Selasa, 26 Januari 2021

Sejak itu tumbuh semangatku

Kehidupan di desaku saat itu  memang diliputi  keterbelakangan. Atau secara  umum  desa desa yang lain juga begitu. 

Tugas  anak-anak  setiap pulang sekolah  adalah mencari  rumput  di sawah. Yang namanya  tidur  siang  itu  tidak ada dalam  kamus anak anak di desaku. 

Setiap  keluarga  memiliki  sapi,  atau setidaknya  kambing,  sebagai hewan peliharaan. Sapi  atau kambing adalah  tabungan  bagi mereka yang sewaktu waktu  dibutuhkan  tinggal menjualnya.

Secara  ekonomi  sebenarnya  apa yang dilakukan  oleh  masyarakat  saat itu adalah  sangat  positif. Yang mana  tak ada orang nganggur sejak SD kelas 4 s.d orang  dewasa. Semuanya  memiliki  aktivitas  ekonomi  masing-masing.

Pendidikan  kurang mendapatkan  perhatian dari  orang tua. Akhirnya  banyak  anak  yang tidak melanjutkan  sekolah setelah lulus SD.

Lantas apa yang dilakukan  mereka? Mereka  kerja,  merantau,  menikah  sehingga  kebanyakan  dari  mereka  adalah  pernikahan  dini, dan banyak  diantaranya  yang berakhir pada  perceraian.

Orang tua  lebih  memilih  membekali  anaknya berupa  harta  benda setelah  menikah.  Kalau  orang kaya setelah menikah,  anaknya  diberi  sawah, dibuatkan rumah. Kalau orang  tidak  mampu  ya tanpa bekal  apa-apa alias  mencari  sendiri.

Orang tuaku tidak termasuk  orang kaya, kalau  saya prediksi tidak akan mampu  membuatkan rumah  dan memberikan  sawah. Beliau  sendiri  hanya menggarap kebun  seluas kurang lebih  4.500 m2 atau hampir  setengah hektar. 

Kebun seluas  itu  hanya  cukup  untuk  kehidupan  sederhana  di desa.

Bertitik  tolak  dari itu  saya punya tekat untuk minta dibekali  ilmu pengetahuan  saja. Saya minta  disekolahkan  yang tinggi  semampu  orang tua membiayai.

Saya belajar  sungguh-sungguh,  sekolah  sungguh-sungguh, beribadah  sungguh-sunguh. Itu  yang saya  lakukan  keseharian. Walaupun  sering  sekali sekolah  tanpa  uang saku  saya jalani  hampir  setiap  hari. Yang penting  sudah makan  pagi. 

Kalau pulang sekolah  jam 12, keluar keringat dingin,  karena menahan  lapar dan haus.
Sampai  rumah  makan  dengan lahap dengan sayur  seadanya dan lauknya  tempe. Sambal plelek  adalah  kesukaanku. 

Alhamdulillah  keberuntungan  berpihak kepadaku, aku selalu diterima  di sekolah  paforit,  SMP1 Maospati, SPGN Magetan  selanjutnya  di IKIP  Surabaya.
Menjadi  guru  adalah  cita-cita  sederhanaku. 

Disetiap  masa sekolah selalu ada  kegiatan  yang menantang  saya untuk  bisa memanage  waktu  dengan baik. Kalau hanya  sekolah  saja rasanya  kurang tantabgan  dalam hidup  ini. 

Ketika  SMP sd. SPG  saya ikut  kegiatan bela diri SH  Terate. Masuknya  seminggu  3 kali. Kegiatan  ini cukup  menguras  tenaga  waktu  dan pikiran. Tapi saya berjanji  harus bisa menyelesaikan  kegiatan  ini. Dan Alhamdulillah  bisa selesai  tahun '83. 

Beratnya dalam  latihan  kalau dituliskan  mungkin  bisa satu  buku  penuh. Berangkat  setelah Magrib,  pulang  pukul 03.00 dini hari,  menjadi  aktivis rutinku seminggu  tiga kali. 

Kegiatan  dimulai  dengan osdower  kurang lebih 2 jam. Kemudian senam,  jurus, dan terakhir sambung. Sampai  capek  sekalai. Tapi saat itu  senang  saja. Berbagai  pukulan , tendangan   pelatih  sering  mendarat  di dadaku. Memang latihan  itu  identik  dengan sengsara. Tapi seberapa  sengsara kalau  dijalani  akhirnya  selesai  juga. "Sepiro gedening  sengsara  yen tinompo  amung dadi coba." 

Badan kami kurus, tapi kuat. Karena  gemblengan  di SH Terate. Rasa ngantuk,  capek sering kualami , sehingga  prestasi  belajarku menurun, sering  mengantuk  di dalam kelas. Kejadian ini  terus kualami  hingga  kelas 1 SPG. 

Setelah kelas  dua kami bangkit semangat belajar  sehingga  bisa menginbangi  teman-temanku yang  rata-rata  tidak  banyak  kegiatan. Lebih-lebih  saat itu  saya minta  ijin pada Bapakku untuk  suatu  saat nanti  saya  bisa melanjutkan  belajar  ke IKIP diizinkan.
"Pak nanti setelah  tamat  SPG saya ingin  kuliah lagi  apakah  diijinkan?" Tanyaku pada Bapak  di sore  hari  sambil  bapakku istirahat.
"Ya..., tapi  ya kamu  perkirakan  sendiri  kemampuan  Bapakmu."  Sebuah jawaban  yang  tak ku bayangkan sebelumnya, sangat  bijaksana  menurut  saya.

