Sabtu, 28 Oktober 2023

Ahad Pagi bersama Kyai Paimun

Ibrahim bin Adam dari basah ditanya masyarakat  mengapa bertahun tahun ibadah kok tidak dikabulkan  Allah 

Beliau menjawab 
1. Karena sholatnya tidak tertib
Ketika kita sholat  iblis merasa panas
Puasa  senin kamis itu membentuk tajam 
2. Tidak membaca Al Qur'an 
3. Mengetahui  iblis sebagai musuhnya tapi malah diikuti. 
Kalau kita haji iblis gila, kita sholat  iblis panas.  
Kalau umat  Nabi. Embaca al Qur'an  iblis nerasa seperti disiram cairan  timah yang mendidih. 

Kalau kita baca istighfar  setan lari jauh. 

Kalau umatku shodaqoh  iblis seperti  digergaji dipotong potong. Ora iklas gak papa sibg penting  mengeluarkan. Lama lama iklas
Fadilah shodaqoh terjaga barang yang di rumah.  

 Bershodaqohlah hingga kaya. Minimal shodaqoh dengan senyum. Senyum adalah shodaqoh  , senyum itu sehat.  
Harta yang dishodaqohkan  nebjadi hijau antara api neraka dengan orang yang shodaqoh.  

4. Ashodaqotul lil dafil bala. 

4 kita menyatakan cinta rosul tapi kita jauh melaksanakan  sunah rosul.  

Jumat, 27 Oktober 2023

doa

Berilah kepada kami  kepahaman ilmu pengetahuan.    Berikanlah kemudahan  untuk mempelajarinya  dan kelancaran dalam mengamalkannya

Berikanlah  pendidikan  di Kabupaten  Magetan  tambah maju dan semakin terdepan

Berikanlah  kepada kami keberkahan atas apapun  yang kami lakukan. 



Rabu, 04 Oktober 2023

Armusna

Seperti biasa saya kalau pagi berjabat tangan dengan anak-anak  dipintu gerbang sekolah  sambil  menyaksikan sibuknya masyarakat  Parang di pagi hari. Udaranya sejuk karena banyak pepohonan hijau di sini. 

Sekarang  tanahnya subur  masyarakat  bisa menanam  jagung dimusim kemarau. Kok bisa? Karena majunya teknologi  di sini banyak sumur sibel  yang siap mengairi sawah. 

Dulu masyarakat  kalau mandi disungai, sekarang  dirumah rumah  sudah ada kamar mandi.
"Dulu menjadi bahan ejekan anak-anak  parang  Kalau sekolah  pagi tidak mandi", kata temenku  Kayubi KS SDN  Mategal 1 ini.
Sekarang  dunia berubah ; kehidupan  masyarakat  sudah makmur.  

Jadi ingat Pak Haji Syamsudin, kami bertemu di Makkah. Beliau sedang duduk istirahat  sambil berdzikir  kudekati  beliau  dan kami berkenalan. 

Ternyata beliau pakdenya bu Munir  Guru  SMP 1 Parang, dimana saya bertugas. 

Banyak orang Parang yang menunaikan  ibadah haji. Ketika aku masih kecil  yang naik haji itu hanya orang Kedungguwo. Banyak orang kaya di sana. 

Tapi haji itu bukan karena kaya, bukan karena sehat, bukan karena pinter agama. Akan tetapi karena panggilan  Allah. 

Oleh karena itu  di sana banyak yang menangis, menangis karena bersyukur. Merasa disayang  dan dipilih Allah untuk  menjadi tamunya. 

Disana dikasih  suguhan macam  macam sampai tak termakan.  Disana hanya ibadah, makan  dan istirahat. 

Mereka saling menyayangi  saling ikrom (ngladeni) temannya, tak  ada saling menghina, menyalahkan, merendahkan.  

Saya pikir kondisi  hubungan masyarakat  seperti  itu yang menjadi mimpi kita bersama.   

Ketika di Arofah banyak cerita indah.  Saya dapat memilih tempat  tidur  dimana saja. Karena saya datang awal. Di Muzdalifah yang banyak diberitakan  orang paling berat.  


Saya ditolong Allah diberi kemudahan.  Sebelum subuh saya bisa masuk bus.
 
"Ayo mi segera antri  agar bisa segera naik bus " Kataku pada istri. 

Dia didepanku  entah sesuatu  hal Dia merasa didorong  orang  sehingga  jauh meninggalkan  Aku. Dia sering menoleh ke arahku , mungkin takut kalau berpisah . Dalam antrian  Aku banyak mengalah. Kalau disalip orang  ya saya persilahkan.  

Disini adalah dataran luas  yang diisi manusia  dari berbagai penjuru dunia. Saya berpikir besuk dipadang Makassar kita ya seperti ini. Tanpa busana, tanpa alasan kaki dan matahari  sepenggalan  di atas kepala kita. Panas sekali, diceritakan keadaan orang-orang  sampai tergenang keringat.  Ada yang sebatas mata kaki, ada yang sebatas bahu, bagaimana kalau sampai tenggelam.  Naudzubillah min dzalik.

Jam 03.00 saya naik Bus. "Duduk sini Bi" istriku sudah menyiapkan  tempat duduk di bus. Kadang istriku memanggilku  Abi, menirukan  anakku yang kecil  karena dulu  sekolahnya di Playgrup hingga TK Islam. Sejak dulu hungga sekarang kalau memanggilku dengan sebutan "Abi".

Disepanjang  perjalanan  kami berdoa berdzikir  mensyukuri  atas apa saja yang diberikan Allah. Sambil mengenang masa lalu, "anak espege kok bisa naik haji".

Ternyata  antrian di Muszdalifah itu hingga  jam 13.00 siang.  Panasnya 44 derajat celcius. Hingga saya dengar ada 2 orang yang meninggal  dan ada beberapa yang hilang hingga  pulang haji itu tidak diketemukan.

Bersambung ya.....