya pada seorang  pemimpin besar   bangsa Indonesia yang kita cintai. 

Bagaimana  saya bisa? Kalau Allah menghendaki  tak ada yang sulit,  saya hanya bekerja yang baik  saja  sebagai ASN , dan bersemangat  dalam melaksanakan tugas apapun yang diberikan pada saya. 

Terima kasih  Bapak  Presiden  sudah berkenan mengunjungi  gubug  saya di desa, walaupun  hanya  dalam mimpi  sudah membuatku  bangga  dan bahagia. 

Magetan,  27 Oktober  2020.








cara menerbitkan buku ala Brian

Malam ini kita akan belajar menerbitkan  buku berdasarkan  pengalaman R Brian Prasetyawan, seorang penulis muda yang mulai ngeblog sejak 2009. 

Kita  akan membahas Hal-hal yang perlu diperhatikan saat menyiapkan kumpulan resume untuk menjadi naskah buku

Mungkin pembaca masih bertanya-tanya, bagaimana kelanjutan proses penerbitan buku jika sudah menyelesaikan 20 resume. Apakah harus melalui penerbit yang ditentukan pelatihan belajar menulis,atau bagaimana ? Lalu bagaimana menyusun kumpulan resume dalam bentuk format buku ?
Brian sudah ngeblog sejak 2009. Namun keinginan untuk membuat buku baru muncul pada akhir 2013

Ketika itu  ingin menerbitkan buku pada 2014. Namun tidak punya mentor yang membimbing. Tidak tahu harus masuk di komunitas apa. Hanya tahu satu tempat menerbitkan buku secara mandiri yaitu nulisbuku.com. Disitu memang gratis, tapi tidak termasuk fasilitas desain cover dan ISBN. Jika mau dua hal itu harus bayar. Biayanya mungkin hampir sejuta. Ketika itu masih kuliah. Tidak mungkin mengeluarkan biaya sebanyak itu. Dan tidak tahu tempat lain untuk menerbitkan buku secara self publishing.
Semanganya naik-turun dan akhirnya vakum. File naskah tersimpan saja di dalam laptop bertahun-tahun.

Namun akhirnya pada 2019 mulai bangkit lagi karena tidak sengaja menemukan hashtag di Instagram tentang penerbit Indie. Mata saya terbuka bahwa menerbitkan buku sekarang lebih mudah dan banyak pilihan dengan adanya penerbit indie.

Akhirnya  semangat menyelesaikan naskah hingga akhirnya pada Oktober 2020, mengirim naskah buku pertama saya ke salah satu penerbit Indie.

Perlu waktu 3 bulan untuk menunggu sampai buku terbit. Akhirnya pada akhir Januari 2020, buku pertamanya terbit.

Setelah buku pertama terbit, barulah ketemu dengan grup pelatihan belajar menulis. Ketika itu memasuki gelombang 4
Hatinyanya senang sekali berada satu grup dengan guru-guru yang juga suka menulis

Semangatnya menjadi berkali-kali lipat hingga menerbitkan buku solo pada Mei dan Juni 2020.

Pembaca  beruntung apabila bisa bergabung di grup penulis.  Bapak/ibu tinggal pilih mau menerbitkan buku dimana dan mendapat bimbingan.

 Pelatihan belajar menulis tidak menentukan penerbit tempat bapak/ibu menerbitkan buku. Dipersilakan bapak/ibu bebas memilih penerbit

Pertemuan sebelumnya sudah ada Cak Inin dari Kamila Press dan Pak Thamrin Dahlan dari YPTD

Bapak/ibu sudah tahu ketentuan/persyaratan dari tiap penerbit tersebut. Saya pun juga mau memberi pilihan kepada bapak/ibu yaitu menerbitkan buku lewat saya.

Brian bekerja sama dengan sebuah penerbit indie. Penerbit yang sudah menerbitkan bukunya bu Aam hehe.
Maka yang sebaiknnya bapak/ibu lakukan adalah memahami betul ketentuan tiap penerbit dan memilih yang cocok dengan bapak/ibu.

Format naskah buku tidak ditentukan dari pelatihan belajar menulis, tapi menyesuaikan penerbit yang bapak/ibu pilih.
Karena bisa saja antar penerbit beda format settingannya. 
 