"Inggih Pak", sejak itu  saya dalam  hati punya  hasrat  untuk  melanjutkan  kuliah. 
Hasrat  ini tidak  pernah  kukatakan pada teman temanku. Tidak kenapa-kenapa hanya khawatir  saja bila tidak  kesampaian. 

Alhamdulillah  seta









Minggu, 24 Januari 2021

Permata dan jantung hatiku

Tadi siang  pukul  11 Hindun ke Madiun,  beli bedak atau apa urusan anak muda. Saya tidak bisa mengantarkan  karena kesehatan  kurang bersahabat. Biasanya  saya yang mengantarkan.

Sepulang  dari Madiun  rupanya  kehujanan, walaupun  pakai  jas hujan  namun  karena cuaca  yang kurang bersahabat  akhirnya  masuk angin. Badan terasa dingin.

Saya sapa dari kejauhan 
"Sayang.... "
"Dalem..  " dia menjawab sambil  berselimutkan  kain dan tangannya  memainkan  HP kesayangan ya.

Istri  saya mendekatiku,  saya bilang,
"Anak  itu  permata  hatiku.  Kalau Istri  itu jantung  hatiku." Dia tersenyum  melihatku  sambil  menuju  kamar  mandi. Kemudian aku melanjutkan bertanya, "kalau aku.....?"

"Kau adalah  separuh jiwaku .....!"
Hehehe,  ya Allah  semoga  orang-orang  dekatku  sehat semuanya.

Sering  saya mengagumi istriku, kerja iklas,  memasak, mencuci,  bersih- bersih  rumah. 
Setiap  hari  rajin mengaji. Luar biasa. Semoga  dia termasuk  istri  sholihah yang mendapatkan  derajat  yang tinggi  di hari  qiamat.

Sejak  pernikahan  kami,  selalu bersama,  tidak  pernah berpisah  kecuali  tugas yang memisahkan  sementara. Seperti  ketika  saya dapat tugas  penataran  di luar  kota.

Kemana-mana kami  selalu  bersama. 
Ya Allah lindungilah  Kami,  panjangkan umur kami,  kuatkan  pundak kami,  luaskan rezeki  kami,  selamatkan hidup kami, selamatkan akhirot  kami,  masukkan  kami  pada golongan  hambamu  yang beruntung  baik  di dunia  hingga  akhirat.

Seperti  itulah  pentingnya  istri,  yang selalu  menguatkan  disaat lemah. Yang selalu mendorong  disaat lambat. Yang selalu  menghibur  disaat  sedih.

Bagaimanapun  keadaannya  selalu  berdua,  membesarkan  anak-anak  bersama, hingga menimang  cucupun  bersama.

Saya yakin pembaca semuanya begitu,  semoga Allah  melimpahkan  rahmatnya pada kita semua.

Magetan,  24 Januari  2021

Tidak lama lagi, akan datang kemudahan

sumber ilustrasi: kiriman Omjay 

Di bulan bulan seperti  ini berdasarkan  pengalaman banyak  orang sakit,  walaupun  tidak saat pandemi. Dulu  pernah  bed rumah sakit  habis,  sampai pasien rumah sakit  berada  di lorong-lorong  ruangangan karena banyaknya  yang terkena  malaria.

Belum  akibat  kurban banjir  yang menimpa  warga yang terkena langganan banjir tahunan.

Diikuti  juga kurban tanah  longsor,  karena hujan  yang deras tak berkesudahan. Disetiap  musim  penghujan  hatinya  cemas,  takut  kena banjir. Biasanya  bisa  tidur  pulas  di dipan kamarnya,  ketika  banjir  tidak bisa  tidur  nyenyak, ditempat  yang enak.

Ya, itulah  rutinitas  musim tahunan, yang harus diantisipasi  agar semua  masalah  teratasi  dengan baik. Dicarikan  solusi  sebab  banjir, sehingga  air  terurai menuju  sungai.

Sahabat  saya di Jakarta, Omjay  rumahnya  kena banjir,  air  meluap di mana mana, akhirnya  tidak bisa  pulang, harus menunggu  banjir  surut  entah berapa  jam lagi. Di rumah Omjay  air  setinggi mata kaki orang dewasa. Sehingga sore  ini harus kerja bakti  agar air  bisa keluar  dari rumah.

Omjay  tinggal di Jl. Bintan B. 144 komplek Tni AL Jatibening indah Pondok Gede Bekasi

Saya berdoa , semoga  segera terurai simpul masalahnya  semuanya. Yang sakit  diberikan  segera  sembuh, yang banjir  segera  reda. 

Kalau  mengenang  masa  kecil dulu, orang  kebanyakan  perekonomiannya sulit,  PNS gajinya  sedikit, hasil  pertanian  murah,  upah pekerja  murah. 

Kesimpulannya  hidup itu  memang sulit, sulit sesuai  dengan jamannya masing-masing. Harus diperjuangkan sesuai  jamannya masing-masing. 

Dan yang penting  berdoa, berserah  diri pada Allah,  berharap  pertolongannya akan tiba tidak lama  lagi. Allah pasti  akan menolong hanbanya.

inna ma'al usri yusra (إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا) “Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan“.

Kita yakin  setelah kesulitan  akan datang  kemudahan. Sebagai  hadiah  orang  yang telah memenangkan perjuangan.

Oleh karena  itu  sesulit  apapun  kita harus bangkit,  kita hadapi  dengan baik, tak ada  yang sia-sia  perjuangan  kita.

Semoga kita semua  menjadi  pemenang  perjuangan,  yang akan menikmati  kemudahan.

Magetan,  24 Januari  2021

Jumat, 22 Januari 2021

Kata Pengantar Omjay

Mendapat  kesempatan belajar  ke luar negeri  tentu semua guru  senang. Tapi tidak semua  guru  bisa seperti  itu  kecuali  guru yang berprestasi. 

Wijaya Kusumah,M.Pd., yang lebih dikenal dengan Omjay  termasuk  guru  yang beruntung  itu, karena  berbagai  prestasi  yang diraihnya. Beliau  mendapat  kesempatan  belajar  ke negeri Panda, China, bersama 50 orang guru  hebat  lainya.

Bedanya  Omjay  dengan yang lain  adalah menulis. Ya, selama  di China  kecuali  mengikuti  program  belajar  di sana, Omjay  menuliskan  pengalaman  kesehariannya di sana sejak hari pertama  sampai  dengan  hari  ke 22.

Tulisan  Omjay  diabadikan  dalam buku yang berjudul  "Berburu  Ilmu di Negeri Panda Yang Lucu." 
kampus yang dutuju  adalah  universitas terkenal di China. Namanya China University of Mining and Technology (CUMT).

Kampus ini semacam "ITS" nya Indonesia. Sebuah Kampus  yang besar diatas tanah seluas 260 ha.,  tempat  anak anak hebat  China menimba  Ilmu dan memperjuangkan cita-cita . Banyak  diantara  mereka menjadi pejabat  di sana.

Membaca buku  ini bisa terinspirasi  untuk  ingin  belajar  di sana, tidak  hanya  itu  , Omjay  berbagi  tips agar  pulsa  tidak  cepat  habis ,semua ada si buku  ini.

Memang Omjay  adalah  guru  inspirasi, dengan membaca  buku  ini jika  anda penulis  pemula,  bisa terinspirasi  bagaimana  menuliskan  catatan  perjalanan  tanpa  repot,  Omjay  menulis  saja dengan gaya bertuturnya  yang mengalir , renyah  enak di nikmati 

Oleh karena itu membaca tulisan Omjay…serasa ikut mengalami langsung rutinitas omjay di negeri  Panda.

Omjay  dalam  gaya bertuturnya  betul betul santai  bahkan menghibur,  jenaka, misalnya  Omjay  itu  pendekar,  di musium teman-temanya  banyak  terserang  HIV. Apa iya? Silahkan  dibaca sendiri hal.36. 

Pada buku  ini juga diceritakan  model  pembelajaran  di China,  semuanya dikupas  detail  oleh Omjay,  walaupun  gaya  bertuturnya  santai  tapi  kalau  pas serius,  Beliau  serius  juga  menulisnya. hal 46 s.d 49.

Saya begitu  menikmati  membaca bagian demi bagian buku  ini, dan menyerap  apa isinya. Yang menarik juga akhir tiap tulisan  Omjay menyertakan  testimoni atau komentar  murid-muridnya  di SMP Labschool. Betapa  murid muridnya  selalu  menanti "jajan" pak Gurunya  yang  sedang Short  course di China.

Selamat  Omjay,  atas terbitnya buku ini, sungguh  buku  ini menginspirasi,  memotivasi pada pembaca,  untuk  memajukan  pengetahuan dan pendidikannya untuk  Indonesia  lebih maju.


Pegiat literasi di Magetan 
Kepala SMPN 1 Takeran,   Magetan  Jatim 


Suparno, S.Pd.,M.Pd.





 



Rabu, 20 Januari 2021

Catatan Kang Woto dalam Kepemimpinanya

            Oleh : Suparno,  S.Pd.,M.Pd
                Kepala SMP 1 Takeran 
Judul buku : MENJAHIT  MIMPI  RAKYAT 
Penulis: Dr.Drs. Suprawoto, S.H.,M.Si
Penerbit: Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten  Magetan 
Cetakan pertama,  Agustus 2020
Tebal buku: 294  halaman
Harga: 

Beberapa  hari yang lalu saya dapat hadiah buku dari Bapak Bupati Magetan. Bukan saya saja yang mendapat  tapi semua  Kepala Sekolah  SMP se-Kabupaten  Magetan.

Bagi saya hadiah terbaik  adalah buku, lebih-lebih  dari penulis  ternama seperti  bapak  Dr. Drs. Suprawoto,S.H.,M.S.i yang akrab dipanggil  Kang Woto  ini.

Buku ini  merupakan  catatan  Kang Woto  dalam kepemimpinanya. Beliau  seminggu  sekali  menulis  di harian  pagi Jawa Pos.

Di Caver depan buku  ini tertuliskan "Jangan sampai anak cucu kita nanti, menanyakan apa yang telah kita kerjakan hari ini. Kerjaan  yang terbaik bagi keluarga,  masyarakat,  dan negara. Biarkan sejarah mencatatatnya."

Di bagian  awal  ada sambutan  dari  Dr. H. Sukarwo yang akrab dipanggil Pakde Karwo, dalam sambutan  itu  hanya  satu  halaman, tapi semua  kalimatnya padat bermakna. 