Nah sekarang mari membahas bagaimana menerbitkan buku jika lewat penerbit rekanan saya

Pertama, 20 tulisan resume digabung dalam satu file microsoft word. Nah settingan file microsoft word ini perlu disesuaikan dengan format penerbit. Kalau format penerbit rekanan saya:

Ukuran kertas A5 (14x20cm)
Huruf times new roman, ukuran 12
Spasi 1,5
Margin 2 cm semua
Paragraf rata kiri-kanan (justify)

Kemudian masukkan juga kelengkapan naskah dalam file naskah kumpulan resume

Kelengkapan naskah yaitu:
cover ( judul buku dan nama penulis saja), kata pengantar, daftar isi (tanpa nomor halaman), profil penulis, sinopsis (3 paragraf. Masing-masing paragraf 3 kalimat).

Urutannya:
Cover
Kata Pengantar
Daftar Isi
Isi naskah
Profil Penulis
Sinopsis

JIka sudah siap, silakan kirim ke WA saya
Jadi semuanya dalam satu file. Tidak dipisah-pisah menjadi beberpa file
Jadi tidak perlu ragu pada resumenya masing-masing.

Untuk menerbitkan di penerbit rekanan saya, biayanya 300.000. Penulis mendapat fasilitas penerbitan: 
Desain cover
ISBN
Layout
Edit ringan
2 Buku bukti terbit
E-Sertifikat.

Apa hambatan saat mengerjakan  menulis  dan penerbitan. 

Tadi sudah disampaikan bahwa saya punya keinginan memiliki buku pada 2014. Nyatanya buku pertama saya baru terbit 2020. Apa Faktornya ? Menurut saya adalah Motivasi dan kepercayaan diri

Jika motivasi dari diri sendiri, ada kemungkinan akan naik-turun. Maka sebaiknya ikutan komunitas, seperti pelatihan belajar menulis ini. Untuk percaya diri, saya banyak membandingkan buku-buku dari berbagai penerbit indie. Ternyata isi tulisannya tidak harus yang berat-berat. Tulisan tentang keseharian saja bisa diterbitkan.

Tapi tidak usah membayangkan mengedit dengan ketentuan tingkat tinggi
Betul bahwa kita perlu melakukan swasunting atau mengedit sendiri

Edit saja hal-hal kecil seperti typo (salah ketik) dan merapikan susunan paragraf
Ilmu mengedit bisa dimulai dari dua hal sederhana:
1. Paragraf jangan berisi terlalu banyak kalimat
2. Mulailah membiasakan membuat kalimat yang pendek-pendek. Kalimat panjang cenderung akan membingungkan.

Apakah ada biaya pracetak ? (Lay out, ISBN, cover, editor). Berapa lama waktu yg dibutuhkan hingga terbit. Berapa biaya per bukunya ? Bagaimana kualitas kertas, jilid dll ?
Cover : soft cover bahan art carton 260 gms, binding, laminating glossy
Wrapping plastik
Biaya 300 ribu.  Waktunya kurang lebih 1 bulan. Harga cetak per buku tergantung jumlah halaman. Sebagai gambaran: 100 halaman A5 = 33.250. Kualitas seperti penerbit pada umumnya. Kertas bookpaper 57 gram, jilid lem panas.

Cover : soft cover bahan art carton 260 gms, binding, laminating glossy Wrapping plastik

Apakah resume yang sdh dibuat ketika di cetak harus di ubah dlm bentuk yang berbeda atau tetap seperti resume yg sdh di kumpulkan selama ini?
Menurut Brian resumenya tetap seperti resume yang sudah dikumpulkan selama ini saja.
Kalau edit tata bahasa ada. Tapi sebaiknya baca ulang lagi naskah sebelum mengirim. siapa tahu ada salah-salah ketik.

Kemarin ada YPTD. Namun saya kurang menyimak bagaimana ketentuannya. Nanti bisa sharing saja dengan bapak/ibu anggota grup ini.

Apakah ada penerbit yang tidak memungut biaya sepeser pun dan bersedia menerbitkan karya kita dlm bentuk buku?

Kemarin ada YPTD. Bagaimana ketentuannya hina sibaca di tulisan sebelumya.

Untuk  penulis pemula  difasilitasi dengan adanya penerbit-penerbit  berikut :

Ada 4 penerbit. Kamila press, YPTD, Penerbit Gemala (rekanan saya), Oase Pustaka (rekanan Bu Kanjeng)
Untuk CP:
Kamila Press: Cak Inin
YPTD: Pak Thamrin Dahlan
Gemala: Brian
Oase Pustaka: Bu Kanjeng


Menurut  Brian tidak ada batas waktu penyusunan resume. Sebenarnya simpel. 20 resume digabung jadi satu dan dirapikan. Ditambahkan kelengkapan naskah. Baca ulang lagi + edit. Selesai. 
Dalam penerbitan  ini tidak berlaku ketentuan penulisan ilmiah. Jadi simpel saja. Ada 20 resume berarti ada 20 bab, sudah bisa diterbitkan.