Dalam sambutan  itu Pakde Karwo menulis, bahwa Suprawoto  adalah sosok yang kalem, beliau  merupakan orang yang Inovatif.  Itu  kunci yang mengantarkan puncak karirnya, menjadi Sekjen  Kominfo. Sekarang  beliau  mengabdi  di kampung halaman menjadi  Bupati Magetan. 

Satu  yang  menjadi pembeda  dengan kepala  daerah yang   lain adalah kesukaannya menulis. Sesibuk apapun Suprawoto masih menyempatkan untuk menuangkan  pikirannya dalam tulisan. Catatan  beliau  lugas dan solutif.

Di alinea ke tiga  pakde mengatakan,  Bila ingin belajar  banyak dengan perkembangan Kabupaten Magetan cukup  membaca catatan Kang Woto yang berjudul  Menjahit  Mimpi  Rakyat. 

Kata pengantar  berikutnya  ditulis  oleh Dr. Suko Widodo, M.Si. seorang  pakar komunikasi politik  Unair.

Beliau menulis. Kemampuan  menulis selalu seiring  dengan kemampuan  membaca. Tradisi  membaca itulah  yang menjadikan mas Pra sebagai sosok pembelajar. Dari  kesediaan belajar itulah,  mas Prawoto memiliki  kejernihan berpikir dalam melihat  kehidupan.

Tulisan  Mas Pra mudah dicerna,  dengan bahasa  sederhana,  jauh dari teori  yang ndakik-ndakik.

Bupati yang mampu  dan rajin menulis artikel adalah sesuatu yang langka.  Bukan hanya langka  di Indonesia,  bahkan  di dunia.

Direktur  Jawa Pos  Radar  Madiun,  Ari Sudanang  juga menulis yang tidak jalah serunya dalam buku ini. 

Pandemi memang bak ombak besar menerjang  berbagai sendi kehidupan. Namun kata sebuah  pepatah: tempatnya, perjuangan,  dan kerja  keras  melewati  badai adalah guru  bijak  yang akan melahirkan murid tangguh. 

Tak ada nahkoda  tangguh tanpa catatan  kepayahan. Tanpa badai, tak ada pelaut  ulung. Sebab, perahu  tidak diciptakan bersandar  di pelabuhan. Tapi untuk  mengarungi  luasnya  samudra. 

Dan Nahkoda  tangguh itu kini tengah berlayar di Magetan.  Agar perahu  tidak salah arah,  sang nahkoda Suprawoto,  memetakan  wilayahnya lewat buku Menjahit  Mimpi  Rakyat. 

Seperti  yang dikatakan  Pakde,  bahwa tulisan Kang Woto lugas dan solutif,  hal  ini seperti  yang ditulis dibuku  ini, pemikiran  Beliau setiap  rumah  sakit memiliki  centre excellence atau unggulan, misalnya  di RSUD Magetan  untuk  Ibu dan Anak, di RSUD Ngawi untuk  jantung,  Kabupaten  Madiun syarat,  RSUD Ponorogo  Bedah, dsb. 

Sehingga nantinya  kalau  ada masyarakat yang memerlukan pelayanan  subspesialis tidak perlu  ke Surabaya ( hal. 3)

Misalnya lagi penempatan  bidang Pariwisata dari dinas pariwisata dab kebudayaan di Sarangan,  sehingga  setiap  persoalan yang kecil  saja sudah diketahui  sejak awal dan akan segera mendapatkan penanganan yang semestinya. (hal.7)
Dan di setiap  bagian dari buku  ini selalu  begitu,  lugas dan solutif. 

Saya sangat menikmati membaca bagian demi  bagian buku ini, menyerap bagian-bagian yang saya butuhkan.

Di buku  ini pemikiran  penulis  untuk  membangun  Magetan semuanya  ada di sini seperti  membangun  dan menata Sarangan  yang merupakan  ikan Magetan. Penulis mengibaratkan kita memiliki  gadis yang sebenarnya cantik, namun belum di make over seperti  kalau  kita lihat  di TV. ( hal.24)

Yang paling saya  senangi dari buku  ini adalah  ajakan menulis,  karena sejak kecil  saya senang  menulis,  tapi tidak tahu  manfaatnya.  Saat  itu  yang saya tahu dapat Hr dari  majalah.  Di buku  ini tidak sekedar  itu, dengan menulis  nama kita akan dikenang  sepanjang  masa, dengan menulis  karir  kita  akan bagus  seperti  Pak Anton Tabah  walaupun tidak dari akademi  kepolisian  tetapi bisa  menjadi Kapolres,  yang seharusnya itu  jobnya  alumni  Akademi Kepolisian. Karena tulisan  beliau  yang selalu  membela polisi  dan pengaruh tulisan  beliau yang mencerahkan .  ( hal.87).

Ibu Kartini  itu  hebat karena tulisannya,  oleh sebab  itu  kemudian  dikenang  sepanjang  sejarah.  

William  Shakespeare yang menulis  roman antara  1591-1595 Romeo dan Juliet sampai  dengan sekarang namanya  tetap  dikenang  karena tulisannya. 
Sastrawan kondang  Pramoedya Ananta Toer, "Orang  boleh pandai  setinggi,  tetapi selama ia tidak menulis,  ia akan hilang di dalam masyarakat  dan dari sejarah,  Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Oleh  sebab itu, sekarang  mari  kita menulis. (hal.89)

Di halaman 149, memilih  kuliah,  penulis menceritakan  strategi  memilih  perguruan  tinggi hingga  memilih  fakultas  di perguruan  tinggi  itu. Dimulai  dari cerita melanjutkan  kuliah di SKY University  yang merupakan  Universitas  Top di Korea Selatan. 

Universitas  ini masuk di bawah 100 Universitas terbaik  dunia versi  QS World  University Rankings. Sedangkan Universitas  terbaik Indonesia masih di atas ranking 600.
Calon mahasiswa  yang gagal masuk PT ini ada yang sampai  bunuh  diri. 

Yang menarik  lagi keluarga  menengah  di Korsel , hampir  tiga perempat  gajinya untuk  pendidikan  anak-anaknya. (hal 150)
Hal ini betapa  menunjukkan  orang-orang di sana  menempatkan  pendidikan  sebagi investasi terpenting  di sana. 

Berdasarkan  pengalaman  penulis  memilih  perguruan  tinggi, maka kalau bisa diterima di perguruan  tinggi  Top sesuai keinginan  alhamdulillah,  namun sebaliknya  kalau  seandainya  tidak diterima  di Universitas  dan fakultas  mainstream bukan kemudian  kiamat  dan lantas bunuh  diri. Evaluasi  kemampuan  dan persiapan lebih baik 

"Luwih becik  dadi ndas pitik  tinimbang dadi buntut gajah." Lebih baik  menjadi  mahasiswa  perguruan  tinggi  menengah namun menjadi  mahasiswa  teladan dari pada nanti tidak selesai di universitas  top misalnya. 

Kalau ada perguruan  tinggi yang cukup  baik  di daerah,  mengapa tidak kukiah di daerah. Nanti bila melanjutkan bisa ke luar, malahan  ke luar  negeri. ( hal. 153).

Dalam buku  ini juga ada tulisan  menggunakan bahasa  Jawa, seperti  Nulis nganggo basa Jawa (pranyata luwih angel. Ora percaya?) ( hal. 167)
Kemudian dongeng  Kancil  ( hal.173).
Hebatnya  lagi penulis mengajarkan  kepada  anak-anaknya untuk  menggunakan  bahasa Jawa dalam  komunikasi  keluarga,  walaupun penulis dan anaknya  memiliki  pergaulan  tingkat  internasional. Karena  penulis  berpikir  ditakdirkan  sebagai  orang Jawa. ( hal. 176)

Selanjutnya  silahkan  menikmati sajian  dalam  buku  ini  seperti  minum secangkir  teh, secara keseluruhan buku ini adalah seteko  minuman yang menginspirasi  , memotivasi dan membuka wawasan . Satu  cangkir  kita sruput habis, kita tuangkan lagi dari teko sambil  kita serap makna  mulia  yang terkandung  di dalamnya. 

Segera  miliki  buku  ini, baca dan serap  maknanya selanjutnya  diterapkan  dalam kehidupan nyata. 




Magetan,  21 Januari  2021












Tips menulis dan menerbitkan buku

sumber ilustrasi: GWA  menulis 

Suasana Magetan  sejak pukul 17.00 hujan rintik-rintik , membuat dinginnya  semakin bertambah. Tak ada aktivitas  yang lebih penting  bagiku selain menulis. 

Habis isak tadi menulis  artikel  berjudul  Perpustakaan keluarga.  Kemudiaan  menengok  GWA menulis,  ternyata  Cak Inin sudah dandan ganteng  menjadi  narasumber  malam ini.

Tema yang diangkat  adalah "menulis dan menerbitka buku ke penerbit."

Cak Inin selain penulis  juga menjadi penerbit,  juga guru  di salah satu SMP di Lamongan. Tulisannya enak  dibaca,  mengalir, sedikit kenyal,  manis, seperti  wingko Babat Lamongan.

Mulai ikut belajar menulis  29 Maret s.d. Desember 2020, di gelombang 3 seangkatan saya.  Yang telah terbitkan 2 buku solo: 
1. 55 Pantun Nasihat diterbitkan kelompok Majas Bojonegoro. 
2. Jurus jitu Menjadi Penulis Andal Bersama Pakar diterbitkan KAMILA PRESS LAMONGAN 

dan 8 buku karya bersama ( Antologi)

Dalam menerbitkan buku-buku tersebut bagi penulis pemula diperlukan :

1. Diperlukan sebuah keberanian dan tekad yg kuat untuk mempublikasikan tulisan dg harapan berbagi pengalaman. Tanpa niat yang kuat maka tidak akan terbit buku kita. Karena menulis itu bukan  karena bakat tetapi karena niat kuat untuk menulis dan terus menulis dan terus berlatih. 

2. Kita harus berpola pikir  bahwa menulis itu mudah. Jangan berkata menulis itu sulit. Dengan berkata menulis itu mudah maka otomatis pikiran dan hati kita diberi kemudahan. Kalau dibalik menulis itu sulit maka terhentilah pikiran dan hati kita untuk menulis bahkan akan mengalami kebuntuan. Karena terpola. Percayalah ucapan adalah doa.

Ada yang mengatakan menulis itu semudah bicara. Memang benar, Anda bicara lalu direkam dengan hp (Writter plus atau  Color Note ) langsung terekam tinggal edit saja maka jadilah tulisan.

Maka tulislah apa saja  yang kita dengar, kita lihat, kita baca dan kita rasakan.

Maka tulislah apa saja  yang kita dengar, kita lihat, kita baca dan kita rasakan.

3. Kenali pasion Anda ( potensi Anda) apakah suka menulis buku bisnis,  agama, pendidikan, fiksi ( cerpen, novel, roman, IT, motifasi dll. Dengan mengenali potensi Anda maka akan mempermudah Anda untuk menulis.