Nah kalau  mau menerbitkan buku selain kumpulann resume, Kumpulan puisi juga boleh. Format sama dan minimal jumlah puisinya adalah 20, bisa juga ditambahkan tulisan lain, yang penting masih tentang menulis. 

Apakah antologi puisi bisa diterbitkan? Bisa tapi untuk  persyaratan diklat  menulis  harus puisi solo.

Syarat awal penulis pemula adalah Ikut komunitas menulis seperti pelatihan belajar menulis. Lalu rajin menulis di blog. 
Kumpulan tulisan di blog bisa dibukukan. Ini adalah konsep yang diterapkan Om Jay . Maka itulah gunanya blog. Menampung tulisan-tulisan kita. Kalau sudah banyak, kita tinggal pilih-pilih tulisan mana yang mau dibukukan.

Menurut Brian kiat kiat menulis adalah 
 1. apa saja bisa ditulis. Jangan ragu pada tulisan kita. Karena tulisan yang kita anggap biasa, bisa saja dianggap luar biasa bagi orang lain. Tidak perlu memikirkan bahwa menulis itu harus begini, harus begitu. Mulai aja dulu.
2. ini menarik. Pada dasarnya saya tidak punya hobi menulis. Namun sejak ngeblog, hobi menulis menjadi muncul. Saya mempelajari tentang menulis secara otodidak lewat internet atau buku. Maka sebenarnya siapapun masih perlu banyak belajar tentang menulis. 
3. Rencana saya blog saya www.praszetyawan.com akan dibuat jadi 5 buku. Lalu mengajak siswa kelas saya menerbitkan buku antologi. Saya ada mimpi untuk membentuk komunitas guru penulis Jakarta.

Kesimpulan
Sekarang ini menerbitkan buku semakin mudah. Tulisan apapun bisa diterbitkan. Ditambah lagi bapak/ibu sudah bergabung dengan grup ini. Jalan yang harus dilewati untuk menerbitkan buku semakin jelas dan terbuka. Maka mari tuntaskan sampai buku terbit. Jangan berhenti di satu buku. Mudah-mudahan berlanjut menerbitkan buku kedua, ketiga, dan seterusnya.

Semoga artikel ini dapat menjawab hal-hal yang masih menjadi tanda tanya bagi pembaca.

Semoga buku solo kedua saya, yang lolos seleksi penerbit mayor PT Andi, akan segera terbit. Untuk semua peserta tetap semangat membuat resume sampai bukunya terbit juga. Buku antologi adalah salah satu lecutan semangatt untuk menambah motivasi menulis. Ayo kita sukses bersama dan buku kita laris manis seperti moderator kelas menulis. Saya izin pamit, mohon maaf apabila ada kurang tata atau bahasa. 

Magetan , 27 Oktober  2020. 




Jumat, 23 Oktober 2020

Menulis artikel di koran bersama Enchon Rahman


Enchon Rahman  banyak menulis artikel di koran dan majalah  , sampai saat ini mencapai  500 judul lebih, yang  menjadi wasilah  menjadi juara 1 guru berprestasi tingkat  Nasioanal dan peraih penghargaan,  dan guru penerima penghargaan internasional  dari Thailan tahun 2017 yang lalu  mewakili  bangsa Indonesia  waktu itu.

Alumni SPG terakhir  tahun 91 dari Majalengka ini bakat menulisnya  mulai berkembang sejak SPG,  mulai menulis artikel,  cerpen,  puisi  dan lain,  di majalah dinding.  Mulai ada kebanggaan  ketika teman teman megapresiasi mengenai yang ditulisnya. 

Selain rutin menulis  di Mading  SPG Majalengka,  gurunya mengarahkan mengirimkan ke koran atau majalah,  ada tabloid mitra desa, grupnya harian umum pikiran rakyat Bandung.  Di tabloit ini mengirimkan  humor, sajak, kartun, 150 kartun  pernah dimuat  di majalah nasional dan lokal.  Tapi ini  tidak dikembangkan  karena mulai  mencari spesialis  dibidang menulis.

Akhirnya  muncul  kesenangan, semangat  menulis, dan satu kebanggaan  ketika tulisannya  dimuat  di koran  atau majalah.
Seiring  dengan perkembangan interaksi dengan penulis, bertambah  ilmu , menulisnya  beragam,  cerpen, artikel, sajak dan  lain lain.

Ketika kita mulai belajar menulis,  
Mulailah menulis yang ringan  ringan dulu,  jangan menulis dikirimkan  ke koran koran  terkenal , kalau tidak dimuat  akan patah arang  akhirnya  tidak semangat. 

Menulislah di majalah  atau korang yang pesaingnya  sedikit misalnya majalah lokal  sehingga bisa dimuat,  walaupun  honornya sedikit. Akhirnya  termatotivasi  untuk  menulis lagi. 

Dari honor yang diperoleh  dikumpulkan  bisa digunakan   berangkat  ke Bandung tanpa minta  orang  tua,  untuk  biaya tes sipenmaru tapi tahun itu  belum beruntung  bisa lolos sipenmaru.

Meskipun  demikian menulisnya  tetap dilanjutkan,  pada tahun berikutnya kemudian mulai  mengirimkan ke  koran nasional dan dimuat,  kemudian  melanjutkan  kuliah di swasta,  Universitas Pasundan Bandung  FKIP Bahasa dan Sastra  Indonesia.  Ternyata jurusan ini   lebih fokus pada dasar dasar  pengembangan kebahasaan,  etimologi,  dan perkembangan ketrampilan  berbahasa  Indonesia  pada umumnya. 

Di Bandung Enchon  termasuk  penulis yang rajin menulis artikel  waktu itu , mulai  dari berbagai  genre  dicoba,sajak, film, cerpen dan lain lain , dari honor  tulisan ini  bisa  digunakan untuk  membiayai kuliah di Bandung  Unpas termasuk  perguruan  tinggi  no 2 di Bandung yang mahal, 900 ribu waktu itu. Dari  honor  tulisan  bisa digunakan untuk  biaya hingga  selesai  kuliah. Honor  dikoran luar biasa  waktu itu.

Perkembangan  menulis dibandung cukup signifikan, bergaul komunitas  para penulis bergabung ICMI Bandung,  Belajar  menulis  artikel  dan lain lain  sehingga menambah ilmu pengetahuan  dan motivasi  tulis menulis.

Kesimpulan, ternyata ketika memiliki passion menulis harus mencari  komunitas  yang bisa mendukung apa yang kita sukai,  sehingga  motivasi  menulis tinggi.  

Hal yang masih ingat  sampai  saat  ini, saat  butuh uang banyak,  ketika  teman tidur,  dia menulis,  apa nih yang bisa menghasilkan uang banyak.  Kemudian  membuat  cerita  anak dan dimuat  dan honornya  cukup besar, setara dengan emas 4 gram waktu itu,  akhirnya  apa yang ditargetkan  tercapai.

Bisa menyelesaikan Unpas  dari honor menulis di Bandung Pos  dan lain lain 
Kesimpulan lain ketika  kita bisa menulis  lanjutkan, menulislah.  
Honor  di koran  pikiran rakyat  dan Bandung Pos  tinggi  waktu  itu.  Sehingga  menulis  di koran  lebih cepat  mendapatkan  uang banyak  melebihi UMR waktu itu. 

Hal lain ketika kita mengirimkan  tulisan ke koran harus tahan banting, ketika menulis  di koran,  tiap hari  harus mengirimkan,  kalau  belum dimuat jangan patah arang,  tapi harus introspeksi,  harus sering membaca koran. Kemudian yang ngetrend tentang apa begitu   terus kita bisa membahas dari sisi lain. 

Selain  tersebut  secara mental  agar kuat dan kokoh  kita mengkliping artikel  artikel yang secara waktu  tertentu seperti  17 Agystus,  28 Oktober  5 Mei dan lain lain.  Kita harus baca semua  itu,  sebenarnya  kita itu  malas,    malas baca karya orang lain padahal  itu  perlu. Dari  kliping kliping itu  diamati  satu minggu,  oh begini  gaya penulisan di koran  dan sebagainya, sampai  akhirnya  bisa dimuat  di koran. 

Berdasarkan  pengalaman  dia  membuka  diklat  menulis  artikel  di koran  untuk  guru  Indonesia. 
Tingkatan  menulis  ada levelnya, rendah,  sedang, tinggi. 

Menulis  di blog, menulis  antologi,  menulis bukun karya bersama, menulis solo.
Menulis  dikoran  termasuk  level  menengah.

Agar bisa di muat  di koran,  harus menguasai  cara menulis judul, intro, memaparkan artikel, pembahasan dan teknik menutup  artikel. Aktual, idenya bagus dan lain lain. 