Sehebat apapun potensi Anda tanpa diasah dan berlatih terus maka sia-sia.   Dengan demikian kita terus berlatih menulis dan menulis.

4. Banyak membaca. 
Untuk menjadi penulis buku bisa diperoleh melalui pengalaman dan pengetahuan dengan banyak membaca buku wawasan kita akan bertambah dan bisa kita tulis menjadi buku yg menarik

Bapak ibu guru hebat yg saya hormati selanjutnya Langsung action parktik menulis apa saja yg Anda  suka lalu simpan di blog pribadi. Bisa berupa resume kuliah online bersama Om Jay, puisi, cerpen, artikel, kisah perjalanan, motivasi dll.

3. Tampilkan tulisan Anda  dengan ciri khas  gaya sendiri ( trade Mark), Karena setiap orang punya style. 

4. Jangan membatasi jumlah halaman, mengalir saja, tulislah sebanyak-banyaknya. Jangan menulis sambil mengedit. Tulis saja sampai selesai baru kita edit Sampai benar-benar bagus sesuai dg EYD / EBBI.

5. Mempelajari bagaimana buku itu diterbitkan. 
a. Bagaimana membuat cover buku, 
b. Bagaiman Judul yang menarik perhatian pembaca
c. Apa saja yg harus dikirim ke penerbit dari naskah / tulisan kita menjadi buku.

6. Siapkan kata pengantar
7. Daftar Pustaka
8. Biodata penulis
9. Sinopsis untuk cover buku bagian belakang berisi, inti dari isi buku kita,  kelebihan buku kita dan untuk promosi)
10. Semua jadikan 1 file kirim ke ke penerbit lwt email dan lwt Wa.

Bapak ibu guru yg hebat mari kita mengenal penerbit. Ayo Melek Penerbit Buku 
 ( Penerbit Mayor dan Penerbit Indie ) 

Oleh = Mukminin

Bapak ibu sekalian yg hebat, penerbit buku ada macam. Pertama penerbit Mayor dan kedua penerbit Indhie. Apa perbedaanya? mari kita ikuti uraian berikut ini  : 

1.  Jumlah Cetakan di penerbit mayor. 

# Penerbit mayor  mencetak bukunya secara masal. Biasanya cetakan pertama sekitar 3000 eksemplar atau minimal 1000 eksemplar untuk dijual di toko-toko buku.

#Penerbit indie : hanya mencetak buku apabila ada yang memesan atau cetak berkala yang dikenal dengan POD ( Print on Demand) yang umumnya didistribusikan melalui media online Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, WA grup dll.


2.  Pemilihan Naskah yang Diterbitkan

# Penerbit mayor : 

Naskah harus melewati beberapa tahap prosedur sebelum menerbitkan sebuah naskah. Tentu saja, menyambung dari poin yang pertama, penerbit mayor mencetak bukunya secara masal 1000 - 3000 eksemplar. Mereka ekstra hati-hati dalam memilih naskah yang akan mereka terbitkan dan tidak akan berani mengambil resiko untuk menerbitkan setiap naskah yang mereka terima. Penerbit mayor memiliki syarat yang semakin ketat, harus mengikuti selera pasar, dan tingginya tingkat penolakan.

# Penerbit indie : 

Tidak menolak naskah. Selama naskah tersebut sebuah karya yang layak diterbitkan; tidak melanggar undang-undang hak cipta karya sendiri, tidak plagiat, serta tidak menyinggung unsur SARA dan pornografi, naskah tersebut pasti kami terbitkan. Kami adalah alternatif baru bagi para penulis untuk membukukan tulisannya.

3.  Profesionalitas

# Penerbit mayor : 

Penerbit mayor tentu saja profesional dengan banyaknya dukungan SDM di perusahaan besar mereka.

# Penerbit indie : kami pun profesional, tapi sering disalah artikan. Banyak sekali anggapan menerbitkan buku di penerbit indie asal-asalan, asal cetak-jadi-jual. Sebagai penulis, harus jeli memilih siapa yang akan jadi penerbit Bapak Ibu dan Saudara-saudara. Jangan tergoda dengan paket penerbitan murah, tapi kualitas masih belum jelas. Mutu dan manajemen pemasaran buku bisa menjadi ukuran penilaian awal sebuah penerbitan. Kadang murah Cover kurang bagus, kertas dalam coklat kasar bukan bookpaper ( kertas coklat halus). Kami jaga mutu Cover bagus cerah mengkilat isi buku kertas cokal halus awet ( bookpapar).

4.  Waktu Penerbitan

# Penerbit mayor : 

Pada umumnya sebuah naskah diterima atau tidaknya akan dikonfirmasi dalam tempo 1-3 bulan. Jika naskah diterima, ada giliran atau waktu terbit yang bisa cepat, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Karena penerbit mayor adalah sebuah penerbit besar, banyak sekali alur kerja yang harus mereka lalui. Bersyukur kalau buku bisa cepat didistribusikan di semua toko buku. Namun, jika dalam waktu yang ditentukan penjualan buku tidak sesuai target, maka buku akan dilepas oleh distributor dan ditarik kembali oleh penerbit.

# Penerbit indie :
 Tentu berbeda kami akan segera memproses naskah yang kami terima dengan cepat. Dalam hitungan minggu bukumu sudah bisa terbit. Karena memang, kami tidak fokus pada selera pasar yang banyak menuntut ini dan itu. Kami menerbitkan karya yang penulisnya yakin karya tersebut adalah karya terbaiknya dan layak diterbitkan sehingga kami tidak memiliki pertimbangan rumit dalam menerbitkan buku.

5.  Royalti

# Penerbit mayor : 

kebanyakan penerbit mayor mematok royalti penulis maksimal 10% dari total penjualan. Biasanya dikirim kepada penulis setelah mencapai angka tertentu atau setelah 3-6 bulan penjualan buku.

# Penerbit indie : 

umumnya 15-20%  dari harga buku. Dipasarkan dan dijual penulis lewat fb, Instagram, wa grup, Twitter, status, dll

6. Biaya penerbitan

# Penerbit mayor : 

Biaya penerbitan gratis. Itulah sebabnya mereka tidak bisa langsung menerbitkan buku begitu saja sekalipun buku tersebut dinilai bagus oleh mereka. Seperti yang sudah disebut di atas, penerbit mayor memiliki pertimbangan dan tuntutan yang banyak untuk menerbitkan sebuah buku karena jika buku tersebut tidak laku terjual, kerugian hanya ada di pihak penerbit. 

# Penerbit indie : 

Berbayar sesuai dg aturan masing-masing penerbit. Antara penerbit satu dengan yang  lain berbeda. Karena pelayanan dan mutu buku yg diterbitkan tidak sama.
[20/1 19:43] OM JAY: Contoh penerbit mayor adalah Gramedia Pustaka Utama, Mizan, Republika, Grasindo, Loka Media, Tiga Serangkai, Bentang Pustaka, Erlangga, Yudhistira,  Andi Yogyakarta dan lain sebagainya.



KAMILA PRESS LAMONGAN sbg penerbit Indhei  melayani cetak buku , jasa lengkap dg jasa desain cover buku,   Lay out,  editing dan ISBN. Jasa Penerbitan KAMILA PRESS LAMONGAN dengan harga terjangkau ( harga terlampir ). 

Penerbitan saya  melayani seluruh Indonesia. Alhamdulilah dalam tahun 2020 sebagai penerbitan tahun perdana yg berjalan mulai  September s.d Desember 2020 telah menerbitkan 20 buku dari teman2 guru dari pulau Jawa, NTT, Kalimantan, dan Sumatera. 


Jan 2021 Minggu pertama  menerbitkan 8 buku dan cetak ulang 4 buku dari bbrp penerbit lain. 

Minggu kedua Januari 2921 alahamdulillah mengerjkan 9 buku 4 sdhnturun ISNB yg lima proses. Smg lancar 

Boleh  cetak ulang di Penerbit saya yg penting itu penulisnya Bpk Ibu dg syarat ada file cover buku dan 1 file lengkap naskah buku. ( Harga terlampir). 


# Syarat-syarat penerbitan di KAMILA PRESS LAMONGAN:

1. Kirimkan naskah lengkap mulai judul, kata pengantar, daftar isi, naskah lengkap sesuai urutan daftar isi, daftar pustaka, biodata penulis dg fotonya dan Sinopsis ( ditempatkan di cover belakang). Kalau ada Endors dari pakar ( orang ahli).

2. Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran fon 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan huruf 
Arial, calibri atau  Cambria dan masukkan dalam 1 file kirim ke WA sy atau email gusmukminin@gmail.com

3. Untuk judul dan Cover. 

a. Untuk judul kalau kurang pas saya membantu mengusulakan kpd Bpk Ibu judul yang menarik. 

Cover buku: 

b. Cover buku boleh  sdh Bpk ibu buat kami tinggal poles biar cantik dan menarik dg kesepakan Bpk ibu. 

c. Cover minta kami buatkan. Siap. 
Bpk ibu silakan kirim  judul, nama penulis lengkap dg gelar, kata pengantar dari siapa. Minta warna apa, boleh ada ada foto penulis atau gbr yg lain
Suka-suka. 

Contoh :
Fasilitas di Penerbit KAMILA PRESS LAMONGAN

Selain mendapat fasilitas buatkan cover buku, layout, edit dan ISBN penulis juga dapat PO ( Pre Order ) buku / promo buku dg harganya serta dapat sertifikat dari penerbit yg kerja sama dg pencetakan.

Demikian Bapak ibu guru hebat. Mohon maaf atas kekuranganya. Kalau itu baik dan benar datangnya dari Allah semata, kalau itu salah maka itu kesalahan saya.

* Menulis itu mudah,  ayo terus menulis 

* Tiada kata terlambat untuk menulis, tulislah segera apa yang  Anda suka, Anda dengar, Anda lihat, Anda baca dan Anda rasakan untuk berbagi kebaikan ( Cak Inin 2020) 

* Torehkan penamu dari hikmah jejak  kakimu, siapa tahu itu jadi penolongmu ( Cak Inin 2020) 

* Kalau kamu ingin panjang umurmu, maka Menulislah ( Cak Inin 2020) 

( Buku Jurus Jitu Menjadi Penulis Andal Bersama Pakar )

Pak Miftah pertanyaan yg bagus sekli. 

Syarat buku utk diterbitkan, naskah buku  tersebut bermanfaat bg orang banyak tidak melanggaaar sara, naskah buku boleh  dari karya ilmiah yg dijadikan buku dan naskah  nonilmiah. 