Sebaiknya  ada pembimbingnya  agar  lebih mudah ,  dicoret, dibenarkan  terus direkom dikirimkan ke koran  mana  dan sebagainya. 

Pesan terakhir,  ketika ingin terjun  menjadi penulis produktif niatkan menulis itu sebagai ladang amal ibadah   dan ladang  amal jariah , tulisan kita lebih panjang,   lebih lama dari usia kita. Seperti Hamka, orangnya sudah meninggal tapi buku bukunya, kitab kitabnya, tulisannya  masih dibaca orang.

Usahakan ketika kita akan menulis apapun kita memiliki  wudhu  sepeti  ulama, sehingga  tulisan  kita akan semakin bagus dan lebih kuat. 

Magetan, 23 Oktober  2020 








Septeria

Jumat pagi tadi aktifitas  di kantorku diawali dengan senam pagi. Diiringi musik  dan dipandu  oleh guru senam dari Madiun.

Sebenarnya  saya punya janji dengan mantan muridku pukul 07.00 kami bertemu,  tapi waktu  yang disepakati  telah lewat  anaknya belum  kelihatan.  Akhirnya  saya mengikuti  senam  hingga selesai.  Biasanya  saya kalau berjanji saya ingat  ingat, untuk  memenuhinya.

Selesai  senam  saya menuju  ruangan  dan duduk istirahat tak lupa menikmati  rujak  bikinan guru guru. Seger manis  mak nyus.
Di sela istirahat  itu  datanglah tamu  saya yang sudah janjian itu , Septeria. Alumni SMP2 Kawedanan  tahun 2011, yang dulu  pernah saya ajar  mapel Bimbingan  Konseling. 
"Saya termotivasi ketika mengikuti pelajaran Bapak dulu", terangnya mengingat  masa lalu. 

Anak ini luar biasa,  memiliki  semangat  belajar  tinggi.  Selepas  lulus SMP  melanjutkan  ke SMA, kemudian kuliah di UII Madiun. Atas biaya  sendiri.  Kalau  pagi mengajar  di TK, kalau  sore  kuliah. Ayahnya  menikah  lagi sejak  SD,  sehingga  ibunya  harus berjuang keras untuk  membesarkan  anak anaknya.

Lulus S1 kemudian melanjutkan  kuliah S2, mendapatkan  dukungan  dari  suaminya,  dia menikah sepuluh bulan lalu, bulan Desember  2019.

Suaminya  punya usaha ternak  lebah,  kemudian  bersama  Septeria  membuka  toko  Madu  dan rental  alat alat pendakian seperti carier,  tenda dum buat anak anak persami, jaket, topi, matras, kompor, dll. Harga sewa masing-masing  5.000 sd. 10.000.

Tokonya ada dua tempat,  yang satu di Madiun,  di Jl. Mangkuprajan no 4 dekat UII Madiun. Dan yang kedua  di daerah Takeran  dekat MTs. Karyawanya masing-masing  2 orang , jadi  dia punya 4 karyawan.  Luar biasa bukan. Teknik penjualannya  dengan ofline dan online, sudah mengikuti  perkembangan teknologi terkini.  Biasanya  anak muda yang hebat seperti  ini. 

Ke SMP1 Takeran  dia ingin melakukan penelitian  untuk  Thesis nya yang berjudul Kepemimpinan  visioner  seorang kepala  sekolah.

Ternyata  dia mengikuti  postingan postingan  saya  di FB. Sejak  saya bertugas di SMP 3 Kawedanan  hingga  di SMP1  Takeran ini. Kemudian saya  tunjukkan  buku  buku saya yang berkaitan  dengan ini. Catatan harian seorang kepala sekolah  dan catatan  seorang  kepala sekolah. Yang satu  diterbitkan  Karmila pres Lamongan  dan yang satu  Telaga Ilmu  Jakarta.
Saya akan menjawab pertanyaan pertanyaan yang diajukan untuk  bahan menyusun Thesisnya seorang anak  muda yang memiliki  semangat  membara  untuk  mengejar  mimpinya.

Saya yakin anak ini  nanti  sukses entah dibidang apa, karena tampak kegigihanya  dalam memperjuangkan  cita-citanya. 

Terus  semangat  Septeria,  Tuhan tidak pernah salah menempatkan seseorang  pada posisi  yang sekarang, itulah cara Tuhan mendidik  kamu. Itu  yang dikatakan  oleh Dahlan Iskan. 

Magetan,  23 Oktober  2020