Utntuk biaya penerbitan mhn dibuka di info harga dia atas

2. Ketik  A5 ukurannya 14,8 x 21 cm, spasi 1,15 ukuran fon 11 dan margin kanan 2 cm, kiri 2 cm, atas 2 cm dan bawah 2 cm. Gunakan huruf 
Arial, calibri atau  Cambria dan masukkan dalam 1 file kirim ke WA sy atau email gusmukminin@gmail.com

Demikian guru  hebat  di seluruh  Indonesia,  yang penting menulis,  jangan menoleh kebelakang , maju terus pantang mundur,  mari kita kampanyekan perang melawan malas,  perang melawan kebodohan,  dengan senjata  membaca  dan menulis,  agar  kita merdeka  dari  keterbelakangan dan  kebodohan. Selamat  mencoba.


Perpustakaan Keluarga


sumber ilustrasi: dokumen  pribadi.

"Selamat  malam Bapak,  artikel  ini menginspirasi  agar  kita juga punya  perpustakaan  pribadi, walaupun jumlah bukunya  tidak  sebanyak  Bapak, karena  buku  menjadi teman yang paling tenang,  bijak, dan bahkan  sabar dalam mengajar."

Kalimat diatas  merupakan  komentar saya atas tulisan Bapak Bupati Magetan  yang dimuat  di Jawa Pos, 20 Januari 2021, yang berjudul  Perpustakaan  Pribadi.

Bapak Bupati  Magetan  yang akrab dipanggil  Kang Woto ini, memang  tokoh  yang suka menulis , suka membaca, suka beli buku  bahkan punya  Perpustakaan pribadi.
Perkiraan  judul koleksinya  ada 5000 judul. 

Saya terinspirasi  ingin menghitung  jumlah buku  saya, di rak bifet  warisan  dari  bulik  saya, yang saya abadikan  dan saya rawat  sebagai  tempat  buku. Tempat  ini saya beri  nama Perpustakaan  keluarga.

Hasil hitungan  saya ternyata  hanya 204 buku. Jumlah  yang tidak sebanding,  ada beberapa  buku  saya yang dipinjam teman  sampai sekarang  tidak  dikembalikan,  dan bahkan ada beberapa  buku  saya yang dimakan rayap. Karena  membuat  rumah,  belum  punya  tempat  buku.

Sejak kecil  saya memang  mencintai buku,  waktu  kelas 3  SD saya diantarkan oleh Ibu  saya ke Kota Magetan,  ada toko buku  namanya "Lumintu". Saya minta dibelikan  buku  judulnya  Bahasa Kita. Kelas  5 juga  minta  diantar ke toko  yang sama judul  bukunya PMP yang diterbitkan  percetakan IKIP Malang. 
Rasa senang hatiku tak terlukiskan  dengan kata-kata.  Berbunga-bunga, melebihi  rasa cinta pertama. 

Di SMP kelas 1 saya beli buku lengkap ke toko Amin Madiun,  naik sepeda  dengan Mas Yitno, saudara  saya yang kebetulan kakak kelas saya di SMP 1 Maospati. Sepulang  dari Madiun sampai Jiwan saya diajak beli sate. Nikmatnya  tak terbayangkan saat  itu.

Bagi  seorang pecinta ilmu  pengetahuan  buku  memang  memiliki  kedudukan  yang tinggi,  karena  buku  berisi  kumpulan  pengetahuan yang diabadikan.

Dr. Ngainun Naim menulis, buku buku itulah yang telah memberi saya    energi  untuk  terus belajar,  dengan buku saya menjadi manusia  yang tidak tahu. Karenanya  saya harus berusaha dengan  terus membaca,  meskipun kesempatannya sangat  minim.

Buku  demi buku yang terus menambahkan koleksi menjadi energi  untuk  belajar. 

Buku demi buku  adakah sarana untuk  mendulang  energi menulis. Membaca yang dilakukan secara  rutin  merupakan sumber energi  menulis  yang melimpah.  Jika tidak  pernah membaca   jangan  berharap bisa menghasilkan tulisan  yang baik. ( Naim, 2019,28)

Oleh  karena itu  hasrat  membaca harus terus dikampanyekan agar masyarakat  memiliki pengetahuan  yang tak terbatas  hanya dibangku  sekolah saja. 

Lebih  lebih kalau murid  selama  2 tahun dalam  kondisi  pandemi,  kalau  tidak suka  membaca,  maka  jauh  dari kurang pengetahuannya untuk  bisa seperti  negara negara  maju. 

Kemajuan  literasi  Indonesia adalah nomor  60 dari 61 negara  yang dijadikan  sampel  penelitian.  Oleh  karena  itu  guru  harus menjadi edukator , inspirator  dan motivator dalam membaca  dan menulis buku. 

Saya memulai  semampu  saya, tiap  hari  menulis,  tulisan saya ada di blog. Maksimal  3 bulan saya menerbitkan  1 judul buku. 

Dari  buku  saya   ada yang dibeli pembaca,  ada yang  saya barter  dengan penulis lain.  Akhirnya  menambah koleksi  buku  saya. Senang rasanya  apabila  bisa  menulis buku. Senangnya  tidak bisa  dirasakan  oleh yang belum  menulis buku.
Seperti  lezatnya kurma, hanya orang  yang  pernah  merasakan  saja, yang tahu betapa  lezatnya.

Magetan,  20 Januari  2020.

Sumber  Bacaan
Jawa Pos, 20 Januari  2021

Ngainun Naim, Spirit  Literasi, Tulungagung:Akademia  Pustaka, 2019